BERITA INDUSTRI

Pasokan Minim, Produsen Susu Tergantung Impor


Senin, 26 Nopember 2012

PRODUSEN susu masih ketergantungan impor bahan baku dari Selandia Baru dan Australia. Pasalnya, pasokan bahan baku masih minim.

Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Enny Ratnaningtyas mengatakan, tingginya impor bahan baku disebabkan pasokan dari dalam negeri yang sangat kecil dan harga produk impor yang lebih murah.

"Persentase impor bahan baku industri susu olahan sekitar 75 persen per tahun," katanya.

Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN) Teguh Boediyana mengatakan, produsen susu olahan masih mengandalkan pasokan bahan baku dari Selandia Baru dan Australia.

Tercatat 70 persen impor bahan baku susu olahan didatangkan dari Selandia Baru dan Australia, sisanya dari Amerika Serikat dan Eropa. Selama ini, suplai bahan baku dari dalam negeri kurang mencukupi industri pengolahan susu.

Dengan peraturan bea masuk (BM) bahan baku susu olahan, menurut Teguh, sangat mempengaruhi daya saing industri pengolahan susu. Karena itu, agar industri susu dalam negeri bisa bersaing, pemerintah perlu memberikan insentif bagi industri dalam negeri yang bisa menyerap bahan baku lokal.

Selama ini industri susu telah masuk sebagai salah satu industri prioritas nasional. Tapi pasokan bahan baku susu dari peternak untuk diolah pabrikan masih jauh dari memadai.

Untuk diketahui, total kebutuhan bahan baku susu tercatat 3,2 juta ton per tahun, sedangkan pasokan dari peternak hanya 690.000 ton yang dihasilkan oleh sekitar 597.135 ekor sapi perah. Artinya, hanya 21 persen bahan baku industri susu olahan yang bisa dipenuhi oleh peternak, sedangkan 79 persen masih harus diimpor.

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur Sulistyanto mengatakan, sentra produksi sapi perah di Indonesia (Jawa Timur dan Jawa Barat) kesulitan memenuhi kebutuhan susu bagi pengusaha industri susu yang ditaksir mencapai 2.500 ton liter per hari.

Dikatakan, kapasitas produksi susu di kedua wilayah itu hingga kini hanya mampu menyuplai sekitar 1.600 ton liter per hari, terdiri dari Jawa Timur sekitar 1.000 ton liter per hari dan Jawa Barat sebanyak 600 ton liter per hari.

Bahkan, Jawa Timur selalu menutupi keterbatasan pasokan susu bagi Jawa Barat sebanyak 200-300 ton liter per hari. Pertumbuhan pabrik minuman dan makanan berbahan baku susu di Indonesia membuat industri sapi perah kewalahan memenuhi permintaan.

"Di Jawa Timur saja pertumbuhan pabrik susu sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini sudah ada 75 pabrik yang membutuhkan sekitar 1.500 ton liter susu per hari," katanya.

Dia mencatat, terdapat sejumlah pabrik-pabrik besar di Jawa Timur yang kesulitan bahan baku susu. Nestle, katanya, saat ini hanya mampu memenuhi 700 ton liter susu per hari. Padahal, kapasitas produksi pabrik Nestle diperkirakan mencapai 1.000 ton liter susu per hari.

sumber : Rakyat Merdeka

Share:

Twitter