BERITA INDUSTRI

Naikkan BBM Per 1 April


Selasa, 5 Maret 2013

BERLIN- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mendukung penuh rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Subsidi BBM sudah terlalu memberatkan perekonomian. Dia menyarankan penaikan harga BBM bersubsidi diberlakukan mulai 1 April 2013.
"Lebih cepat lebih baik. Kalau ditunda, perekenomian kita akan sangat berat karena subsidi yang terus membengkak dan tidak tepat sasaran," kata Sofjan kepada Investor Daily di Berlin, Senin (4/3).
Dampak penaikan harga BBM bersubsidi terhadap biaya perusahaan, kata Sofjan, sedikit-banyaknya ada. Tapi, dampak buruk itu tak ada artinya dibandingkan dengan dampak positifnya. Itu jika penghematan dana subsidi BBM sungguh-sungguh digunakan untuk membangun infrastruktur dan membiayai berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepentingan rakyat. "Dampak lain adalah pengurangan konsumsi BBM secara signifikan dan pencegahan penyelundupan," ujar Sofjan.
Menurut Sofjan Wanandi, subsidi BBM akan terus menggerogoti neraca perdagangan, memperlemah kurs rupiah, mengganggu daya tahan fiskal, dan menghambat pembangunan infrastruktur. "Selama setahun terakhir terjadi defisit neraca perdagangan yang disebabkan membengkaknya impor minyak mentah dan BBM," papar Sofjan.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat kepada Investor Daily mengungkapkan, Presiden SBY sudah memberikan sinyal untuk menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar tahun ini. Para menteri diminta mempelajari perkembangan dan mempersiapkan berbagai hal agar penaikan harga BBM bersubsidi sungguh menguntungkan rakyat.
"Saya tidak tahu kapan kenaikan harga BBM bersubsidi diputuskan. Para menteri baru diberikan sinyal. Saya kira pasti tahun ini harga BBM dinaikkan," kata MS Hidayat.
Selain mengganggu perekonomian nasional, menurut Hidayat, harga BBM bersubsidi yang terlalu murah dapat memicu penyelundupan dan penyalahgunaan oleh industri yang tidak berhak. Terlebih lagi, selama ini sebagian besar subsidi BBM justru dinikmati masyarakat menengah atas pemilik mobil.
"Di Indonesia terdapat 56 pelabuhan yang bisa digunakan untuk penyelundupan. Aparat cukup kewalahan mengawasi penyelundupan mengingat 70% wilayah Indonesia adalah laut," tutur dia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama Januari 2013, Indonesia mengimpor minyak senilai US$ 3,75 miliar, atau sudah setara dengan 9,5% dari realisasi impor sepanjang 2012 yang mencapai US$ 39,48 miliar. Jika tidak ada langkah preventif, impor minyak tahun ini berpotensi tembus US$ 45 miliar, dengan asumsi tiap bulannya impor minyak mencapai US$ 3,75 miliar.
Akibat besarnya impor minyak, neraca perdagangan pada Januari 2013 mengalami defisit US$ 171 juta. Pada 2012, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 1,62 miliar. Dalam dua tahun terakhir, impor minyak terus melonjak.
Pada Januari 2012 (year on year), impor minyak mentah hanya naik 15,47%, namun pada Januari 2013 pertumbuhan impor minyak mentah mencapai 34,7% atau hampir dua kali lipat.
Hal yang sama terjadi pada impor hasil minyak, dari pertumbuhan minus 6,13% (Januari 2011-Januari 2012), kemudian melonjak 29,37% (Januari 2012-Januari 2013).
Konsumsi BBM bersubsidi tahun ini diperkirakan menyentuh angka 49,65 juta kilo liter (kl), dengan rincian premium 31,46 juta kl, minyak tanah 1,20 juta kl, dan solar 16,99 juta kl.
Perkiraan itu bercermin pada realisasi konsumsi BBM bersubsidi selama dua tahun terakhir.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi BBM bersubsidi pada 2011 mencapai 41,79 juta kl, terdiri atas premium 25,53 juta kl, minyak tanah 1,70 juta kl, dan solar 14,56 juta kl. Sedangkan pada 2012, total konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan mencapai 45,27 juta kl, meliputi premium 28,34 juta kl, minyak tanah 1,20 juta kl, dan solar 15,73 juta kl.
Tahun ini, subsidi BBM dipatok Rp 193,8 triliun, meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 211,9 triliun.
Harga premium dan solar saat ini Rp 4.500 per liter, padahal harga keekonomiannya sekitar Rp 8.000 per liter.
Tunggu Sidang Kabinet
