Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

BERITA INDUSTRI

Berupaya Penuhi Kebutuhan Industri Pengolahan


Di tengah keterbatasan pasokan daging akibat kebijakan penurunan kuota impor, pemerintah terus berupaya mencari jalan keluar. Terlebih sampai sekarang, pasokan daging dalam negeri baik sisi kuantitas dan kualitas belum mampu memenuhi harapan industri pengolahan.Semakin seretnya pasokan sehingga tidak sedikit beberapa industri pengolahan sudah gulung tikar.

Demi mengantisipasi dampak negatif tersebut, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menambah kuota impor dan me¬misahkan kuota impor daging untuk industri pengolahan dengan daging konsumsi.

Untuk mengurangi kekurangan pasokan daging, Benny mengusulkan kepada Kementerian Pertanian segera memisahkan kuota daging impor ditujukan bagi industri pengolahan dan daging konsumsi.

"Saat ini banyak industri daging pengolahan mengalami kekurangan bahan baku daging akibat pengurangan kuota impor daging. Karena itu, harus dipisahkan mana yang untuk industri atau untuk dikonsumsi," katanya.

Pemerintah juga mengakui adanya kekurangan pasokan daging di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Untuk menghindari kenaikan harga daging di tiga provinsi tersebut, maka daerah yang surplus daging diminta turut memberikan pasokan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengakui adanya deficit pasokan daging untuk ketiga wilayah tersebut. Total defisit daging sapi untuk tiga daerah tersebut sekitar 16 ribu ton dengan perhitungan defisit di DKI Jakarta sebesar 10.960 ton, Jawa Barat sebesar 3.523 ton dan Banten sebesar 2.577 ton.

"Defisit daging itu bakal dipenuhi dari delapan daerah yang mengalami surplus daging yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) Lampung dan Sulawesi Selatan," tuturnya.

Menurut Syukur kukurangan pasokan untuk tiga daerah minus daging itu, bisa diatasi dengan meminta pengiriman daging sapi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena, dua wilayah tersebut termasuk surplus daging yakni Jawa Tengah kelebihan 7.000 ton sedangkan Jawa Timur surplusnya 17.000 ton.

Dikatakan, tiga daerah defisit tersebut memang menjadi sentra konsumen (buyer) dengan konsumsi daging cukup besar. Untuk itu delapan daerah yang mendominasi 60-70 persen sentra populasi sapi tersebut diharapkan menjamin pasokan di daerah defisit. Untuk memastikan kekurangan dan pasokan di Jabodetabek, termasuk Banten dan Jawa Barat, maka Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi terkait melakukan perhitungan secara periodik untuk memastikan pasokan ke daerah defisit daging diutamakan.

Sementara Ketua Komite Daging Sapi, Sarman Simanjorang menambahkan, kurangnya kesiapan pemerintah untuk memenuhi stok daging nasional membuat dunia usaha semakin khawatir. Namanya swasembada adalah segala sesuatunya dipenuhi oleh produk lokal, bukan impor.

Padahal, untuk daging ini sendiri, saat ini lebih di dominasi oleh daging dari impor. "Dari stok sapi yang dimiliki jelas sekali kalau kita tidak siap untuk melakukan swasembada daging. Jika tidak siap hendaknya jangan terlalu dipaksakan," tutur dia. 

sumber : Koran Jakarta

Share: