BERITA INDUSTRI

Investasi Manufaktur Diyakini Meningkat


Sumber: Koran Sindo (06/02/2019)

JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis pada 2019 akan terjadi peningkatan nilai investasi di sektor industri manufaktur. Hal ini seiring dengan adanya komitmen dari sejumlah pelaku industri skala global yang ingin menambah modalnya di Indonesia.

"Beberapa investor yang sudah ada di Indonesia telah menyatakan minatnya untuk ekspansi. Ini merupakan salah satu hasil pertemuan kami di dalam World Economic Forum di Davos kemarin," ujarnya di Jakarta akhir pekan lalu.

Beberapa perusahaan internasional seperti Apple, Coca-Cola, dan General Electric (GE), telah menyatakan minat untuk berinvestasi di Indonesia. "Mereka sangat mengapresiasi pertumbuhan ekonomi dan kestabilan di Indonesia sehingga mereka akan menambah investasi," kata Airlangga.

Di samping itu, pada ajang WEF 2019, Airlangga juga melakukan pertemuan dengan produsen kendaraan dan komponen listrik SF Motors, industri farmasi Abbott, serta perusahaan kereta api Stadler. Rail Group. "Secara umum mereka merasa percaya diri untuk berinvestasi di Indonesia karena terciptanya iklim usaha yang kondusif dan adanya kemudahan perizinan,"ungkapnya.

Menurut Airlangga, kepercayaan dari para investor menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan dan pilihan yang tepat untuk menjadi basis produksi manufaktur mereka. Tujuannya, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun mengisi pasar ekspor.

"Kami optimistis, outlook pertumbuhan ekonomi kita lebih positif, walaupun perekonomian di dunia masih slow growth" tuturnya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi industri manufaktur pada 2018 mencapai Rp222,3 triliun. Industri makanan mencatatkan realisasi investasi terbesar pada penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp39,l triliun. Selanjutnya, diikuti industri kimia dan farmasi dengan nilai investasi sebesar Rpl3,3 triliun.

Sementara untuk penanaman modal asing (PMA), sektor industri pengolahan yang investasinya terbesar adalah industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya senilai USD 2,2 miliar. Selain itu, investasi industri kimia dan farmasi senilai USD1,9 miliar serta industri makanan sebesar USD 1,3 miliar.

Airlangga menuturkan, ada beberapa faktor yang memengaruhi perlambatan investasi pada tahun Jalu, antara lain naiknya suku bunga the fed yang diikuti kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). "Selain itu, rupiah yang sempat berf luktuasi sehingga investor sempat wait and see," terangnya.

Untuk itu, dengan adanya harmonisasi regulasi dan penerapan kebijakan seperti PMK150/2018 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan, fasilitas tax holiday, dan platform online single submission yang dapat mendorong investasi pada 2019.

Adanya perang dagang Amerika Serikat dan China, menurut Menperin.juga dapat membuka peluang masuknya investasi manufaktur di Indonesia.

oktiani endarwati

 

 
Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM