BERITA INDUSTRI

Bahan Baku Susu Didominasi Produk Impor


Kamis, 27 Maret 2014

Sumber: Koran Tempo

JAKARTA - Kebutuhan bahan baku susu olahan dalam negeri mencapai 3,3 juta ton per tahun. Namun 2,61 juta ton di antaranya (hampir 80 persen) masih diimpor dari berbagai negara, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

"Pasokan susu segar dari dalam negeri hanya 69 ribu ton," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto dalam acara peresmian pembangunan pabrik susu Fontera di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, kemarin.

Panggah menjelaskan, bahan baku susu olahan yang masih harus diimpor itu berupa susu bubuk skim (skim milk powder), lemak susu, dan bubuk susu mentega. "Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar yang belum digarap oleh produsen susu lokal masih besar," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, impor produk susu olahan juga naik tipis dibanding pada tahun sebelumnya. Pada 2012, volume impor susu olahan sebanyak 144.235 ton, sedangkan tahun ini sebesar 144.385 ton.

Adapun ekspor produk susu olahan pada 2013 sebesar 51.443 ton dengan nilai US$ 79 miliar. Sedangkan volume ekspor tahun sebelumnya sebesar 48.319 ton dengan nilai US$ 80 miliar.

Menurut Panggah, konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini di bawah rata-rata ASEAN. Tingkat konsumsi susu di Indonesia hanya 11,02 kilogram per kapita per tahun. Padahal konsumsi susu di Malaysia sudah mencapai 20 kilogram per kapita per tahun, Singapura 32 kilogram per kapita per tahun, dan Thailand 33 kilogram per kapita per tahun.

Direktur Fonterra untuk kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika, Pascal De Petrini, mengakui bahwa potensi pasar di Indonesia masih sangat luas. Karena itu, pabrik susu asal Selandia Baru ini belum tertarik untuk mengekspor produknya. "Kami penuhi dulu kebutuhan susu domestik," katanya pada kesempatan yang sama. Dia memprediksi permintaan produk susu akan meningkat 50 persen dalam delapan tahun mendatang.

Nantinya, selain memproduksi susu bubuk, Fonterra akan mengembangkan bisnis susu segar. Sebanyak 11 peternak saat ini sudah diikutkan dalam program training intensif untuk pengembangannya.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur, Sulistiyanto, menyebutkan bahwa produksi susu segar dari Jawa Timur sempat anjlok akibat erupsi Gunung Kelud pada pertengahan Februari lalu. Selama ini Jawa Timur menjadi penghasil susu terbesar dibanding Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dengan jumlah populasi sapi perah yang mencapai 178 ribu ekor, total produksi susu di Jawa Timur mencapai 985 ribu liter per hari.

Menurut Sulistiyanto, penurunan produksi ini perlu diwaspadai. Sebab, kebutuhan lima industri pengolahan susu (IPS) yang ada di Jawa Timur mencapai 1,7 juta liter. "Mudah-mudahan produksi April-Mei sudah pulih 100 persen." ALI HIDAYAT | PINGIT ARIA | RACHMA TRI WIDURI

Share:

Twitter