BERITA INDUSTRI

Impor Minyak Indonesia Sudah Mengkhawatirkan


Senin, 3 September 2012

Untuk mengurangi impor minyak yang tinggi, pemerintah berencana menyelesaikan pembangunan kilang pada 2018.

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku pemerintah segera menyelesaikan pembangunan kilang baru.

Menteri asal Partai Demokrat itu mengatakan, pihaknya menargetkan pembangunan kilang baru selesai pada 2018. Kilang baru tersebut berkapasitas 900 ribu barel, per hari. "Jika ada tambahan kilang, maka masalah BBM sedikit teratasi. Disamping kita juga terus mengurangi ketergantungan terhadap BBM," ujarnya.

Untuk diketahui, pemerintah menelan pil pahit saat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP)2012 Maret lalu. Pasalnya, usulan pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi sebesar Rp 1.500 per liter ditolak DPR.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, nilai impor minyak Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan mengganggu Neraca Perdagangan Indonesia (NPI). Menurutnya, saat ini nilai impor minyak Indonesia sudah mencapai 14 miliar dolar AS.

"Impor minyak yang tinggi itu harus dikurangi dengan pembangunan kilang baru di Balongan dan TUban," kata Hidayat.

Menurulnya, saat ini sudah ada investor yang berminat membangun kilang di Indonesia, yakni Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dan Saudi Aramco. Di Tuban, Jawa Timur, dilakukan Pertamina dengan Saudi Aramco, sementara di Balongan, Jawa Barat akan dilakukan dengan KPC. 

Hidayat mengatakan, investasi untuk kedua kilang tersebut mencapai 20 miliar dolar AS. Kilang tersebut juga akan menghasilkan minyak 300 ribu barel per hari. Jika kilang tersebut disegara dibangun tahun ini, maka Indonesia bisa menghemat 14 miliar dolar AS kegiatan impor BBM tahun depan.

Selain itu, keberadaan kedua kilang juga akan menghemat anggaran 6 miliar dolar AS dari impor petrokimia. Sebab, Indonesia saat ini masih harus impor petrokimia karena sedikit investor yang tertarik untuk membangun kilang karena keuntungan sedikit.

Karena itu, menteri asal Partai Golkar ini meminta Kementerian Keuangan segera menyelesaikan permintaan insentif dari kedua investor tersebut. Saat ini Kementerian Keuangan masih membahas persetujuan final insentif pembangunan kilang tersebut.

"Mereka minta tax holiday selama 15 tahun, tapi pemerintah bisanya kasih 10 tahun. Agus Marto (Menteri Keuangan Agus Martowardojo) jangan menyerah, jangan mau ditekan habis," tegas Hidayat.

Vice President Fuel Marketing & Distribution Pertamina Suhartoko mengaku, pihaknya setiap bulan harus mengimpor 10 juta barel premium. Menurutnya, selain untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, impor juga untuk menjaga stok BBM na-sional, terutama premium, agar cukup hingga 17 hari ke depan.

"Impor premium sebanyak itu tujuannya untuk memenuhi kebutuhan BBM yang cukup besar di dalam negeri," katanya.

Anggota Komisi VII DPR Rofi Munawar mengatakan, terus membengkaknya permintaan BBM subsidi karena pemerintah tidak sungguh-sungguh mengelola sektor energi sesuai dengan pertumbuhan ekonomi.

Over kuota yang dialami setiap tahun ini menyedot anggaran yang cukup besar. Pada akhir 2011 volume BBM kembali mengalami over kuota hingga mencapai 1,3 juta kiloliter (KL) atau setara dengan Rp 3 triliun.

Padahal sebelumnya, dalam APBNP 2011 sudah ditetapkan kuota BBM 40,49 juta KL. Namun kenyataannya, penggunaan BBM subsidi hingga akhir tahun 2011 membengkak hingga mencapai 41,79 juta KL. Secara total subsidi BBM tahun 2011 pun mencapai angka yang sangat fantastis, Rp 167 triliun.

sumber : Rakyat Merdeka

Share:

Twitter