BERITA INDUSTRI

Pasokan Kakao Lokal Harus Dipacu


Sumber: Bisnis Indonesia (12/02/2019)


BATANG - Pengembangan kapasitas produksi industri olahan kakao perlu diiringi peningkatan produksi biji kakao lokal. Selain dapat menekan impor, produksi kakao lokal juga dapat membantu petani.


Berdasarkan data Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), kapasitas terpasang industri olahan kakao saat ini mencapai 800.000 ton. Kapasitas terus bertambah dengan dioperasikannya Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah dengan kemampuan 6.000 ton.


Ketua Umum AIKI Pieter Jasman mengatakan produksi biji kakao saat ini yang berkisar 260.000 ton belum mampu penuhi kebutuhan industri olahan kakao. Kekurangan bahan baku tersebut dipenuhi dari biji kakao impor yang berdasarkan data AIKI, pada November 2018 nilainya mencapai US$479,32 juta.


Jumlah tersebut meningkat 7,9% dibanding periode yang sama pada 2017 (y-o-y) sebesar US$446,22 juta. AIKI memperkirakan, sepanjang 2018 impor biji kakao mencapai 240.000 ton, sedangkan pada tahun sebelumnya sebesar 226.000 ton.


Pieter menuturkan untuk menekan impor, pemerintah perlu menganggarkan kembali program gerakan nasional (Gernas) Kakao yang diharapkan dapat mendongrak produksi biji kakao.


"Pemerintah perlu menganggarkan program Gernas untuk membantu para petani kakao nasional, mengingat bahwa sebagian besar pohon kakao petani sudah tua sehingga produktivitasnya rendah. Rata-rata hanya 300 kg/hektare,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (11/2).


Dia menilai pengembangan program Gernas Kakao sejalan dengan target pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen biji kakao terbesar di dunia seperti pernyataan Presiden Joko Widodo pada akhir 2014 di Mamuju, Sulawesi Barat.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan produksi biji kakao akan terus digenjot, di antaranya melalui riset dan aplikasi hasil riset tersebut. Dia menjelaskan, produktivitas PT Pagilaran yang mengelola PPKIPKT masih berkisar satu ton per hektare. Apabila ditingkatkan, katanya, produktivitas dapat mencapai 4 ton per hektare.


"Pertama, di hulunya itu harus ada bibit yang bagus, karena efisiensi kita kan masih rendah. Jadi arahnya mesti dioptimalisasi,” ujar Airlangga di Batang, Senin (11/2).


Dia berharap impor bahan baku yang masih besar diarahkan pada industri pengolahan kakao yang berorientasi ekspor. Hal tersebut agar pemberian nilai tambah pada bahan baku dapat memberikan keuntungan sembari mengembangkan produksi biji kakao.


Berdasarkan catatan AIKI, neraca dagang industri kakao olahan menunjukkan peningkatan surplus 9,11%. Pada Januari-November 2018 mencapai US$958,41 juta, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$878,36 juta.


Ekspor kakao olahan pada Januari-November 2018 mencapai US$1,02 miliar, atau meningkat 8,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$945,09 juta.


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmi) Adhi Lukman menilai pasokan bahan baku biji kakao dalam negeri perlu ditingkatkan. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong revitalisasi perkebunan kakao serta pengupayaan benih yang lebih produktif.


"Dari sisi pelaku industri kakao perlu insentif pembedaan harga jika biji kakao difermentasi. Petaninya menurut saya harus komitmen, kalau memang pelaku usaha memberikan harga yang lebih baik untuk fermentasi, lakukan [fermentasi] dengan benar, supaya saling menguntungkan,” ujar Adhi.


PERMINTAAN NAIK


Sementara itu, ekspor biji kakao beberapa waktu terakhir terus meningkat seiring naiknya permintaan mancanegara. Salah satu negara yang meningkatkan permintaannya adalah Malaysia.


Berdasarkan data AIKI, ekspor biji kakao pada Januari-November 2018 mencapai US$71,67 juta, atau meningkat 39,81% jika dibandingkan dengan ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$51,26 juta.


Pieter mengatakan peningkatan produksi biji kakao bukan hanya penting bagi industri olahan kakao dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor. Bahkan, The International Cocoa Organization memperkirakan permintaan kakao global akan meningkat hingga 4 juta ton/tahun pada beberapa waktu mendatang.


Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono menjelaskan, peningkatan permintaan tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia menyalip posisi Belanda dan Jerman sebagai produsen kakao terbanyak.


Guna meningkatkan produksi, katanya, diperlukan kerja sama berbagai pihak dalam mengembangkan riset dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang industri kakao dan olahan kakao.


Fasilitas PPKIPKT diresmikan di Batang, Jawa Tengah, Senin (11/2) dan bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kakao. Peresmian dihadiri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; Bupati Batang Wihaji; dan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono.


Fasilitas yang dibangun sejak 2017 itu merupakan hasil kerja sama Kemenperin dengan Pemerintah Kabupaten Batang dan Universitas Gadjah Mada (UGM). PPKIPKT merupakan satu-satunya pabrik pengolahan kakao yang terintegrasi dengan kebun kakao dan pusat pengembangan SDM.


Fasilitas seluas 9.000 meter persegi tersebut dilengkapi mesin dan peralatan pengolahan kakao berkapasitas 6.000 ton dengan nilai investasi Rp89,9 miliar.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM