SIARAN PERS

Jurus Kemenperin Tingkatkan Daya Saing IKM Olahan Porang


Kamis, 21 Oktober 2021

Kementerian Perindustrian terus berupaya memberdayakan para petani porang dalam meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut serta berkontribusi terhadapperekonomian nasional. Hal ini sejalan dengan amanatPresiden Joko Widodo dalamrapat terbatas tentang Pengembangan Budidaya Tanaman Porang pada Mei 2021 lalu.


Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) akan mendorongpengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di sektor olahan porang.Langkah strategis yang kami jalankan, antara lain program pendampingan IKM, peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, pengembangan produk turunan porang melalui pengembangan inovasi IKM, serta promosi melalui pameran, marketplace, dan link and match,” kata Plt. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita di Jakarta, Kamis (21/10).


Reni menjelaskan, porang merupakan komoditas ekspor yang saat ini sangat potensial dikembangkan. Umbi porangmengandung glukomanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan berfungsi sebagai bahan baku berbagai macam industri.


Dalam industri makanan, olahan porang dan ekstrak glukomanan selanjutnya digunakan dalam pembuatan mi shirataki, beras konyaku, pasta porang, dan pengental,” sebutnya. Dalam industri kosmetik, olahan porang digunakan dalam pembuatan pembersih wajah, masker wajah, serta bahan pengisi dan pengikat tablet. Olahan porang juga dapat digunakan dalam industri kimia untuk bahan pelapis (coating), perekat, dan pembuatan kertas,” imbuh Reni.


Plt. Dirjen IKMA mengemukakan, porang Indonesia tidak mengandung senyawa trimetilamin (TMA), sehingga tepung porang yang dihasilkan tidak berbau amis. Hal ini yang membuat porang Indonesia sangat diminati oleh pasar luar negeri.


Permintaan global terhadap produk turunan umbi porang sangat tinggi dengan pertumbuhan ekspor tahun 2020 mencapai sebesar 23,35%. Adapun tiga besar negara tujuan ekspor porang, yaitu China, Thailand, dan Malaysia,” ungkapnya.


Oleh karena itu, Kemenperin siap bekerja keras melakukan pembinaan dalam rangka mempercepat pengembangan IKM chip porang dan tepung porang, di antaranya melalui pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan revitalisasi sentra IKM.


Selain itu, pengembangan sentra IKM melalui klaster komoditas ekspor dengan basis pemberdayaan masyarakat yang bekerjasama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), pelaksanaan program restrukturisasi mesin dan/atau peralatan, serta sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP).


“Kami juga punya program Indonesia Food Innovation (IFI) untuk mendorong pengembangan produk turunan porang, program link and match dan peningkatan pasar dalam negeri maupun ekspormelalui pendampingan digital marketing melalui platform marketplace, serta fasilitasi membership pada marketplace global dan pameran,” tandasnya.


Ditjen IKMA berkomitmen untuk menumbuhkan sentra penghasil porang dan para pelaku IKM olahan porang untuk memfaatkan program-program tersebut. Tujuannya untuk dapat meningkatkan kualitas dan pemasaran produk IKM olahan porang sehingga bisa masuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan global.


Tembus Pasar Global

Dalam kunjungan kerjanya ke Gresik beberapa waktu lalu, Plt. Dirjen IKMA beserta jajarannya menyaksikan secara langsung pelepasan ekspor produk olahan porang PT. Hayumi Agro Indonesia sebagai hasil program implementasi sistem keamanan pangan ke China.


“Kami berharap pelepasan ekspor olahan porang ini dapat menjadi inspirasi bagi IKM lainnya untuk dapat melakukan penetrasi pasar, baik domestik maupun ekspor. Acara pelepasan ekspor ini adalah suatu bentuk apresiasi dan dukungan penuh pemerintah kepada IKM yang berkomitmen tinggi untuk terus maju dan berkembang serta siap bersaing di pasar global,” papar Reni.


Ia menyatakan,pihaknya akan terus mendorong agar pelaku IKM olahan porang melakukan ekspor dalam bentuk produk turunan karena nilai tambah ekonominya cukup tinggi. “Harga komoditas ekspor porang biasa sekitar Rp5 ribu per kilogram, sedangkan berupa chip atau potongan porang Rp40 ribu sampai Rp50 ribu, dan dalam bentuk tepung porang harganya bisa mencapai Rp200 ribu,” sebutnya.


PT. Hayumi Agro Indonesia yang berdiri tahun 2018 merupakan IKM yang mengolah umbi porang menjadi tepung porang dan chip porang. Bahan baku porang tersebut diperoleh dengan melakukan budidaya porang di Desa Klangon, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.


Reni menambahkan, pada tahun 2021 ini Ditjen IKMA akan menjalankan program pembinaan, pendampingan dan fasilitasi sertifikasi HACCP, serta fasilitasi restrukturisasi mesin dan/atau peralatan. Proses pendampingan HACCP tersebut berlangsung selama enam bulan dimulai pada Oktober 2020 dan diharapkan sertifikat HACCP dapat terbit bulan November 2021.


“Dengan memiliki sertifikat HACCP, IKM pangan dapat memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produksi pangan aman di sepanjang rantai produksinya sehingga pada akhirnya menghasilkan produk berkualitas baik, dan hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri para pelaku IKM pangan dalam pengembangan akses pasar, terutama menembus pasar global,” ungkap Reni.


Implementasi HACCP pada PT. Hayumi Agro Indonesia telah membawa IKM ini melaju menembus pasar global. Saat ini dengan kapasitas produksi sebesar 60 ton tepung porang per bulan, PT. Hayumi Agro Indonesia mampu mengekspor rata-rata 50 ton per bulan. Tentunya diharapkan jumlah ini akan terus naik dengan telah terpenuhinya standar keamanan pangan yang dimiliki.


Pada tahun 2022, akan dilakukan pengembangan sentra industri porang melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang sentra IKM di Kab. Pandeglang, Tabanan, dan Lombok Timur. Pengembangan sentra tersebut diharapkan dapat membantu sustainability ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan porang yang sudah ada seperti PT. Hayumi Agro Indonesia.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

 

Share:

Twitter