
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaksanakan peringatan Isro’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Ruang Garuda, Gedung Kemenperin, Jakarta, Rabu (27 Juni 2012). Acara keagamaan yang rutin dilaksanakan Kemenperin tiap tahunnya ini, dihadiri Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat, Sekjen Kemenperin Ansari Bukhari, dan para pejabat eselon 1 serta karyawan Kemenperin. Acara ini terselenggara atas kerjasama Pengurus KORPRI dengan Pengurus Wredatama Kemenperin.
Dalam sambutannya, Menperin berharap peringatan Isro’ dan Mi’raj dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan meyakini kebenaran risalah Nabi Muhamad SAW. Selain itu, diharapkan juga akan semakin memperkuat motivasi bekerja para karyawan Kemenperin sebagai aparatur pemerintah. “Melalui momentum ini dapat meningkatkan kesadaran pentingnya memahami nilai-nlai kepribadian sebagai muslim sekaligus sebagai aparatur yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya,” tegas Menperin.
Menperin menyatakan, Kemenperin akan mengembangkan pembangunan industri nasional sesuai Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Indonesia diharapkan menjadi negara industri tangguh pada tahun 2025, di mana sektor industri Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar.
Kriteria dasar tersebut antara lain: memiliki peranan dan kontribusi tinggi bagi perekonomian nasional, IKM memiliki kemampuan yang seimbang dengan industri besar, memiliki struktur industri yang kuat, teknologi maju telah menjadi ujung tombak pengembangan dan penciptaan pasar, serta telah memiliki jasa industri yang tangguh dan menjadi penunjang daya saing internasional industri.
Untuk mewujudkan kriteria tersebut, menurut Menperin, diperlukan upaya-upaya terstruktur dan terukur. Selain itu juga, dibutuhkan aparatur yang memiliki motivasi dan kemampuan kerja yang penuh dedikasi. Oleh karena itu, sesuai pesan Menperin tersebut, KH. Mudjib Khudori selaku penceramah mengimbau agar di dalam kehidupan sehari-hari perlu proses tabayyun atau mengecek kebenaran suatu informasi, agar tidak simpang siur dan menimbulkan fitnah.
Menurut Mudjib Khudori, pemimpin seharusnya bertabayun dengan segala hal. Jika pemimpin ber-‘telinga tipis’, maka akan mudah terhasut dengan berita bohong. “Akan sangat berbahaya bila pemimpin menjadi mudah terhasut. Karena prinsip kepemimpinan salah satunya adalah memiliki keputusan yang bijaksana,” tegasnya. Oleh karena itu sudah seharusnya dalam kehidupan berorganisasi, prinsip tabayun menjadi pilar dalam menangani berbagai permasalahan. Sehingga komunikasi antara anggota organisasi berjalan dengan baik.
Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.
Jakarta, 27 Juni 2012
Pusat Komunikasi Publik
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
Share:
