BERITA INDUSTRI

Butuh Keseriusan Ekstra


Senin, 25 Agustus 2014

Sumber: Jurnal Nasional

Jakarta | Jurnal Nssionai

KONVERSI bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) seharusnya sudah berjalan mulus jika serius dilakukan oleh pemerintah dan industri otomotif.

Misalnya, kesiapan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan produksi mobil CNG full dedicated. Kenyataanya, hlngga saat ini SPBG yang tersedia hanya 19 unit di Jakarta, Surabaya, dan Palembang.

Oleh sebab itu, tidak heran kalau saat ini masyarakat dipusingkan dengan pengurangan BBM subsidi kendaraan sebab alokasi subsidi BBM dalam APBN membengkak. Misalnya, pembatasan BBM subsidi di SPBU di sejumah ruas tol, kawasan DKI Jakarta, dan beberapa wilayah. Pemerintah berikutnya pun memiliki pekerjaan rumah (PR) soal keputusan menetapkan harga BBM subsidi.

Peraturan Presiden No.64/2012 memberikan amanat bagi Kementerian Perindustrian untuk penyediaan dan pemasangan konverter kit melalui badan usaha. Perpres tersebut ditindaklanjuti dengan Pemenperin No.70/2012, yang mengharuskan persyaratan teknis dan memiliki kualifikasi, kompetensi teknologi, dan SDM untuk memproduksi konverter kit.

Direktur Industri Alat Angkut Transportasi Darat, Kemenperin, Suryono mengatakan pemasangan konverter kit bergantung pada kesiapan SPBG dalam pasokan gas. "Tahun ini, pengadaaan dan pemasangan konverter kit ditunda," katanya terkait kesiapan industri otomotif dalam mendukung konversi BBM ke BBG, Jumat (22/8).

Tapi pemakaian konverter kit pada kendaraan, nampaknya tidak semulus yang dibayangkan. Kendalanya, ketersediaan SPBG dan mobile refuelling unit (MRU) yang masih terbatas jumlahnya. Untuk angkutan taksi, pemakaian BBG malah tidak ekonomis.

Selain itu, ada hambatan psikologis dari konsumen dengan pemasangan konverter kit, yakni masalah keamanan penggunaan alat tersebut. Hati konsumen belum nyaman dengan konverter kit, bila mengingat ledakan konverter kit pada kendaraan yang terjadi di Jakarta. Di Korea sekalipun, misalnya, negara yang memiliki industri otomotif sangat maju, terjadi ledakan konverter kit pada kendaraan beberapa kali.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Nugardjito mengatakan masih banyak konsumen yang ragu dengan keamanan kendaraan yang dipasang konverter kit. "Banyak yang masih khawatir dengan konverter kit, takut ledakan seperti yang sudah terjadi," katanya.

Oleh karena itu, pilihan yang bisa memenangkan hati konsumen kendaraan yaitu, dengan produksi kendaraan BBG. Juga komitmen menambah jumlah SPBG dan fasilitas MRU di sejumlah kota besar seperti di Medan, Palembang, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

Menurut dia, anggota Gaikindo siap memproduksi kendaraan BBG dual fuell (BBM dan. BBG), bahkan BBG (CNG full dedicated), jika sudah didukung infrastruktur SPBG. Jika ada kebijakan pengembangan SPBG, industri otomotif butuh setahun hingga dua tahun untuk memproduksi kendaraan BBM.

Data Gaikindo menyebutkan, produksi kendaraan hing-ga 2015 mencapai 1,610 juta unit dengan nilai Rp225.400 triliun. Produksi kendaraan akan terus meningkat hingga tahun 2020 dan 2025 mencapai 2,593 juta unit dan 4,177 juta unit kendaraan.

Untuk pasar dalam negeri, hingga tahun 2013 telah mencapai 1,229 juta unit. Bahkan pada semester I 2014, penjualan kendaraan di dalam negeri telah mencapai 733.716 unit. Dengan perbandingan konsumsi BBM untuk gasoline 975.362 unit dan diesel 254.449 unit atau 79,3 persen dan 20,7 persen dari total penjualan kendaraan pada 2013.

Data SKK Migas 2012 menyebutkan, konsumsi energi sektor transportasi meningkat kisaran 6,2 persen per tahun dari 139 juta SBM pada 2000 menjadi 256 juta SBM pada 2010. Konsumsi energi diperkirakan meningkat 4,3 kali lipat dari kebutuhan pada tahun 2030 seiring pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan produksi miyak yang terus menurun kisaran di bawah 900 ribu barel per hari (bph).

Mamit Setiawan, Direktur Eksekutif Watch mengatakan kebutuhan sektor energi transportasi lebih besar dibandingkan sektor lain. "Ini karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor, bahkan konsumsi energi di sektor transportasi hampir 99 persen berupa BBM," katanya.

Kondisi ini tidak selaras dengan produksi minyak mentah yang terus menurun. Pada 2012, realisasi produki minyak sebesar 860 ribu bph atau 92,5 persen dari target APBN-Perubahan sebesar 930 ribu bph.

Menurut dia, konversi BBM ke BBG harus dapat dilakukan sinergi dan paralel antara pemerintah, Agen Tunggal Pemegang Merek (ATMP) dan Perusahaan Gas Negara (PGN). "Kementerian Perindustrian diharapkan mampu membuat peraturan wajib agar ATPM memproduksi mobil dual fuell (BBM dan BBG)," katanya.

Melihat peningkatan jumlah kendaraan dan rendahnya produksi minyak mentah, maka saatnya konversi bahan bakar dilaikukan lebih serius. Untuk itu, butuh komitmen kuat semua pihak mempercepat konversi bahan bakar, termasuk pembangunan SPBG oleh PGN. Bila tidak, masyarakat akan selalu dihadapkan persoalan penantian kenaikan harga BBM, termasuk efeknya pada inflasi harga bahan pangan. Sebab sampai kapan terus menerus mengucurkan uang rakyat dalam APBN untuk habis dan menguap dalam emisi karbon monooksida (CO), padahal semestinya subsidi BBM itu bisa dialinkan membangun infrasrruktur BBG.

Share:

Twitter