SIARAN PERS

Kinerja Industri Mamin Tetap Gurih, Ekspornya Meroket Hingga 52 Persen


Selasa, 14 Desember 2021

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjalankan kebijakan substitusi impor 35% pada 2022, salah satunya untuk memperdalam struktur industri manufaktur di dalam negeri, termasuk mengembangkan industri hulu. Di sektor petrokimia, Kemenperin mendukung perusahaan industri petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical (PT CAP) dalam pembangunan proyek kompleks petrokimia yang kedua dengan nilai investasi mencapai USD5 Miliar.

“Kemenperin mendukung pembangunan kompleks kedua petrokimia PT CAP. Perusahaan tersebut selama ini memproduksi bahan baku plastik yang dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk hilir oleh sektor industri lainnya, seperti produk kemasan, pipa, otomotif, hingga elektronik,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (Dirjen IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam saat mendampingi kunjungan kerja spesifik Ketua Komisi VII DPR-RI dan jajarannya ke pabrik PT Chandra Asri Petrochemical (PT CAP) di Cilegon, Banten, beberapa waktu lalu.

Pembangunan kompleks petrokimia kedua Chandra Asri atau CAP2 merupakan upaya dalam memenuhi permintaan produk petrokimia dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor. Kompleks ini nantinya akan terintegrasi sepenuhnya dengan pabrik sebelumnya yang telah ada di Cilegon dan akan terdiri dari 
Naphtha Cracker, Butadiene, High Density Polyethylene (HDPE), Polypropylene (PP), Aromatic (Benzene, Toluene dan Mixed Xylenes), serta Low Density Polyethylene (LDPE) yang juga akan menjadi pabrik LDPE pertama di Indonesia.

“Melalui anak perusahaan PT CAP, yaitu PT Chandra Asri Perkasa, pembangunan kompleks CAP2 nantinya akan menambah kapasitas total produksi dari 4,2 juta ton menjadi lebih dari 8 juta ton per tahun,” jelas Khayam. Hal ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi industri petrokimia hilir lokal, mengurangi beban impor,mendukung penciptaan lapangan kerja, serta mengakselerasi penerapan Industri 4.0 di Indonesia.

Pembangunan CAP2 saat ini berada dalam tahap Front-End Engineering Design (FEED) yang merupakan Stage 3 dalam proses tersebut. FEED merupakan tahapan kunci untuk perencanaan rinci proyek CAP2 dan akan diikuti dengan proses seleksi untuk para kontraktor teknis, pengadaan, dan konstruksi (
Engineering, Procurement, and Construction (EPC)). Final Investment Decision (FID) akan diambil oleh para pemegang saham setelah seleksi EPC selesai. PT CAP menargetkan untuk mengambil FID pada tahun 2022 dan operasional CAP2 akan dimulai dari tahun 2026.

Pada bulan November 2021, PT CAP telah menunjuk empat kontraktor yaitu Toyo Engineering Corporation, Samsung Engineering Co., Ltd., Wood, dan PT Haskoning Indonesia untuk mengerjakan 
Front-End Engineering Design (FEED) bagi kompleks CAP2. Kerja sama tersebut melibatkan empat kontraktor dari Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand.

“Pemerintah Indonesia juga akan terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang baik, menguntungkan, dan berkesinambungan melalui berbagai kebijakan sehingga investasi seperti yang ditanamkan oleh PT CAP dapat terus bertumbuh dan kekuatan ekonomi negeri kita menjadi semakin kokoh,” ujar Khayam.

Ia menyampaikan, PT CAP yang berdiri sejak tahun 1992 tersebut memproduksi berbagai produk Olefin (
Ethylene dan Propylene), Pygas dan Poliolefin (Polyethylene dan Polypropylene). Kapasitas produksi Ethylene sebesar 900 ribu ton/tahun, Propylene sebesar 490 ribu ton/tahun, Polyethylene sebesar 736 ribu ton/tahun dan Polypropylene sebesar 590 ribu ton/tahun. Saat ini, PT CAP telah menyerap tenaga kerja sekitar 1500 orang.

Substitusi impor bahan baku produk kimia sangat dibutuhkan oleh sektor inudstri ini. Volume impor bahan kimia di tahun 2020 telah mengalami penurunan dari tahun 2019, yaitu menjadi 25,1 juta ton dari 26 juta ton. Nilai impor bahan kimia juga menurun, dari USD18,9 Miliar di tahun 2019 menjadi USD15,9 Miliar pada 2020. “Sedangkan impor petrokimia juga menunjukkan penurunan, dari 7,99 juta ton (USD9,24 Miliar) di tahun 2019, menjadi 7,33 juta ton (USD7,14 Miliar) di sepanjang 2020,” pungkas Dirjen IKFT.



Share:

Twitter