KEGIATAN KEMENPERIN

Menperin MS Hidayat Sebagai Nara Sumber Raker Kemendag: “Dorong Koordinasi Intensif Dengan Kemendag”


Rabu, 7 Maret 2012

JAKARTA--Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menjadi salah satu pembicara dalam rapat kerja (Raker) Kemendag di Jakarta, Rabu, 6 Maret 2012. Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa koordinasi intensif antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sangat dibutuhkan. Hal itu terkait dengan upaya untuk mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan.
"Koordinasi yang intensif antara Kemendag dengan Kemenperin sangat dibutuhkan. Saya juga ingin agar kebijakan-kebijakan yang menimbulkan hambatan dikaji kembali. Hal ini dalam rangka upaya mendukung akselerasi industrialisasi," ujar Menperin. Menperin mengharapkan, setiap kebijakan-kebijakan perdagangan dikoordinasikan lintas kepentingan. Yakni, demi menjaga dan mendorong pertumbuhan industri manufaktur nasional.
"Intensifkan pengawasan barang beredar yang sesuai dengan SNI, dan aturan label. Terutama, dengan banyaknya barang impor, khususnya dari China yang menggerus pasar nasional. Revisi Permendag 57 soal ketentuan impor produk tertentu perlu dipertimbangkan," kata Menperin.

Sementara itu, dari aspek promosi, Menperin mengharapkan, atase perdagangan Indonesia dan para Indonesia Trade Promotin Center (ITPC) aktif mempromosikan produk manufaktur nasional. Atase Perdagangan dan ITPC, merupakan ujung tombak memantapkan promosi.
Menyangkut FTA, Menperin ingin mengevaluasi FTA. Mana yang bisa ditunda dan mana yang bisa dilakukan. Liberalisasi seyogyanya memberi manfaat sebesar-besarnua untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi dan industri nasional. Dalam rangka, meningkatkan kesejahteran rakyat, bukan sebaliknya.
Ditambahkan pula bahwa, di antara negara-negara anggota G-20, rata-rata tarif BM Indonesia tahun 2010 relatif liberal. Yakni, kata dia, 6,8%. Sedangkan, tarif BM di Korea Selatan (Korsel) sekitar 12,1%, Brasil sekitar 13,7%, Tiongkok sekitar 9,1%, dan India sekitar 13%.
"Dari indeks daya saing, Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Brasil, India, Korsel, dan Tiongkok. Dan, mereka justru menerapkan tarif BM lebih tinggi dari Indonesia. Ini menunjukkan, negara-negara dengan daya saing cukup tinggi pun masih merasa perlu melindungi pasar dalam negerinya," kata Menperin.
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan, pemerintah akan memperkuat, konteks FTA tidak saja terbatas pada perdagangan. Tapi, lanjut dia, mencakup upaya-upaya peningkatan investasi.
Raker Kemendag yang diselenggarakan pada 7-9 Maret 2012 di Hotel Borobudur ini dihadiri oleh seluruh pejabat Kemendag di pusat serta perwakilan di luar negeri dan daerah, serta dilaksanakan untuk menkonsolidasikan rencana aksi program kerja Kemendag 2012. Raker Kemendag ini diharapkan merupakan saat yang tepat untuk bersinergi dan berkoordinasi dalam pencapaian visi dan misi Kemendag.*** (Puskom-yi)



Share:

Berita Serupa

Kegiatan Lainnya  

Twitter