KEGIATAN KEMENPERIN

Jumpa Pers Dirjen PPI Kemenperin: “Kenaikan BBM Dan TDL Diperkirakan Akan Mengkoreksi Output Sektor Manufaktur”


JAKARTA—Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin, Dedi Mulyadi mengadakan Jumpa Pers bersama sejumlah media cetak dan elektronik yang tergabung dalam ‘FORWIND’ siang tadi di Kemenperin (7/3).Hasil kajian tersebut dilakukan oleh Kemenperin menyikapi rencana kenaikan BBM dan TDL, karena diperkirakan kenaikan ini akan berdampak terhadap sektor industri pengolahan non migas dan ekonomi makro Indonesia.

Kajian dilakukan terhadap sembilan sektor industri, yakni sektor mamin dan tembakau, tekstil, barang kulit dan alas kaki, barang kayu dan hasil hutan lainnya, kertas dan barang cetakan, pupuk, kimia dan barang dari karet, semen dan barang galian bukan logam, logam dasar besi dan baja, alat angkut, mesin dan peralatannya, serta barang lainnya.

Kajian tersebut menggunakan Computable General Equilibrum (CGE) sebagai alat analisa utama dan menggunakan tabel Input-Output (IO) tahun 2008 dari perkembangan 2005. IO sendiri dibuat kajiannya setiap lima tahun sekali sejak 1975. CGE Model Comparative Static ini digunakan untuk mengkaji besaran dampak kenaikan harga BBM dan TDL terhadap kinerja ekonomi makro Indonesia.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Kenaikan BBM, khususnya premium, masing-masing sebesar 33% dan 44% akan berdampak langsung pada peningtakan biaya transportasi masing-masing sebesar 18,6% dan 23,8%. Peningkatan biaya transportasi akan berdampak pada sektor-sektor ekonomi pengguna jasa transportasi dan ekonomi makro Indonesia.

Kenaikan BBM masing-masing sebesar 33% dan 44% menurunkan output sektor industri pengolahan non-migas relatif kecil yaitu hanya -0,12% dan -0,14%. Sementara itu kenaikan TDL 10% juga menurunkan output sektor industri pengolahan non-migas relatif kecil yaitu hanya -0,14%. Kenaikan BBM sebesar 33% dan 44% dan TDL 10% secara bersama-sama menurunkan output sektor industri pengolahan non-migas relatif kecil masing-masing sebesar -0,26% dan -0,29%.

Dari sembilan cabang industri pengolahan non migas, hanya output sektor makanan dan minuman (mamin) dan tembakau yang tetap tumbuh menyusul kenaikan harga BBM. Yakni, sekitar 0,07% jika naik 33% dan 0,08% jika naik 44%. Sedangkan, akibat kenaikan TDL, output sektor mamin dan tembakau tetap timbuh 0,06% dan industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 0,05%.

Seperti diketahui sektor mamin dan tembakau sendiri membeikan kontribusi sekitar 35,20% terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional. Penyumbang terbesar kedua adalah industri alat angkut, mesin dan peralatannya yang mengalami koreksi output 0,25% jika BBM naik 33% dan jika TDL naik 10% bakal terkoreksi 0,23%.
Sementara itu, apabila kenaikan harga BBM sebesar 33% dan TDL sebesar 10% dilakukan secara serentak, dampak terhadap output industri nasional akan mengakibatkan penurunan sebesar 0,26%. Dan, jika BBM naik 44% secara berbarengan dengan kenaikan TDL sekitar 10%, output target pertumbuhan industri manufaktur nasional akan terkoreksi 0,29%.

Menurut Dirjen PPI, dampak kenaikan BBM dan TDL, termasuk jika dilakukan secara bersamaan, tidak terlalu besar. Industri tetap aman. “Kita tetap yakin pada target pertumbuhan sesuai Renstra tahun 2012 yang sebesar 6,75%. Sektor mamin dan tembaku, merupakan sektor yang tidak rentan terhadap perubahan-perubahan ini,"

Ditambahkan bahwa konsumsi domestik yang menopang hingga 50% perekonomian nasional menjadi salah satu kekuatan yang masih diandalkan. Apalagi disokong oleh peningkatan pendapatan per kapita yang saat ini menjadi US$ 3.500 dari US$ 3.000 tahun 2010. Realisasi investasi yang direncanakan tahun lalu, juga dapat  dinikmati tahun ini. "Dengan memacu belanja konsumsi di dalam negeri, baik oleh swasta dan pemerintah melalui P3DN, memperbaiki iklim investasi, menjaga keseimbangan ekspor-impor, serta mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur, kita bisa menikmati pertumbuhan 7-7,2%. Jadi, dengan kinerja sama, tapi dengan beberapa perubahan akibat penaikan harga BBM dan TDL, maka kita tetap bisa sesuai target Renstra. Apabila ditambah dengan perbaikan kondisi dan infrastruktur, diharapkan kita bisa menikmati pertumbuhan lebih," Demikian Dirjen PPI, Dedi Mulyadi.*** (Puskom-yi)

Share:

Berita Serupa

Kegiatan Lainnya  

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018