BERITA INDUSTRI

Ekspor Semen Dipacu


Jumat, 20 Desember 2019

Sumber: Bisnis Indonesia (20/12/2019)


Bisnis, JAKARTA - Pabrikan semen didorong untuk menggencarkan distribusi ke pasar global untuk mempercepat optimalisasi utilitas pabrik, di tengah permintaan domestik yang lemah.


Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan pabrikan lokal telah diarahkan untuk ekspansi ekspor hingga Benua Amerika. Sebagian pabrik mulai mengekspor semen ke Peru untuk membuka jalan ke pasar Amerika Selatan.


“Ekspor adalah yang satu-satunya kami harapkan bisa meningkat seperti tahun ini [atau] naik 15%-20%. Sehingga, apabila [konsumsi] dalam negeri ada penurunan bisa diantisipasi dengan kenaikan jumlah ekspor terebut," katanya kepada Bisnis, Kamis (19/12).


Dalam catatan ASI, ekspor pada November naik 20% secara tahunan menjadi 680.000 ton, dengan perincian semen 129.621 ton, dan clinker 554.117 ton.


Ekspor pada Januari-November naik 17% menjadi 6,08 juta ton. Kenaikan ini membuat produksi 2019 diramalkan tetap tumbuh 1,1%, meski konsumsi lokal tercatat negatif.


Adapun, kapasitas produksi semen pada 2019 sebesar 111,47 juta ton. Produksinya diproyeksi 70,3 juta ton, sehingga utilitasnya hanya 61,41%.


Menurutnya, rendahnya konsumsi di dalam negeri membuat pabrikan semen lokal juga memasok kebutuhan di luar wilayah operasional, terutama pabrik di Jawa dan Sulawesi.


“Ini peringatan bagi pemerintah, dalam hal ini BKPM [Badan Koordinasi Penanaman Modal], untuk tidak mengeluarkan izin pabrik semen baru sampai 2024.”


Menurutnya, industri semen butuh waktu 60 tahun untuk mengoptimalkan kapasitas terpasang pabrik di 2021. Namun, peningkatan ekspor menjadi 10 juta ton per tahun akan mempercepat pencapaian pada 2033.


Direktur Jendeal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan neraca produksi dan konsumsi semen baru akan seimbang 5-10 tahun mendatang.


Namun, Kemenperin tidak bisa menolak investasi baru, dan juga tidak menyarankan investor baru masuk industri ini setidaknya hingga 2024-2025.


Kemenperin telah menyarankan agar industri semen sementara waktu dimasukkan daftar negatif investasi (DNI), namun ditolak lantaran akan memiliki reputasi buruk. “Ini dianggap bahwa ini nanti bisa jadi sunset industry. Kalau sama perbankan, bunga kreditnya jadi makin tinggi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (19/12).


General Manager Corporate Communications PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Sigit Wahono mengatakan ekspor perseroan hingga November naik 19,6% secara tahunan menjadi 3,44 juta ton.


Semen Indonesia akan fokus menggarap pasar Asia Tenggara dan Asia Selatan, seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Maladewa, Filipina, dan Timor Leste.


“Untuk mendukung kinerja ekspor, perseroan melakukan serangkaian program integrasi, khususnya dalam mengoptimalkan fasilitas produksi dan distribusi,” katanya kepada Bisnis.



Share:

Twitter