Secara terpisah, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menjelaskan, penaikan harga BBM bersubsidi baru bisa dilaksanakan setelah ada keputusan sidang kabinet. "Hingga sekarang belum ada rencana penaikan harga BBM bersubsidi, baik dari internal kementerian maupun amanat Presiden," ucap dia.
Penaikan harga BBM bersubsidi, kata Susilo, tidak bisa ditentukan oleh Kementerian ESDM saja. "Masing-masing kementerian dimintai pendapat.
Penaikan harga BBM bersubsidi baru bisa dilakukan setelah diputuskan di sidang kabinet," tandas dia kepada Investor Daily.
Menteri ESDM Jero Wacik pernah menyebutkan, opsi penaikan harga BBM bersubsidi baru diambil setelah terjadi sesuatu yang ekstrem. Selama pertumbuhan ekonomi masih baik dan kondisi investasi bagus, harga BBM bersubsidi tidak perlu dinaikkan.
"Tetapi kalau itu sampai terganggu karena subsidi ini, penaikan harga baru akan dibahas," tegas dia.
Menurut Jero Wacik, salah satu faktor yang dipertimbangkan terkait penaikan harga BBM bersubsidi yaitu harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP). Pasalnya, setiap kenaikan ICP sebesar US$ 10 per barel akan memaksa pemerintah menambal subsidi BBM sebesar Rp 20 triliun. Itu baru dari kenaikan ICP, belum dari kenaikan volume konsumsi.
Penyelundupan dan BBG Susilo Siswoutomo mengemukakan, pemerintah terus berupaya meminimalisasi penyelundupan BBM bersubsidi.
"Kami juga bekerja sama dengan pemda. Justru pemda punya kuasa lebih untuk mengawasi daerahnya sendiri," ujar dia.
Dia menambahkan, konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) pun akan terus dilakukan meski harga BBM bersubsidi telah naik. Target Kementerian ESDM, sepanjang tahun ini seluruh stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang sudah beroperasi harus dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah juga akan menambah infrastruktur untuk menyalurkan gas.
"Kami akan menambah SPBG dengan menggandeng swasta, juga dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Pertamina," ucap dia.
Menurut Direktur Pembinaan Hilir Ditjen Migas Umi Asngadah, Kementerian ESDM bakal membagikan alat konversi (kit konversi) sebanyak 4.000 unit. Sebanyak 2.000 kit konversi akan dibagikan di Jabodetabek, sedangkan 1.000 unit bakal disebar di Surabaya dan Palembang. Saat ini, Kementerian ESDM tengah membuka lelang pengadaan kit konversi.
"Proses lelang akan berlangsung setidaknya 40 hari, pembagiannya kemungkinan sekitar April. Biaya pengadaan seluruh kit konversi menggunakan dana konversi sekitar Rp 70 miliar," papar dia.
Selain itu, kata Umi, pemerintah melalui PT Pertamina akan membangun 14 unit SPBG. Dananya sekitar Rp 474 miliar yang murni berasal dari anggaran konversi dan Rp 127 miliar dari anggaran Kementerian ESDM.
SPBG yang telah beroperasi saat ini yaitu lima unit di Palembang, empat unit di Surabaya, dan sembilan unit di Jakarta. Adapun yang akan dibangun yaitu dua unit mother station, dua unit online (pipa), lima unit daughter station, dan lima unit eko station yang diletakkan di SPBU.
Harga Boleh Naik
Anggota Komisi VII DPR Satya Yudha mengungkapkan, sinyal penaikan harga BBM bersubsidi yang disampaikan Presiden SBY menunjukkan bahwa pemerintah akan menggunakan Pasal 8 Undang-Undang (UU) APBN 2013. Pasal tersebut menyatakan, belanja subsidi BBM dan listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan realisasi pada tahun anggaran berjalan untuk mengantisipasi deviasi realisasi asumsi ekonomi makro atau perubahan parameter subsidi, berdasarkan kemapuan keuangan negara. "Jika pasal itu tidak digunakan, subsidi BBM dan listrik tahun ini bisa lebih dari Rp 300 triliun," ujar Satya.
Dia menambahkan, dengan adanya pasal tersebut, DPR telah memberi kewenangan kepada eksekutif untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.
"Kalau akan menaikkan harga BBM bersubsidi tahun ini, silakan. Itu memungkinkan untuk dilakukan. Tapi, tetap kembali kepada keberanian presiden," tandas dia.
Keberanian menaikkan harga BBM bersubsidi, menurut Satya, bisa mengawali paradigma subsidi langsung, yakni subsidi yang diberikan kepada masyarakat kurang mampu secara langsung. "Paradigma subsidi harga yang selama ini dipakai sudah waktunya ditinggalkan," ujar dia.

sumber : Investor Daily

Share:

Twitter