BERITA INDUSTRI

Pelaku Industri Banyak Menghadapi Tantangan


sumber : Koran Jakarta

JAKARTA - Untuk memenuhi standar produk negara tujuan ekspor yang secara khusus mengutamakan produk dari industri ramah lingkungan (industri hijau), pelaku industri Indonesia masih menghadapi banyak tantangan.
Padahal, mau tidak mau atau siap tidak siap, pelaku industri Indonesia mutlak harus menerapkan standar tersebut, meskipun untuk mencapai hal tersebut tidak mudah.
Demikian dikatakan Kepala Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian, Arryanto Sagala, saat memberikan sambutan pada launching Penghargaan Industri Hijau 2013 di Jakarta, Rabu (15/5).
Arryanto mengatakan beberapa permasalahan di sektor industri, antara lain adanya sebagian teknologi maupun mesin-mesin industri yang tidak mampu lagi menghasilkan produktivitas dengan efisiensi tinggi dan menyebabkan daya saing produk menjadi lemah.
"Pembangunan industri memang memberikan dampak positif bagi perekonomian, namun menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan," katanya. Dia menambahkan, dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari pemanfaatan sumber daya alam yang tidak efisien dan adanya limbah industri yang tentunya mencemari lingkungan.
Saat ini, kata dia, kondisi sumber daya alam semakin terbatas, khususnya yang tidak terbarukan, adanya krisis energi, dan menurunnya daya dukung lingkungan.
Untuk mengatasi beberapa tantangan tersebut, lanjut Arryanto, tuntutan untuk mendukung beralihnya sektor industri menjadi industri yang berwawasan lingkungan harus segera dilaksanakan, agar tercipta efisiensi produksi yang menghasilkan produk ramah lingkungan.
Dia menjelaskan pengembangan industri hijau dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti produksi bersih, konservasi energi, efisiensi sumber daya, proses daur ulang, dan teknologi rendah karbon.
"Dengan penerapan industri hijau maka akan tercipta efisiensi pemakaian bahan baku, energi, dan air sehingga limbah ataupun emisi yang dihasilkan menjadi minimal," ucapnya.
Dengan adanya penerapan industri hijau tersebut, kata Arryanto, selain lebih ramah lingkungan, juga akan menimbulkan proses produksi yang lebih efisien dan meningkatkan daya saing produk industri Indonesia.
"Tentunya juga menghasilkan produk ramah lingkungan yang menjadi tuntutan dalam perdagangan global," ujar Arryanto.
Efisiensi Energi
Pada kesempatan itu, Arryanto juga mengatakan bahwa industri nasional sudah mampu menerapkan efisiensi energi dalam kegiatan produksi.
Menurut dia, dengan kemampuan industri nasional menerapkan efisiensi energi, tuduhan yang menyatakan bahwa sektor industri merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca tidak sepenuhnya benar.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM