Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

SIARAN PERS

FAMILY GATHERING FORWIN 2012


Lantaran sibuk dari rutinitas menjalani profesi sebagai wartawan, sering kali waktu untuk berbagi bersama keluarga menjadi berkurang. Oleh karena itu, menyadari pentingnya menjaga keseimbangan dalam bekerja (worklife balance), para wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Industri (Forwin) melaksanakan Family Gathering selama dua hari, Sabtu-Minggu, 30 Juni – 1 Juli 2012, di Lembang Asri Resort, Bandung, Jawa Barat.

Di tengah lokasi yang asri dengan pemandangan indah dan udara yang sejuk, panitia menggelar beragam kegiatan, mulai dari diskusi hingga permainan menarik yang membuat para keluarga peserta terhibur dan menyenangkan. Di hari pertama, acara dimulai pukul 14.00 WIB dengan melaksanakan tiga sesi diskusi yang mengambil tema utama “Tantangan dan Hambatan Industri Nasional”. Sesi diskusi yang diikuti seluruh anggota Forwin ini, menghadirkan para narasumber dari Kemenperin dan pelaku industri.

Pada diskusi pertama, tema yang diangkat adalah seputar perkembangan idustri otomotif. Coordinator of the Working Group Statistics, Information, and Cooperation Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) M. Leman Natakusuma selaku pembicara mengungkapkan, industri otomotif akan tetap tumbuh pada 2012. Indikasinya, penjualan mobil setiap bulan mencapai 83 ribu unit. Bahkan, Gaikindo menargetkan penjualan mobil akan mencapai 1 juta unit pada 2012.

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil di semester I mencapai 433 ribu unit. Penjualan diprediksi mencapai 500 ribu unit hingga Juni 2012. "Berarti, baru lima bulan sudah mencapai angka 400 ribu. Kalau seperti ini, sepertinya angka 1 juta unit bisa tercapai," kata Leman. Angka penjualan mobil Indonesia tahun lalu mencapai 894.180 unit, atau naik 17% dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Sekretaris Dirjen IUBTT Kemenperin Syarif Hidayat mengapresiasi perkembangan industri otomotif di Indonesia. Menurut Syarif, Indonesia merupakan tempat investasi yang menarik bagi perusahaan otomotif terkemuka seperti Toyota dan Daihatsu. "Kemungkinan sebentar lagi Nissan dan Suzuki akan bangun di sini," katanya. Jumlah perusahaan roda empat di Indonesia saat ini sudah mencapai 20 perusahaan. Meskipun tidak semua perusahaan itu melakukan aktivitas industri, setidaknya perusahaan otomotif sudah menyerap banyak tenaga kerja.

Pada diskusi kedua, terungkap bahwa perkembangan industri hilir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Indonesia masih berjalan lamban, setidaknya dibandingkan dengan Malaysia. Indonesia saat ini baru menghasilkan 47 produk turunan CPO, sedangkan Malaysia sudah mencapai 100 produk turunan. Meski berjalan lambat, jumlah produk turunan CPO Indonesia sudah membaik ketimbang beberapa tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 23 produk turunan.

"Kami memacu hilirisasi yang akan menghasilkan nilai tambah berlipat. Semakin ke hilir, nilai tambahnya semakin tinggi," ujar Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin Aryan Warga. Menurut Aryan, pemberlakuan bea keluar (BK) CPO berdampak positif pada peningkatan hilirisasi di dalam negeri, terbukti dengan peningkatan jumlah produk turunannya. Di Indonesia, turunan produk CPO banyak digunakan industri pangan berupa minyak goreng, margarin, shortening, dan vegetable ghee.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sait Indonesia (Gapki) mencatat, saat ini terdapat 1.911 industri sawit di Indonesia yang menghasilkan 23,5 juta ton CPO dari area 8,2 juta hektare lahan. Gapki menyarankan, besaran BK CPO dan hilirnya perlu dikaji kembali. "Level BK untuk produk hilir sebaiknya dinolkan dan level untuk CPO dikurangi," kata Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan. Menurut Fadhil, fungsi instrumen BK CPO tidak efektif dan tumpang tindih. Di satu sisi, kebijakan itu bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara. Di sisi lain, BK CPO untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk industri minyak goreng di dalam negeri dan hilirisasi industri berbasis CPO.

Sedangkan, pada diskusi sesi ketiga, Dirjen BIM Kemenperin Panggah Susanto mengatakan, kebijakan gas diharapkan bersifat jangka panjang, sehingga mendukung pertumbuhan industri dalam negeri. "Kalau bicara gas harus melihat jangka panjang karena dari sisi konsumsi industri ada 400 perusahaan yang menggantungkan hidupnya dari gas dan ke depan pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, apalagi Indonesia menarik untuk investasi," paparnya.

