BERITA INDUSTRI

Jabar Jantung Industri Nasional


Senin, 21 Juli 2014

Sumber: Koran Jakarta

BANDUNG – Pemerintahan baru perlu memperkuat potensi sektor industri di Jawa Barat (Jabar) karena kontribusi Jabar dari sektor industri sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah industri terbanyak.

Dari 74 kawasan industri yang tersebar di Indonesia, 40 di antaranya berlokasi di Jabar. Dari sisi luasan wilayah, dari 31.000 ha luas industri di Tanah Air, 23.000 ha di antaranya berada di Jabar.

“Jadi, bisa dibilang Jabar merupakan jantung industri nasional dengan mengendalikan lebih dari 50 persen kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional,” kata Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Jabar, Agung Suryamal Sutisno, di Bandung, akhir pekan kemarin.

Berkat sektor industri inilah, kata dia, Jabar menjadi penyumbang produk domestik bruto (PDB) ketiga terbesar atau mencapai 14,07 persen setelah DKI Jakarta (16,40 persen) dan Jawa Timur (14,88 persen).

Kendati Jabar memegang kendali sektor industri nasional, tidak berarti provinsi ini telah terbebas dari ancaman yang bisa melumpuhkan aktivitas industrinya. Salah satu masalah saat ini ialah soal infrastruktur yang memang telah menjadi isu klasik. Namun, dengan daerah potensial seperti Jabar, pemerintah lebih sigap menciptakan pembangunan. Hal itu dimaksudkan agar masalah tersebut tidak menjadi kendala bagi Jabar untuk terus memberikan sumbangsih sektor industrinya bagi perekonomian nasional.

Agung meyebutkan bahwa masalah infrastruktur masih menjadi kendala utama di Jabar. Belum tersedianya pelabuhan laut serta pelabuhan darat (bandara) sangat memengaruhi gerak distribusi produk dan komponen pendukung dunia usaha.

Masalah itu kian lengkap jika menilik krisis pada sektor energi, sistem teknologi pada industri yang masih didominasi oleh teknologi rendah, dan industri perakitan sehingga negara tujuan ekspor tidak mengalami perubahan.

Hal lain ialah perkembangan industri penyedia barang antara sehingga kebergantungan pada impor (termasuk impor bahan baku) dapat dikurangi (memperhatikan resistensi fluktuasi kurs).

Akibatnya, perkembangan sejumlah lapangan usaha di sektor industri pada awal tahun 2014 mengalami penurunan. Misalnya, industri percetakan turun 10,8 persen, industi tekstil minus 8,3 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia turun 2,2 persen, industri peralatan listrik turun 2,2 persen, serta industri barang galian bukan logam turun 2 persen.

“Persoalan-persoalan tersebut sangat serius. Kami berharap kepada presiden yang baru untuk memperkuat industri di Jabar. Kami tidak menuntut yang lebih. Kami hanya meminta peran nyata pemerintah untuk mengatasi masalah industri di Jabar demi optimalisasi kontribusi kami terhadap bangsa,” ungkapnya.

Perlu Proteksi

Sementara itu, Ketua Forum Ekonomi Jabar, Jajat Priatna Purwita, berpendapat liberalnya bea masuk berdampak pada membanjirnya barang impor. Rata-rata tarif Indonesia hanya 6,6 persen. Hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Korea yang mencapai 12,1 persen, Brasil 13,7 persen, Tiongkok 9,1 persen, dan India 13 persen.

Selain itu, perlindungan industri dalam negeri mestinya diperkuat dengan mencegah ekspor barang mentah melalui proses hilirisasi dan industri bernilai tambah. Ekspor barang mentah berdampak pada kian terbatasnya pasokan bagi industri dalam negeri. “Pemerintah baru perlu memberikan proteksi terhadap industri dalam negeri,” jelas dia.

Menanggapi hal itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat, mengatakan pemerintah telah mengimplementasikan program pembangunan ekonomi di Jabar melalui restrukturisasi permesinan untuk industri tekstil, produk tekstil dan alas kaki, serta memfasilitasi penyusunan Master Plan Pengembangan Wilayah Jabar Bagian Timur, termasuk wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), Sumedang, dan Ciamis.

Share:

Twitter