BERITA INDUSTRI

Konsumsi Dorong Ekspansi Industri Manufaktur


Rabu, 3 Februari 2021

Sumber: Koran Tempo (03/02/2021)


JAKARTA - Indeks manufaktur Indonesia kembali menguat. Hasil survei IHS Markit menyebutkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level ekspansi pada awal tahun ini. PMI manufaktur Indonesia naik dari 51,3 pada Desember 2020 menjadi 52,2 pada Januari 2021.


Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan perbaikan indeks manufaktur didorong oleh konsumsi, bukan investasi ataupun ekspor. Menurut dia, porsi manufaktur yang menjadi bagian dari rantai pasok global dan berorientasi ekspor hanya sedikit jika dibandingkan dengan industri yang berorientasi pasar domestik. "Faktor terbesarnya adalah konsumsi domestik," kata dia, kemarin.


Shinta memperkirakan PMI masih akan ekspansif, terutama untuk industri berorientasi ekspor, karena permintaan global mulai pulih. Namun rencana pengetatan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akan memperlambat konsumsi domestik dan mempengaruhi kinerja industri. "Khususnya industri padat karya. Jika lockdown total, akan terkontraksi lagi," kata Shinta.


Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan PPKM tidak menyurutkan keyakinan pelaku industri. Sebab, kata dia, permintaan produk industri dari luar negeri meningkat. "Real demand meningkat, khususnya dari pasar global," ujarnya.


Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, selama empat bulan terakhir, PMI manufaktur Indonesia terus meningkat. Peningkatan indeks pada Januari, kata dia, menjadi pencapaian yang paling cepat selama 6,5 tahun terakhir dan yang paling besar sejak survei PMI dimulai pada April 2011.


Dengan capaian tersebut, Agus mengatakan pemerintah berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif sekaligus mengakselerasi program pemulihan ekonomi nasional dari imbas pandemi Covid-19. "Di tengah masa sulit ini, kenaikan indeks manufaktur selama empat bulan berturut-turut menunjukkan rebound ekonomi Indonesia akan semakin cepat,” ujar dia.


Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$ 131,13 miliar pada Januari-Desember 2020. Angka ini naik 2,95 persen dibanding pada Januari-Desember 2019. Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, Janu Suryanto, industri pengolahan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. "Sektor industri manufaktur menyumbang 80,30 persen dari total nilai ekspor nasional yang mencapai US$ 163,30 miliar pada 2020,” katanya.


Berdasarkan hasil survei IHS Markit, tingkat kepercayaan pelaku industri menguat seiring dengan munculnya harapan akan berakhirnya pandemi melalui vaksinasi. Direktur IHS Markit, Andrew Harker, mengatakan sektor manufaktur Indonesia berada dalam jalur pemulihan pada awal tahun ini, dengan pertumbuhan output dan pesanan baru. "Tren ini memberikan dorongan kepercayaan yang paling tinggi dalam empat tahun terakhir,” ujar Andrew.


Kenaikan PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2021 melampaui capaian beberapa negara Asia Tenggara lainnya. PMI manufaktur Vietnam mencapai 51,3; Thailand 49; dan Malaysia 48,9. Angka indeks di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi pada industri manufaktur negara tersebut. Secara umum, PMI manufaktur negara Asia Tenggara pada awal tahun ini berada di level 51,4. Sedangkan PMI manufaktur Cina turun dari 51,9 ke 51,3.


LARISSA HUDA



Share:

Twitter