BERITA INDUSTRI

Permintaan Topang Industri Tekstil


Sumber: Kompas (13/02/2019)


JAKARTA, KOMPAS – Kementerian Perindustrian dalam analisis perkembangan industri Edisi IV-2018 menyebutkan, setelah tumbuh negatif tahun 2015 dan 2016, industri tekstil dan produk tekstil tumbuh 2,89 persen selama Triwulan I-III tahun 2017 dan 7,98 persen pada Triwulan I-III tahun 2018. Namun, para pelaku usaha berharap pemerintah membuka akses pasar melalui perjanjian perdagangan untuk melipatgandakan ekspor.


Sepanjang tahun lalu, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tumbuh 8,73 persen. Selain peningkatan permintaan dari pasar dalam dan luar negeri, pertumbuhan itu didorong oleh investasi di sektor ini, terutama di Jawa Tengah.


Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi 366 proyek penanaman modal dalam negeri senilai Rp 3,596 triliun di industri tekstil sepanjang tahun lalu. Sementara realisasi penanaman modal asing mencapai 305,39 juta dollar AS untuk 715 proyek. Sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja sektor industri manufaktur terserap di industri TPT.


“Kami meyakini bahwa industri tekstil itu bukan sunset industry atau industri yang akan tenggelam. Industri ini justru potensial untuk terus berkembang,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar, Selasa (12/2/2019).


Menurut Haris, permintaan produk TPT diyakini selalu tumbuh. Sebab, populasi terus bertambah, selera atau mode pakaian juga terus berkembang. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha berupaya menyiapkan dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM), antara lain melalui pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja.


Industri ini juga jadi andalan karena kontribusinya dalam menyerap tenaga kerja dan sumbangan devisanya. Industri TPT merupakan satu dari lima sektor yang diprioritaskan dalam penerapan industri generasi keempat selain industri makanan minuman, otomotif, elektronika, dan kimia.


Akses pasar


Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudrajat berpendapat, pertumbuhan industri TPT tahun 2018 tidak lepas dari perkembangan di Jawa Tengah, seperti Boyolali, Sukoharjo, dan Solo. Selain investasi baru, industri yang tumbuh di Jawa Tengah merupakan relokasi dari daerah lain.


Pilihan relokasi ke di Jawa Tengah terutama dipicu selisih upah minimum yang bisa Rp 1 juta lebih rendah dibandingkan di Jawa Barat. “Dengan selisih upah sebesar itu, perusahaan yang punya 1.000 pekerja bisa menghemat Rp 1 miliar per bulan,” kata Ade.


Kinerja ekspor TPT tahun lalu dinilai cukup baik, nilainya mendekati Rp 14 miliar dollar AS atau naik sekitar 6 persen dibandingkan tahun 2017 yang 13,2 miliar dollar AS. Menurut Ade, dukungan akses pasar, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, diyakini bakal mendongkrak pertumbuhan industri TPT lebih tinggi lagi.


“Apabila pembicaraan terkait FTA (perjanjian perdagangan bebas) ke negara-negara pasar utama tersebut bisa selesai, dalam 3-4 tahun ekspor TPT Indonesia bisa naik 100 persen dalam 3-4 tahun,” katanya.


Kementerian Perindustrian menyebutkan, pemerintah tengah berupaya membuat perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk memperluas pasar ekspor TPT. Sebagai perbandingan, produk TPT Vietnam yang lebih maju di sisi kerja sama perdagangan bisa masuk ke pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa dengan tarif bea masuk nol persen. Sementara produk tekstil Indonesia masih dikenakan bea masuk 5-20 persen.


Terkait pengembangan SDM, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya melalui pembenahan kurikulum sekolah kejuruan. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, penyiapan SDM terampil tengah dilakukan guna mendukung industri padat karya. Pengembangan industri TPT juga mendapat perhatian.


Ketua Asosiasi Pengusaha Jabar Deddy Wijaya mengatakan, industri tekstil dan garmen pun mau tidak mau harus beradaptasi di era revolusi industri 4.0. Butuh inovasi agar potensi berkurangnya tenaga kerja di industri TPT tidak menjadi beban. (IKI/TAM/SEM/BAY)



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM