BERITA INDUSTRI

Pola Pikir Masyarakat Masih Import Minded


Rabu, 10 April 2013

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai. masyarakat Indonesia masih berpikiran import minded atau beranggapan setiap produk yang berasal dari luar ncgeri selala lebih baik dari produk daiam negeri.
"Pola pikir yang impon minded karena produk impor dianggap punya kualitas lebih baik dan berharga murah. " kata Kepala Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Arryanto Sagala dalam pembukaan pameran hasil penelitian dan pengembangan industri di Kementerian Pcrindustiian, kemarin.
Ia mengaku, meski pemerintah telah mencanangkan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam negeri (P3DN) yang tertuang dalam Inpres Nomor 2 Tahun 2009, masyarakat tetap masih memilih produk impor.
Padahal, P3DN itu merupakan langkah untuk mengatasi ancaman maraknya produk impor. Tapi, dcngan adanya arus globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, membuat produk impor gampang masuk.
Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk membatasi ketergantungan terhadap produk impor. "Anggapan impon minded harus dikikis melalui kerja sama berbagai pihak antara pemerintah, pengusaha, akademisi dan masyarakat." ucapnya,
Selain itu, upaya tersebut juga sejalan dengan komersialisasi produk dalam negeri yang di antaranya merupakan hasil litbang.dalam mempertimbangkan ukuran pasar dalam negeri yang demikian besar. Dengan begitu, para pengusaha lokal memiliki kesempatan untuk berkembang mengisi pasar dalam negeri.
Menurut Arryanto, para peneliti di bidang industri menerapkan prinsip inovasi guna mcningkatkan persaiagan global yang semakin ketat. "Kita menyadari bahwa hasil litbang yang dihasilkan belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan kata lain, susah dikomersialisasikan," katanya.
Kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks juga mendorong perubahan pasar yang cepat dan tekanan dari persaingan global, sehingga dibutuhkan inovasi agar produk-produk tersebut dapat segera dikomersialisaikan.
Prinsip inovasi tersebut di antaranya meningkatkan kualitas produk, meminimalisasi jumlah energi dan limbah dalam proses produksi serta membatasi ketergantungan impor bahan baku atau baKan penolong dari berbagai kelompok industri. "Bahan baku impor selama ini terus meningkat. Karena itu, harus kitabatasi dalam rangka menghemat devisa negara," katanya.
Arryanto mengatakan, kemampuan berinovasi tersebut juga diupayakan untuk meningkatkan daya saing produk lokal dan banyak faktor yang mempengaruhi daya saing tersebut. Selain kesiapan dalam penyerapan dan penguasaan teknologi.
Bekas Staf Ahli Menteri Perindustrian Fauzi Aziz mengatakan, program P3DN adalah kebijakan yang dibuat untuk mengoptimalkan agar produk dan jasa yang telah mampu dihasilkan di dalam negeri dapat ditingkatkan penggunaannya, baik oleh pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
"P3DN dalam dimensi ekonomi bisa berkontribusi secara langsung daiam pcmbentukan daya saing," katanya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Basis Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan, sektor industri belum maksimal dalam penggunaan TKDN.
Panggah mengatakan, pada 2012, Kemenperin te!ah memfasilitasi verifikasi TKDN sebanyak 1.029 produk dan pada tahun ini dianggarkan fasilitasi verifikasi untuk 1.000 produk.
"Angka ini masih sangat kecil dibanding jumlah produk yang seharusnya perlu di verifikasi," ujarnya.

sumber : Rakyat Merdeka

Share:

Twitter