BERITA INDUSTRI

Perkuat Kemitraan dengan Industri Besar


Sumber: Bisnis Indonesia (12/02/2019)


JAKARTA - Kemitraan atau linkage antara industri kecil dan menengah (IKM) dan industri besar perlu diperkuat untuk memacu kontribusi sektor ini terhadap ekonomi nasional.


Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, mengatakan bahwa saat ini efek multiplier dari industri besar belum bisa dinikmati IKM karena linkage antar industri belum terbangun optimal.


"Saat ini linkage-nya kurang, yang industri besar maju, tetapi dampak ke IKM sebagai pendukungnya kurang karena tidak nyambung secara maksimal,” ujarnya, Senin (11/2).


Menurut Faisal, mealui linkage yang kuat, industri besar yang memiliki teknologi maju dengan akses besar, mampu mentransfer kemampuan dan membuka pintu pasar bagi IKM.


Sektor industri yang telah memiliki linkage antara IKM dan industri besar yang cukup kuat antara lain industri makanan minuman dan industri otomotif.


Adapun untuk industri mikro, pemerintah perlu meningkatkan kemudahan akses pembiayaan serta menyediakan berbagai macam pendampingan, seperti peningkatan kemampuan dalam mengemas produk.


"Insentif pembiayaan untuk industri mikro harus dijalankan secaramaksimal, harus ada terobosan yang istimewa.”


Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan sektor IKM hanya pada rentang 5%-6% pada tahun ini lantaran kondisi perlambatan ekonomi global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun lalu, industri mikro dan kecil tumbuh 5,66%, sedangkan industri besar dan sedang tumbuh 4,07%.


Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, mengatakan bahwa pertumbuhan sektor industri IKM pada tahun ini tidak akan beranjak jauh dari angka pertumbuhan tahun lalu, yaitu berkisar di angka 5%. Penyebabnya adalah perlambatan ekonomi global.


TIDAK BESAR


Bank Dunia telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini. Dalam riset terbaru Bank Dunia, ekonomi dunia pada tahun ini diproyesikan hanya tumbuh 2,9%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, 3% yang dirilis pada Juni 2018. "Kami targetnya enggak besar, sekitar 5%, kalau bisa mencapai 6%, bagus.”


Dia menjelaskan lebih jauh bahwa perlambatan ekonomi dunia akan berpengaruh ke permintaan produk IKM yang mensuplai produk ekspor.


Selain itu, kinerja industri besar yang lebih banyak mengirim ke pasar ekspor juga berpengaruh terhadap kinerja IKM.


"Misalnya, kalau permintaan ekspor naik, dengan banyaknya tenaga kerja yang bekerja untuk industri besar, mereka belanjanya ke IKM. Jadi, saling berkaitan,” katanya.


Adapun, negara yang menjadi tujuan utama produk ekspor IKM dalam negeri adalah Amerika Serikat dan negara-negara lainnya di kawasan Eropa. Produk yang banyak diekspor berupa kerajinan tangan. Pada 2017, nilai ekspor kerajinan US$776 juta atau naik 3,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang US$747 juta.


Gati menambahkan, sektor andalan untuk IKM sama dengan sektor prioritas pemerintah, yaitu industri makanan dan minuman, otomotif, kimia, elektronik, dan tekstil.


"Tetapi, untuk IKM tambah satu sektor, yaitu kerajinan karena perhiasan banyak ekspor.”


Prioritas Kemenperin dalam pengembangan IKM tahun ini ialah mempermudah akses pasar melalui e-Smart IKM untuk membuka akses pasar di era teknologi digital.


Kemenperin juga menjalankan program Santripreneur untuk membangun mental dan kemampuan wirausaha para santri, sehingga membantu peningkatan kontribusi terhadap perekonomian nasional.


Adapun, untuk mendorong peningkatan industri pengolahan kelapa, Kemenperin segera memperluas program Kelapa Terpadu ke wilayah Gorontalo, Jambi, Riau, dan Minahasa. Sebelumnya, program ini dimulai tahun lalu di Halmahera.


"Kami juga meneruskan program untuk sektor fesyen muslim yang sudah dimulai sejak 2 tahun lalu. Pada 2020 kami proyeksikan Indonesia akan menjadi pusat industri fesyen muslim,” katanya. 



Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM