BERITA INDUSTRI

Ekonomi Global Tekan IKM


Sumber: Republika (12/02/2019)


JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) mencapai 5,5 persen sampai akhir 2019. Target itu lebih rendah daripada pencapaian pada 2018 yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 5,6 persen secara tahunan dibandingkan dengan 2017.


Direktur Jenderal IKM dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, target tersebut dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi internasional yang diperkirakan masih tidak stabil. "Mau tidak mau, ekonomi dunia pasti berpengaruh terhadap ekonomi kita, termasuk IKM," ujar Gati ketika dihubungi Republika, Senin (11/2).


Namun, Gati menjelaskan, target tersebut lebih tinggi dibanding dengan target pertumbuhan industri nonmigas, yakni 5,4 persen. la melihat peluang peningkatan produktivitas sektor IKM unggulan, seperti tekstil dan produk tekstil.


Kondisi ekonomi dunia berpengaruh terhadap permintaan produk dari Indonesia. Bila situasi membaik, permintaan juga membaik. Sebab, tidak sedikit produk yang diminta adalah produk IKM.


Saat ini hanya sekitar 300 IKM yang sudali berkapasitas ekspor. Angka tersebut hanya sekitar 1 persen dari total 27 ribu I KM. "Taluin ini kami targetkan 3.000 I KM dapat ekspor ke berbagai negara," katanya.


Amerika dan Eropa masih menjadi pasar tradisional sasaran ekspor produk IKM. Selain dua pasar "lama" itu, Kemenperin berencana memperluas negara tujuan, termasuk ke kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah hingga Afrika.


Selain IKM, Kemenperin turut mendukung pembinaan perusahaan rintisan (startup) untuk go international melalui program Asia Entrepreneurship Training Program (AETP). Pelatihan ini mendorong perusahaan rintisan untuk dapat bersaing di dunia global.


Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, mengatakan, pertumbuhan industri secara keseluruhan tetap akan menurun, baik skala besar maupun kecil dan menengah. la melihat ada dua faktor yang melandasi.


Pertama, investasi baru kembali membaik setelah pemilihan presiden 2019, terutama investasi asing yang membawa modal besar. Kedua, penyeimbangan kembali (re-balancing) perdagangan dimulai setelah ada kesepakatan baru antara Cina dan Amerika Serikat, yang sampai saat ini masih dalam proses perundingan.


Andry menambahkan, sebenarnya IKM bukan pasar ekspor yang justru dikejar. Sebab, dari segi produk, nilai kompetisi produk IKM masih cukup rendah sehingga akan kewalahan apabila harus bersaing dengan produk luar negeri. "Itu baru dari segi kualitas, kita belum berbicara soal kuantitas," kata dia.


Alih-alih untuk pasar ekspor, IKM diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri besar. Meski dapat berasal dari dalam negeri, akan lebih baik jika industri besar itu di luar negeri. Sebab, otomatis target ekspor pemerintah akan naik karena I KM menjadi bagian dari rantai pasok global.


Selain itu, IKM seharusnya bisa menjadi penghalang impor bahan baku dengan meinberikan produknya kepada industri besar yang membutuhkan. Selama ini, industri besar tidak dapat menghasilkan bagian kecil dari produknya karena masalah skala keekonomian.


Andry menekankan, pemerintah harus menjadikan IKM bagian dari rantai industri dalam negeri dulu, baru setelah itu berbicara ekspor. Tanpa hal itu, IKM akan sulit berkembang.


Ada dua syarat agar IKM bisa menjadi bagian dari industri besar, yaitu harga kompetitif dan kualitas yang baik. la belum melihat program e-Smart IKM dari Kemenperin dilakukan secara progresif. "Pendekatan yang dilakukan masih terlalu kuno dan belum menampilkan produk IKM secara nyata," kata Andry.


Seharusnya, bila ingin menguasai platform niaga daring, IKM perlu didorong, misalnya dengan tampil di halaman muka atau menjadi bagian dari promo belanja di niaga daring. Dengan begitu, masyarakat lebih tertarik untuk membeli produk-produk IKM.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM