BERITA INDUSTRI

Produk Impor Kuasai Pasar Kosmetik


Jumat, 8 Mei 2015

Sumber : Bisnis Indonesia

JAKARTA — Pelaku industri kosmetik sulit meningkatkan kinerja bisnisnya akibat penguasaan pangsa pasar produk impor sebesar 60% dari total pasar domestik senilai Rp15 triliun.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Putri K. Wardhani mengeluhkan dominasi produk impor menguasai penjualan di peritel atau departement store, sehingga mempersempit kesempatan untuk produk lokal bersaing.

Menurutnya, pasar kosmetik kelas menengah ke atas banyak didominasi produk dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Untuk kelas menengah, banyak dihuni oleh produk asal Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia.

“Pemerintah harus melakukan endorsement kepada mereka untuk mengharuskan brand lokal yang berkualitas dijual di ge rainya yang ada di Indonesia.

Bahkan, pemerintah juga harusnya bisa membuka jalan buat produk kita dijual di negara mereka juga,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (6/5).

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk kosmetik yang ter notifikasi mayoritas hadir dari produk impor dalam kurun waktu 2011 – 2014. Tahun lalu, produk kosmetik yang teregistrasi sebanyak 36.642 berasal dari produk lokal sebesar 40,52%, produk Asean 4,69%, Eropa 28,58%, dan negara lainnya 26,21%.

Pada 2011 misalnya, produk kosmetik lokal yang ternotifikasi sebanyak 11.519 produk, sementara kosmetik impor yang ternotifikasi sebanyak 12.044 produk.

Berselang tiga tahun kemudian, produk kosmetik lokal yang ternotifikasi sebanyak 11.003 produk, jauh dibandingkan dengan barang impor yang ternotifikasi sebanyak 15.890 produk.

Putri yang juga sebagai Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk. mengatakan tingginya ongkos industri nasional berdampak pada tingginya harga produk kos metik lokal, apalagi jika diban dingkan dengan produk China dan Malaysia.

“Semua negara bisa masuk ke sini, sementara pemerintah tidak memberikan proteksi maupun dukungan pada industri. Pasar dinikmati asing, sementara kita tidak mendapat apapun,” tambahnya.

DAYA SAING

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Alexander Sparringa mengatakan sedikitnya notifikasi produk kosmetik lokal dibandingkan impor karena kemampuan industri masih lemah. Menurutnya, produsen kosmetik yang mayoritas berasal dari industri kecil menengah wajib diberikan pendampingan guna meningkatkan kualitas produknya.

“Kelayakan produk harus dihadirkan, produsen harus menggunakan bahan-bahan yang baik. Tanggung jawab pemerintah untuk mendampinginya, hanya saja harus ada para meter yang jelas,” tuturnya.

Dia mengatakan persepsi IKM yang tidak memiliki produk yang berkualitas harus dipatahkan dengan peningkatan kualitas produksi. “Dari negara Asean lain pendampingannya lebih serius, bahkan kalau dibandingkan dengan Australia pembinaan industri kosmetiknya tertinggal,” katanya.

Pada kesempatan berbeda, President of the ASEAN Cosmetic Association Nuning S. Barwa mengatakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah menjadi fondasi pembukaan pasar dan usaha produksi kosmetika yang dapat membuka peluang dan tantangan untuk perusahaan pemula, usaha kecil menengah (UKM), dan entrepreneur di dunia kecantikan.

“Asean memiliki pasar yang besar, dengan kemiripan geografis yang sama,” katanya. Asean Cosmetic mencatat, tahun lalu kinerja industri kosmetik nasional senilai Rp15 triliun. Tahun ini, pertumbuhan industri dalam negeri ditargetkan melambung kembali dua digit setelah realisasi kinerja 2014 hanya bertumbuh single digit.

“Kami tidak mengetahui persis berapa kinerja ekspornya, tetapi rasanya belum menyentuh 10% dari total kinerja,” tuturnya seusai bertemu Menteri Perindustrian Saleh Husin, akhir pekan lalu.

Berdasarkan hasil riset terakhir oleh AC Nielsen, faktor kesamaan iklim, sosial budaya, daya beli, berpotensi membuat konsumen Asean memiliki preferensi yang sama dengan konsumen Indonesia. Hal ini dapat menjadi pendorong produk kosmetik Indonesia dapat di terima dengan baik di pasar Asean.

Share:

Twitter