BERITA INDUSTRI

Ketahanan Energi Indonesia Merosot


Jumat, 6 Maret 2015

Sumber : Kompas

JAKARTA, KOMPAS — Posisi ketahanan energi Indonesia semakin merosot dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya, ketidakseimbangan laju ketersediaan energi dengan kebutuhan.

Berdasarkan data yang dirilis Dewan Energi Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 129 negara pada 2014. Ketahanan energi meliputi tiga aspek, yakni ketersediaan sumber energi, keterjangkauan pasokan energi, dan kelanjutan pengembangan energi baru terbarukan.

Peringkat itu melorot dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2010, Indonesia ada di peringkat ke-29 dan pada 2011 turun ke peringkat ke-47.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dalimi, mengatakan, posisi Indonesia dalam peringkat ketahanan energi itu disebabkan ketidakseimbangan laju ketersediaan energi dengan kebutuhan energi di masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak dalam negeri terus merosot, sedangkan permintaan selalu meningkat.

"Ketahanan energi kita terbilang rendah karena tidak seimbangnya laju ketersediaan dengan laju kebutuhan energi," kata Rinaldy. Indonesia pun terlalu bertumpu pada minyak bumi sebagai sumber energi, tidak mengembangkan energi lain.

Energi bersih

Pengamat ekonomi Darmawan Prasodjo menekankan pentingnya menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan ketersediaan energi dan kebutuhan energi. Hal ini berkaitan dengan penyediaan energi yang murah, tetapi tetap memperhatikan kondisi lingkungan melalui penggunaan energi bersih. Titik keseimbangan energi harus dipilih. "Pilihan ini berhubungan dengan ketahanan dan keamanan energi nasional," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertambangan dan Energi periode 1978-1988 Subroto, saat berkunjung ke harian Kompas, mengkritik minimnya upaya dalam mencari energi alternatif dan menghemat energi. Kondisi itu akibat belum adanya kemauan politik dari pemerintah. Bahkan, rencana strategis mengenai ketahanan energi nasional juga belum jelas (Kompas, 5/3).

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, kebutuhan energi juga semakin besar, misalnya untuk transportasi dan kebutuhan rumah tangga, seperti penyejuk ruangan.

Dari sisi suplai, ada beragam pilihan energi untuk memenuhinya. Batubara sejauh ini merupakan energi yang ongkosnya murah, Rp 400-Rp 500 per kilowatt jam (kWh). Akan tetapi, emisi gas buangnya 1.000 gram per kWh.

Energi panas bumi dan tenaga surya beremisi rendah, tetapi ongkosnya masih tinggi, yakni Rp 2.000 per kWh untuk tenaga surya dan Rp 1.100-Rp 1.200 per kWh untuk panas bumi. Adapun gas alam menghasilkan emisi 600 gram per Kwh, ongkosnya Rp 600-Rp 700 per kWh.

Cadangan minyak Indonesia yang sekitar 3,7 miliar barrel cukup untuk 11-12 tahun ke depan. Perhitungan ini dengan asumsi produksi 700.000-800.000 barrel per hari. Konsumsi minyak Indonesia saat ini sekitar 1,5 juta barrel per hari.

Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi minyak 6 persen per tahun, pada 2025 kebutuhan minyak menjadi 2,7 juta barrel per hari. Pertumbuhan konsumsi dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pertambahan populasi atau jumlah penduduk di Indonesia.

Energi terbarukan

Perihal energi baru terbarukan, Rinaldy berpendapat, pemerintah sudah memberikan perhatian terhadap pengembangan energi baru terbarukan. Namun, belum padunya antar-kementerian yang terlibat dalam pengembangan energi baru terbarukan menyebabkan program tersebut tersendat.

"Misalnya, pengembangan panas bumi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terganjal aturan larangan pengembangan di kawasan konservasi yang diatur undang-undang di bawah Kementerian Kehutanan. Akibatnya, pengembangannya pun terhambat," tutur Rinaldy.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional yang dirumuskan DEN, peran energi baru terbarukan dalam bauran energi pada 2025 sedikitnya sebesar 23 persen. Pada 2050, porsinya meningkat menjadi sedikitnya 31 persen.

"Tugas kami dari DEN adalah menciptakan sinergi antar-pemangku kepentingan. Tujuannya, agar semua program pemerintah terkait pengembangan energi baru terbarukan menjadi tercapai," ujar Rinaldy.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan, prioritas pemerintah untuk mengembangkan energi baru terbarukan adalah dari panas bumi, hidro, dan bioenergi (biomassa). Alasannya, potensi di Indonesia besar.

Berdasarkan data DEN, potensi panas bumi di Indonesia 28.910 megawatt, potensi tenaga hidro 75.000 megawatt, dan potensi biomassa 32.654 megawatt.

Alternatif

Kementerian Perindustrian menawarkan pemikiran alternatif pemenuhan kebutuhan energi menggunakan torium sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Torium yang tersedia di Indonesia dinilai dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri dalam jangka panjang.

"Sumber daya torium ada di Bangka Belitung sebesar 170.000 ton," kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto.

Torium sebanyak itu diperkirakan cukup untuk mengoperasikan 170 pembangkit listrik berdaya 1.000 megawatt selama 1.000 tahun.

Share:

Twitter