BERITA INDUSTRI

Pasar Eropa Masih Prospektif


Sumber: Bisnis Indonesia (11/02/2019)


FRANKFURT - Produk consumer goods dari berbagai segmen asal Indonesia masih diminati pasar Eropa, tecermin dari animo pasar yang tinggi terhadap produk nasional dalam gelaran pameran Ambiente 2019. Sayangnya, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar pemasaran produk di Benua Biru lebih maksimal.


Produk-produk Indonesia turut serta unjuk gigi dalam pameran consumer goods berskala internasional, yakni Ambiente 2019, yang berlangsung di Frankfurt, Jerman, mulai Jumat (8/2) hingga Selasa (12/2). Ambiente memamerkan produk-produk consumer goods dari tiga segmen, yakni Living, Dining, dan Giving.


Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Jerman Arif Havas Oegroseno, di sela-sela kunjungannya ke sejumlah stan Indonesia di Ambiente, mengatakan bahwa produk-produk Indonesia berpotensi mengisi pasar tidak hanya Jerman, tetapi juga Eropa.


Ambiente, ujarnya, menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar yang lebih luas, mengingat posisi Frankfurt yang sangat strategis sebagai jantung Eropa. "Ini peluang bagi kita untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” ujar Arif, Jumat (8/2) waktu setempat.


Tercatat ada 69 peserta dari Indonesia yang ikut dalam pameran tersebut yang terbagi dalam empat kategori. Sebanyak 54 merupakan peserta mandiri sedangkan 12 lainnya adalah peserta yang dibawa oleh Kementerian Perindustrian dan Kedutaan Besar RI di Berlin. Selain itu, ada tiga peserta yang merupakan pemenang dari hasil kompetisi desain di Tanah Air.


Produk yang diboyong oleh peserta Indonesia umumnya terbagi dua, yakni kerajinan tangan (handicraft) dan perkakas masak, makan, dan dapur (cookware dan dinnerware).


Produk kerajinan tangan umumnya didominasi oleh UMKM, sedangkan produk cookware dan dinnerware sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar, antara lain PT Kedawung Setia Industri Tbk., PT Maspion, dan PT Sango Ceramics Indonesia.


Atase Perdagangan KBRI Berlin Nurlisa Arfani mengungkapkan, prospek dari produk UMKM Indonesia untuk pasar Eropa masih bagus. Sementara itu, untuk produk dinnerware dan cookware, sejauh ini sejumlah perusahaan masih memasok untuk memenuhi kebutuhan buyer (original equipment manufacture/OEM), sehingga tanpa label perusahaan terkait.


Nurlisa mengakui animo pembeli asing terhadap produk Indonesia memang cukup tinggi Rata-rata peserta pameran asal Indonesia merasakan animo yang cukup besar dari para pengunjung.


Hanya saja, ada tantangan tersendiri bagi para peserta pameran asal Indonesia. Untuk produk UMKM misalnya, tuntutan desain yang kian tinggi dari pembeli membuat produsen harus lebih keras lagi mengupayakan desain yang menarik dan berbeda dari tahun ke tahun.


Selain itu, sebagian besar produk UMKM Indonesia saat ini hanya memasok handicraft untuk tokotoko yang ada di Eropa, dan belum memiliki label sendiri. "Begitupula dengan dinnerware dan cookware. Hanya Maspion yang sudah memiliki label dengan mengakuisisi merek,” ungkap Nurlisa.


TOKO KHUSUS


Dia menambahkan, harus ada dukungan seperti toko-toko khusus yang secara agresif menjual produk Indoensia langsung ke pasar Eropa.


Hal ini telah dilakukan oleh Thailand dan Vietnam. Kedua negara itu gencar menyasar pasar Eropa dengan toko-toko khusus untuk menjajakan produknya langsung ke pasar Eropa.


Indonesia, sambungnya, memang sudah memiliki toko sejenis. Hanya sayangnya, jumlahnya masih sedikit.


Ratna Utarianingrum, Direktur Industri Kecil Menengah, Kimia, Sandang Kerajinan dan Industri Aneka Kementerian Perindustrian, mengatakan bahwa industri kerajinan memiliki prospek yang tinggi di pasar ekspor.


Hal ini terlihat dari nilai ekspor kerajinan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.


Data Kementerian Perindustrian menunjukkan sepanjang Januari-November 2018, ekspor kerajinan mencapai US$823 juta. Pada 2017, ekspor tercatat sebesar US$820 juta.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM