BERITA INDUSTRI

Pemerintah Fokus Perkuat Industrialisasi


Senin, 26 Nopember 2018

Sumber: Republika (26/11/2018)


JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian fokus memacu industrialisasi dalam negeri. Sebab, pemerintah meyakini industrialisasi mampu membawa dampak ganda positif bagi perekonomian nasional.


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara mengatakan, pemerintah saat ini bertekad menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama untuk sektor industri. "Langkah strategis yang "sudah dilakukan antara lain melalui paket-paket kebijakan ekonomi, insentif, dan kemudajian izin usaha," kata Ngakan, Ahad (25/11).


Ngakan menegaskan, upaya tersebut diyakini dapat mengakselerasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional yang inklusif dan ber-kualitas. Hal ini membuat pemerintah berkomitmen mentransformasi ekonomi, yang menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi berbasis manufaktur.


Salah satu upaya yang dilakukan adalah men-jalankan program hilirisasi industri. Program ini termasuk dengan upaya pengembangan industri pengolahan nonmigas yang menitikberatkan pada pendekatan rantai pasok agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional, dan global.


Ngakan menjelaskan, pengembangan industri manufaktur nonmigas diprioritaskan pada sektor yang berbasis sumber daya alam dan banyak menyerap lapangan kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (EPS), pada kuartal III 2018 industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi mencapai 19,66 persen.


Menurut laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menempati peringkat kesembilan dunia sebagai negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri. Sedangkan, hasil survei Nikkei dan IHS Markit menujukkanbahwa Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2018 berada di level 50,5 atau masih tergolong dalam tingkat ekspansif. Bahkan, Indonesia berhasil menduduki peringkat ketiga teratas di ASEAN. Posisi Indonesia lebih baik daripada Malaysia (49,2), Thailand (48,9), Myanmar (48,0), dan Singapura (43,3).


Ngakan mencatat, ada tiga sektor manufaktur yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 5,15 persen pada kuartal III 2018. Sektor itu adalah industri tekstil dan pakaian yang tumbuh mencapai 10,17 persen, industri makanan dan minuman berada di level 8,10 persen, serta industri alat angkutan menembus 5,37 persen.


Kemenperin mencatat investasi di sektor industri manufaktur selama empat tahun belakangan menunjukkan tren positif. Pada 2014, investasi manufaktur mencapai Rp 195,74 triliun dan pada 2017 mencapai Rp 274,09 triliun. Pada semester 12018, investasi manufaktur mencapai Rp 121,56 triliun dengan total jumlah tenaga kerja saat ini sebanyak 17,92 juta orang.


Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Abdul Rochim optimistis industri makanan dan minuman nasional akan terus berkembang. "Sektor industri makanan dan minuman di Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar," ujar Abdul.


Sepanjang Januari-September 2018, pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 9,74 persen. Industri ini berkontribusi sebesar 35,73 persen terhadap PDB industri nonmigas.



Share:

Twitter