BERITA INDUSTRI

Tawar-Menawar Kandungan Timbal dalam Cat Dekoratif


Senin, 29 Juni 2015

Sumber : Bisnis Indonesia

Apakah pemerintah dan produsen sudah cukup sadar bahwa dengan timbal yang berlebih, cat bisa menyebabkan kecacatan?

Baru-baru ini, pemerintah menyosialisasikan standar nasional tentang cat dekoratif berbasis pelarut organik. Masih bersifat sukarela, tentu saja. Namun ada yang perlu dicermati dalam syarat mutu. Di sana tertulis batas kandungan timbal maksimal 600 parts per million (ppm). Padahal, ambang toleransi keamanan timbal mestinya berada di bawah 90 ppm. Kaum medis pasti pernah mendengar madah “there is no safe treshold for lead exposure”.

Angka 90 ppm sebenarnya tidak menjamin timbal tidak akan masuk ke dalam sistem tubuh. Besaran 90 ppm hanyalah batas minimal yang bisa dicapai industri jika tidak menambahkan timbal secara sengaja. Sebab dalam proses pengolahan cat, timbal akan tetap ada secara alamiah.

Unsur kimia yang dikenal dengan Pb atau plumbum umumnya ditemukan pada cat dekoratif, yaitu cat yang digunakan untuk permukaan kayu dan besi. Pada cat tersebut, timbal terkandung dalam zat pewarna dan zat pengering.

Pada dasarnya, kedua kandungan tersebut sudah bisa disubstitusi dengan pigmen organik untuk zat pewarna dan metal kompleks lain untuk zat pengering. Bahan tersebut juga tidak susah didapat.

Pertanyaannya, mengapa produk cat yang beredar masih mengandung timbal dengan jumlah yang sangat tinggi? Penelitian Balifokus dan Ipen 2015 di lima kota besar malah menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat cat yang menjadi sampel mengandung timbal di atas 600 ppm. Bahkan ada yang melebihi 20.000 ppm.

Chandra Budiman dari PT Pacific Paint mengatakan pada dasarnya produsen—terutama dari industri besar—sudah paham mengenai bahaya timbal dalam cat. Hanya saja, ketiadaan regulasi yang memaksa membuat pelaku meneruskan kegiatan produksi yang sudah ada.

Sebagai pelaku usaha, Candra mengemukakan bahwa ketersediaan bahan baku sebenarnya tidak menjadi persoalan. Toh, baik yang menggunakan timbal maupun tidak tetap harus diimpor. Kecemasan pemerintah dan keluhan produsen lain akan harga yang mahal, menurutnya juga bukan masalah.

“Secara harga per kilogram, pigmen organik memang lebih mahal. Tapi kalau untuk keseluruhan secara produk jadi, pengaruhnya jauh sekali lah. Paling-paling 5% [penambahannya].”

Satu-satunya hal yang merisaukan produsen adalah adalah biaya penarikan produk serta biaya penggantian produksi.

“Yang sudah beredar di toko atau stok yang masih ada di pabrik. Itu harus diapakan?” Dilematis, memang. Produsen harus memilih menanggung kerugian biaya penarikan, atau membiarkan pekerja dan konsumen terpapar bahaya timbal.

Sharad Adhikary, Environmental Health Advisor World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa timbal bisa masuk melalui hidung dan mulut dan tidak bisa hilang dari tubuh. Golongan yang paling dirugikan: anak-anak.

DISUKAI ANAK-ANAK

Cat dekoratif banyak digunakan di taman bermain atau taman kanak-kanak. Biasanya, cat dekoratif yang bertimbal tinggi ialah yang berwarna terang seperti kuning, oranye, dan merah.

Sonia, Toxic Program Officer Balifokus, mengatakan bahwa anak kecil suka menguliti cat dekoratif yang terkelupas. Bahkan bagi kebanyakan balita, cat tersebut diemut karena rasanya yang manis. Bayangkan mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan, teracuni timbal yang berdampak terhadap perkembangan intelligence quotient (IQ).

Pada orang dewasa, timbal yang masuk ke aliran darah bisa menyebabkan gangguan ginjal, keracunan, kejang-kejang, dan lainnya.

Terlepas dari bahaya yang melanda, tetap ada tawar-menawar antara pemangku kepentingan. Hingga angka minimal 90 ppm pun tidak ditetapkan dalam SNI 8011:2014 tentang Cat Dekoratif Berbasis Pelaku Organik.

Hingga saat ini, sudah ada 15 Standar Nasional Indonesia (SNI) dan dua Rancangan-SNI yang terkait dengan industri cat. Enam di antaranya bersifat wajib. Khusus SNI tentang mainan anak, eco-label, serta cat emulsi, ambang batas kandungan timbal malah sudah ditetapkan sebesar 90 ppm.

Sumarsono, Kepala Subdirektorat Industri Kimia Hilir Lainnya, angkat bicara. Menurutnya, industri cat Tanah Air sudah siap dalam menerapkan cat berkandungan timbal rendah. “Sebelum ada SNI pun, sudah ada produsen yang secara sadar memproduksi cat bebas timbal dan membuat label [bebas timbal] dikemasan.”

Pertimbangan tidak ditetapkan 90 ppm semata-mata didasarkan oleh daya beli masyarakat serta pelaku industri kecil menengah (IKM).

“Masyarakat kita kan kalau beli cat, pilih yang murah. Kalau kita ganti dengan pigmen organik, harganya lebih mahal. Pelaku IKM juga harus kita pikirkan,” ujarnya.

Pada 2020 dijadikan target tahun bebas timbal global dalam Strategic Approach To International Chemical Management (SAICM).

Sumarsono mengatakan Kementerian Perindustrian akan ikut serta dalam phase out tersebut. Pihaknya pun mengimbau agar pelaku industri turut bersiap-siap.

Meski demikian, belum ada ancang-ancang bahwa SNI cat dekoratif tersebut akan diberlakukan secara wajib. Belum ada juga tanda-tanda bahwa standar mutu kandungan timbal maksimal akan diturunkan jadi 90 ppm.

Share:

Twitter