Menurut Panggah, perlu ada satu kebijakan yang menyeluruh dari sisi hulu maupun hilir sehingga kedua pihak diuntungkan. Artinya, di satu pihak ada kepastian pasokan dan di pihak lain ada harga yang juga menguntungkan, saat ini kebijakan itu masih terpisah-pisah. Panggah menyatakan, industri Indonesia tumbuh namun infrastruktur belum siap. Padahal, pemerintah menargetkan ekspor dari komoditas olahan akan mencapai 90 persen.

Saat ini industri mendapat suplai gas sekitar 50 persen dari Perusahaan Gas Negara (PGN) dan kontrak pasokan juga tidak bersifat jangka panjang melainkan tahunan, sehingga tidak ada jaminan pasokan gas. Data menunjukkan pada 2012 total gas yang dibutuhkan industri adalah 2.873,47 million metric standard cubic feet per day (mmscfd), sedangkan pada 2013 meningkat 3 persen menjadi 2.958,58 mmscfd dan pada 2014 bertambah 1,2%, yaitu 2.995,58 mmscfd.

Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan Perusahaan Gas Negara (PGN) Jobi Hasjim mengungkapkan, pihaknya saait ini baru dapat memproduksi sekitar 800 mmscfd. "Kalau saat ini industri meminta pasokan gas hingga lebih dari 2.000 mmscfd, kami belum dapat penuhi karena baru dapat mengirimkan sekitar 845 mmscfd. Jadi mungkin harus impor, tapi harganya juga tidak akan lebih murah dari 10 dolar AS dan sampai ke Indonesia dapat mencapai 15-16 dolar AS," papar Jobi.

Terkait penetapan kenaikan harga gas oleh PGN Mei lalu, ia mengklaim tujuannya bukan untuk meningkatkan keuntungan PGN, tapi karena kenaikan biaya produksi di hulu. "Kami memang akan mendapat tambahan pasokan 440 mmscfd dari ConocoPhillips dan 250 mmscfd dari Pertamina, tapi sampai sekarang volume yang dijanjikan belum tercapai, jadi butuh biaya untuk eksplorasi baru," jelas Jobi. Dari tiga sesi tersebut, para peserta tampak serius menyimak semua paparan dari para narasumber. Hasil paparan tersebut, mereka olah menjadi tulisan berita untuk media masing-masing. Sedikitnya ada 40 media nasional baik cetak maupun elektronik yang diwakilkan oleh masing-masing peserta.

Seusai sesi diskusi, para peserta sejenak istirahat dan melanjutkan acara malamnya dengan makan malam bersama sekaligus menikmati hiburan musik dan pembagian doorprize. Kebersamaan dan keeratan antar-keluarga Forwin terlihat jelas, bahkan kegembiraan memuncak ketika peserta mendapat hadiah menarik dari panitia. Pada acara ini dihadiri pula oleh Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun, Sekjen Kemenperin Ansari Bukhari, Dirjen KII Agus Tjahajana, dan Dirjen IKM Euis Saedah. Acara malam itu diakhiri dengan bernyanyi bersama.

Pada hari kedua, sekitar pukul 09.00 WIB, panitia menggelar permainan yang diikuti para keluarga peserta, mulai dari istri/suami, anak, hingga cucu. Permainan yang digelar pun beragam, antara lain lomba makan kerupuk, memasukan pensil ke dalam botol, menggiring balon, dan bermain paintball. Semua permainan dilakukan dengan penuh keceriaan. Tawa lepas pun menggema ketika peserta lomba tanpa sengaja mengundang kelucuan. Tak terasa, di penghujung siang, kegiatan family gathering di Lembang Asri Resort berakhir. Semua rombongan bersiap pulang. Dalam perjalanannya, para peserta menyempatkan untuk wisata belanja di Jalan Riau, Bandung.

Dari seluruh rangkaian kegiatan family gathering tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kinerja para anggota Forwin di tengah kompetisi antarmedia yang semakin ketat. Oleh karena itu, family gathering diciptakan dengan suasana kekerabatan yang diwujudkan melalui silaturahmi untuk mempererat komitmen dan persahabatan yang menumbuhkan kebersamaan dalam pelaksanaan tugas masing-masing, antara Forwin dengan mitra kerja di Kementerian perindustrian dan pelaku industri.

Dapat disampaikan, Forwin merupakan organisasi nirlaba yang mewadahi para wartawan dari berbagai media massa nasional, yang secara khusus meliput aktivitas perindustrian. Forwin juga merupakan mitra kerja yang strategis bagi Kemenperin karena berperan penting dalam menyebarluaskan informasi kebijakan, capaian sektor industri, serta langkah-langkah atau upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian.

 

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.                

                                                   

                                                                                    Jakarta, 1 Juli 2012

                                                                                   PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK

                                                                                 KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 

Share: