Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

SIARAN PERS

Kemenperin Mendorong Pengembangan Industri Aluminium Terintegrasi


 

Siaran Pers

 

Kemenperin Mendorong Pengembangan Industri Aluminium Terintegrasi

 

 

 

Industri aluminium adalah industri logam dasar terpenting selain industri tembaga serta besi dan baja yang dibutuhkan pada infrastruktur dan pendukung sektor industri lainnya.Kapasitas terpasang industri aluminium nasional pada tahun 2011 adalah sebesar 684 ribu ton pertahun, di mana 250 ribu ton merupakan produksi PT Inalum dan sisanya diproduksi oleh beberapa industri aluminium lainnya.

 

Konsumsi aluminium dalam negeri berupa aluminium ingot primer, aluminium ingot sekunder, aluminium ekstrusi, sheet dan foil, telah dipenuhi sebanyak 670 ribu ton pada tahun 2011. Konsumsi tersebut berasal dari produksi dalam negeri sebesar 287 ribu ton dan sisanya dari impor sebesar 383 ribu ton. Mengingat besarnya nilai impor tersebut, Kementerian Perindustrian terus berupaya mendorong pengembangan industri aluminium dalam negeri. Demikian dikatakan Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat pada Rapat Kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Gedung DPR-RI Jakarta, Senin (18 Februari 2013).

 

Menperin mengatakan pengambilalihan saham PT. Inalum akan berdampak positif bagi kepentingan nasional, karena PT. Inalum adalah satu-satunya perusahaan peleburan aluminium di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas lengkap dan industri aluminium saat ini memiliki prospek yang baik dan memiliki profitabilitas yang cukup tinggi sehingga diharapkan menjadi langkah menuju integrasi industrialisasi nasional.

 

Menurut Menperin, jika dilihat dari aspek teknis, finansial, dan hukum, pengelolaan PT. Inalum dalam kondisi baik. “Berdasarkan kajian aspek teknis, seluruh aset PT. Inalum yang terdiri dari PLTA, PPA, dan fasilitas penunjang lainnya dalam kondisi baik. Dari aspek finansial, kondisi keuangan PT Inalum saat ini relatif baik dinilai dari sisi profitabilitas, likuiditas, dan struktur permodalannya. Sedangkan, dari aspek hukum, pada umumnya tidak ditemukan adanya pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang berlaku di bidang korporasi, perjanjian-perjanjian dengan pihak ketiga, perizinan, ketenagakerjaan, aset, asuransi, litigasi dan fasilitas penunjang terkait lainnya.”

 

Pengambilalihan saham Nippon Asahan Aluminium sebesar 58,88% di PT Inalum dan pengubahan statusnya menjadi milik Indonesia diperkirakan membutuhkan dana 709 juta dollar AS atau setara Rp 7 triliun. Perinciannya, sebanyak Rp 2 triliun bersumber dari APBN Perubahan 2012 dan telah disetujui. Selebihnya, Rp 5 triliun, berasal dari APBN 2013 dan sekarang masih dalam proses pembahasan Kementerian Keuangan dan DPR. “Dana sebesar Rp. 7 Triliun tersebut akan digunakan untuk Pembelian Aset, Dana Contingency, serta Biaya Operasional perusahaan selama masa transisi,” tegas Menperin.

 

Saat ini kapasitas produksi PT. Inalum sebesar 250.000 ton aluminium ingot per tahun, dengan pemasaran 60% diekspor ke Jepang dan 40% dipasarkan ke dalam negeri. Jumlah karyawan PT. Inalum sekitar 2.000 orang. Kemenperin sedang mengupayakan tambahan investasi untuk PT. Inalum dengan memodifikasi teknologi agar dapat mencapai kapasitas maksimum 320 ribu ton. Bahkan, kapasitas bisa ditingkatkan sampai 455 ribu ton dengan menambah pot line baru.

 

Mengenai rencana pemerintah untuk mengembangkan klaster industri aluminium, Menperin menjelaskan, pengembangan klaster industri aluminium akan difokuskan di daerah Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Sedangkan pasokan bahan baku diperoleh melalui kerjasama dengan PT Antam dan alumina refinery lainnya yang akan mengolah potensi bauksit di Kalimantan Barat, Bintan, dan Riau. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk industri aluminium yang terintegrasi, mandiri, dan berkelanjutan, serta mampu menjadi pemain industri aluminium global.

    

                                    Jakarta, 19 Februari 2013

                                 Kepala Pusat Komunikasi Publik

                                                   Hartono

 

 

 

 

 
 
Share: