BERITA INDUSTRI

Kemenperin Bantah Mobil Hybird Dicoret dari Perpres


Sumber: Investor Daily (06/02/2019)


JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membantah kabar dicoretnya mobil hybrid dari Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik. Bagi Kemenperin, mobil hybrid termasuk mobil elektrifikasi bersama mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) dan fuel cell.


Mobil hybrid menggunakan mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) dan motor listrik. Mobil hybrid terdiri atas hybrid electric vehicle (HEV) yang tidak perlu melakukan pengisian baterai motor listrik (charging) dan plug in hybrid vehicle (PHEV) yang baterai motor listriknya perlu diisi. Imbasnya, PHEV bisa melaju dengan motor listrik sendiri dan jaraknya dibatasi kapasitas baterai.


Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Harjanto mengatakan, Indonesia harus terbuka untuk macam-macam jenis mobil yang menggunakan energi ramah lingkungan. Nantinya, publik yang melihat mobil elektrifikasi mana yang paling mengguntungkan.


“Jadi, bukan hybrid tak dihapus dari Perpres. Kami melihat akselerasi ke BEV tidak masalah dengan bantuan insentif fiskal dan nonfiskal yang diatur Perpres. Memang, fokus pemerintah lebih ke BEV,” kata dia di Jakarta, Senin (4/2).


Harjanto menerangkan, BEV tidak serta merta bisa langsung diproduksi di Indonesia, karena ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya stasiun pengisian daya listrik. Pembangunan infrastruktur ini memerlukan waktu.


“Jadi, harus pont to point. Kalau sepeda motor listrik bisa menggunakan batery swap. Kita bisa mendorong sepeda motor seperti Gesits untuk menurunkan emisi di dalam kota, lalu bus,” kata dia.


Harjanot menyatakan, mobil hybrid paling laris di antara semua mobil elektrifikasi, karena masih menggunakan mesin ICE. Berdasarkan data Internasional Energy Agency (IEA), hingga 2040, 50% kendaraan di dunia masih menggunakan mesin ICE.


Beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Thailand, kata dia, juga menggunakan mesin ICE, meski membuat kendaraan listrik yang berbasis etanol, yakni E-85. Negara Amerika Latin, seperti Brasil dan Argentina juga melakukan hal yang sama.


Dia mengakui, mobil listrik dapat mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) serta memangkas ketergantungan impor komoditas itu dan menghemat devisa sekitar Rp 798 triliun. Selain mobil listrik, Harjanto menerangkan Indonesia mempunyai sumber daya alam seperti CPO atau energi terbarukan lain yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.


Harjanto mengatakan, Kemenperin mendorong industri otomotif untuk melakukan ekspor dan subtitusi impor. Selama ini, Indonesia sudah melakukan ekspor ke banyak negara dan kemungkinan dalam waktu dekat Honda akan melakukan ekspor ke beberapa negara di Asean. “Kemudian, kita buka FTA atau CEPA dengan Australia. Pengembangan otomotif juga merupakan salah satu cara kita untuk mendorong ekspor,” kata dia.


Sebelumnya, Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengatakan Perpres mobil listrik tidak akan mengatur HEV dan PHEV. Keputusan itu sudah disepakati dengan beberapa pejabat awal Januari 2019. Hal ini dinilai paling tepat untuk membangun industri otomotif di Indonesia.


Dia mengatakan, penggunaan mobil hybrid akan merugikan ke depannya, karena masih menggunakan mesin ICE. “Selama ini kita belum menguasai teknologi itu dan lebih rumit dibandingkan listrik baterai. Apalagi, pabrikan Jepang yang sudah memproduksi mobil di sini tidak pernah kasih teknologinya, seperti Toyota,” papar dia.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM