BERITA INDUSTRI

Indonesia Kurang Bahan Baku Tekstil


Jumat, 3 Agustus 2012

JAKARTA - Fakta luas lahari yang ada di Indonesia tidak membuat bahan baku industri mudah didapat. Fakta lain menunjukkan, bahan baku tekstil jenis katun Indonesia masih dipasok dengan mengimpor.

Tidak tanggung-tanggung, Indonesia mengimpor kapas sebagai bahan baku/kain katun sekitar 99,2 persen dari semua kebutuhan kapas nasional per tahun.

Padahal Indonesia membutuhkan setidaknya 700 ribu ton kapas per tahun. Produksi kain katun di Indonesia dibanding kain jenis lain termasuk masih tinggi secara nasional. "Kita masih impor sekitar 99,2 persenlah untuk bahan katun," ungkap Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian Aryanto Sagala di Jakarta, Kamis (2/8).

Soal tanaman kapas yang tidak dapat tunibuh baik di Indonesia, sebenarnya bukan masalah. Sebab, tanaman ini hanya membutuhkan masa kering selama empat bulan untuk menghasilkan kapas yang bagus. Namun, Aryanto tidak mengerti mengapa seperti tidak ada upaya untuk mengusahakan produksi kapas ini.

Misalnya, memanfaatkan lahan kering di Indonesia untuk secara khusus ditanami kapas. Seperti kebijakan Cina yang memenuhi Gurun Gobinya dengan tanaman penghasil bahan baku tekstil katun ini.

Secara nasional, jika dipersentasekan, kebutuhan bahan baku tekstil katun sekitar 42 persen dari seluruh produksi tekstil nasional. Tekstil sintetis masih mendominasi dengan kisaran 50 persen. Sisanya adalah tekstil rayon. Bahkan, untuk bahan baku tekstil rayon, Indonesia masih mengimpor dari Polandia.

Khusus untuk industri tekstil rayon, pemerintah akan mengembangkan lagi industrinya. Yaitu, mendorong beberapa industri tekstil untuk ikut merambah tekstil rayon, seperti industri tekstil PT Sritex di Solo, Jawa Tengah. Selain itu, mendorong peningkatan produksi industri tekstil yang sudah ada, misalnya, South Pasific Viscos (SPV) dan Indobaret Rayon.

Saat ini, kedua industri tekstil itulah yang banyak menyuplai kebutuhan tekstil jenis rayon di pasar dalam negeri. Berdasarkan BPKIMI, 6070 persen hasil produksi mereka untuk konsumsi dalam negeri.

sumber : Republika

Share:

Twitter