BERITA INDUSTRI

Menperin Tolak Cukai Plastik


Jumat, 7 Oktober 2016

Sumber: Rakyat Merdeka (07/10)


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menolak rencana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang akan mengenakan cukai plastik pada tahun ini. Pasalnya, kebijakan tersebut akan berdampak pada anjloknya pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin).


Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan, industri mamin tidak boleh dihalangi oleh peraturan-peraturan yang justru akan menghambat pertumbuhan. Misalnya, pengenaan cukai plastik.


"Sekarang ini memang ada hambatan bagi industri mamin baik di hulu maupun di hilir. Itu seharusnya tidak dilaksanakan karena nantinya industri mamin tidak bisa bersaing dengan produk negara lain," kata Airlangga usai melakukan pengukuhan pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Jakarta, kemarin.


Menurut dia, industri mamin adalah salah satu sektor yang menunjang ekspor dalam negeri. Saat ini, 33 persen dari produk industri mamin diekspor dan memberikan devisa pada negara. Apalagi, mamin masuk dalam 10 industri yang memberikan pemasukan dalam negara cukup besar.


Politisi Golkar ini menegaskan, jika pembebanan terus diberikan kepada industri yang memberikan dampak baik dalam perekonomian, maka pertumbuhan ekonomi dalam negeri jelas akan sulit dicapai. Apalagi, saat ini Indonesia sudah dibanjiri oleh produk impor luar negeri dengan harga yang lebih bersaing.


Jika diadu, tentu konsumen akan memilih produk mamin yang berkualitas dengan harga yang lebih murah. Saingan industri mamin, adalah produk-produk dari Vietnam dan Thailand karena harganya bisa bersaing dengan produk lokal. Bahkan.bisa lebih murah.


Dia menambahkan, semua pihak harus mengetahui bahwa saat ini plastik sebenarnya sudah bisa didaur ulang. Teknologi untuk mengurai dan mendaur ulang plastik sudah banyak dimiliki dan digunakan negara-negara lain. Karena itu, tinggal bagaimana teknologi tersebut bisa diterapkan di Indonesia.


"Plastik ini juga sudah bisa didaur ulang. Jangan persepsikan bahwa plastik itu hanya menjadi sampah dan tidak bisa diolah. Karena sebenarnya plastik sudah bisa di-reduce, reuse, dan recycle," ujarnya


Hal senada dikatakan oleh Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Budi Susanto Sadiman. Menurutnya, jika Kemenkeu tetap ngotot mengenakan cukai plastik, maka harga jual produk mamin akan naik karena biaya kemasan plastiknya naik.


Menurut dia, saat ini perusahaan plastik mulai mengalami penurunan produksi sejak adanya pemberlakukan kantong plastik berbayar di toko ritel. Bahkan, dia pesimistis, target konsumsi plastik tahun ini 4,75 juta ton bakal tercapai. Hingga semester-I 2016, konsumsi plastik baru mencapai 2,2 juta ton.


Melemahnya konsumsi plastik karena dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi. Selain itu, adanya kebijakan plastik berbayar dan wacana cukai kemasan plastik ikut serta membuat penyerapan plastik menurun.


Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, pengenaan cukai plastik pastinya akan berdampak negatif ganda terhadap industri ritel. Pertama, kebijakan itu bakal melonjakan harga plastik dari pabrikan. Hal ini tak hanya memberatkan pelaku industri, tetapi juga bakal mengurangi daya beli masyarakat.


"Kalau daya beli melemah, konsumsi rumah tangga tentu ikut turun. Padahal di satu sisi, konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi," imbuh Roy.


Jangan Tahun Depan.


Apabila pemerintah memaksakan kebijakan cukai plastik ini tetap jalan, Roy berharap tidak langsung diterapkan pada tahun depan. Dia berharap ada ruang negosiasi agar penerapannya dilakukan bertahap.


"Jangan terapkan dalam waktu dekat ini, pemerintah juga harus mempertimbangkan masukan dan perhitungan dari asosiasi seharusnya," tutup Roy.


Sebelumnya, Dirjen Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan, berencana memberlakukan penerapan cukai plastik pada tahun depan. Ditargetkan, peneriman cukai dari plastik mencapai Rp 1,6 triliun.


"Untuk tarif awal, sementara akan dikenakan pada kantong kresek. Nanti secara bertahap akan ke semua jenis plastik, termasuk plastik kemasan makanan dan botol plastik," ujarnya.


Meski telah menetapkan target, Bea Cukai masih belum menentukan besaran tarif cukai yang akan dikenakan pada kantong kresek. Namun, Heru memastikan.nilainya tidak akan membebani masyarakat.


"Yang jelas, tarif cukai lebih rendah dari harga yang sekarang dipungut sekitar Rp 200 per kantong kresek. Jadi, tidak akan memberatkan," jelas Heru.


Adapun besaran tarif cukai plastik saat ini masih digodok pemerintah dan harus mendapat restu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Kami sedang menunggu diskusi lanjutan dengan DPR. Mudah-mudahan segera keluar dan diterapkan tahun depan untuk kantong kresek," tutupnya. ASI/JAR



Share:

Twitter