BERITA INDUSTRI

Penjualan Elektronik Berpotensi Bangkit


Selasa, 19 Februari 2019

Sumber: Investor Daily (19/02/2019)

JAKARTA – Setelah turun selama empat tahun beruntun, penjualan elektronik domestik berpotensi bangkit tahun ini dengan estimasi pertumbuhan 10%. Hal ini ditopang perbaikan daya beli masyarakat dan inovasi yang dilakukan sejumlah pemain elektronik nasional.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Ali Subroto mengatakan sejak 2015, penjualan elektronik tidak bergairah, karena konsumen banyak menahan pembelian. Namun, memasuki 2019, pasar elektronik mulai menemukan titik terang, karena daya beli konsumen membaik. Ali enggan menyebutkan estimasi nilai pasar elektronik domestik tahun ini.

Selain itu, dia menuturkan, produk elektronik makin inovatif, sehingga merangsang minat beli konsumen. Contohnya, saat ini, telah dijual smart TV, mesin cuci dengan teknologi nano, bahkan smart AC.

“Teknologi-teknologi terbaru ini secara tidak langsung mendorong penjualan elektronik tahun ini,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (18/2).

Ali menjelaskan, elektronik menjadi kebutuhan rumah tangga dan merupakan kebutuhan sekunder. Alhasil, Indonesia masih menjadi pasar elektronik yang diperhitungkan.

Sementara itu, tahun ini, ekspor produk elektronik diprediksi, stagnan karena pengusaha lebih memprioritaskan pasar domestik. Ada juga perusahaan elektronik yang melakukan ekspor, tetapi jumlahnya tidak banyak.

Dia menambahkan, sejumlah pemain elektronik lama bakal menambah kapasitas pabrik. Namun, dia enggan menyebutkan nama-namanya dan nilai investasi yang dikucurkan.

Dia juga memprediksi banyak perusahaan Tiongkok yang akan merelokasi pabrik ke Indonesia. Hal ini terjadi seiring berkecamuknya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Namun, dia belum bisa menyebutkan kapan waktunya persisnya.“Jadi, 2019 merupakan tahun kebangkitan industri elektronik,” ujar dia.

Akselerasi Industri

Menperin Airlangga Hartarto menegaskan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakselerasi pengembangan industri elektronika di Tanah Air. Fokusnya antara lain mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku atau komponen impor.

 

Untuk itu, diharapkan produsen elektronika seperti PT Sat Nusapersada Tbk dapat terus memperbanyak produk-produk berteknologi tinggi yang diproduksi di Indonesia dan menerapkan industri 4.0, sehingga menjadi pendorong bagi Indonesia untuk mewujudkan konsep smart city di Indonesia.

“Kami sedang memacu industri elektronika dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam rantai nilai yang bernilai tambah tinggi,” ungkap dia.

Sebelumnya, Sat Nusapersada menjalin kemitraan dengan perusahaan asal Taiwan, Pegatron Corp, untuk memproduksi perangkat broadband dan smarthome yang akan dipasok pasar ke Amerika Serikat (AS). Perseroan mengucurkan investasi Rp300 miliar untuk membangun gedung enam lantai, tiga SMT lines, dan 11 final assembly lines, dengan total kapasitas 10 juta unit per tahun.

Sat Nusapersada memproduksi smarthome router berkecepatan tinggi. Adapun potensi total nilai ekspor produk ini mencapai US$ 600 juta per tahun serta dapat membuka lapangan kerja baru hingga 2.000 orang.

Smarthome router Sat Nusapersada merupakan router dengan teknologi fast router wireless wave 2 dengan kecepatan transfer data mencapai 100 kali lebih cepat dibandingkan wireless type-G. Produk tersebut dapat mendukung terwujudnya koneksi smarthome yang membutuhkan bandwith data yang tinggi.

 

 
Share:

Twitter