BERITA INDUSTRI

Sektor Manufaktur akan Tumbuh Positif


Sumber: Republika (04/02/2019)


JAKARTA — Kementerian Perindustrian optimistis menatap pertumbuhan sektor manufaktur pada 2019. Meski pertumbuhan tahun kemarin sempat tersendat, tahun ini diyakini menjadi momentum industri manufaktur untuk menaikkan kinerjanya.


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menuturkan, selama setahun kemarin kondisi pasar global yang dipengaruhi gesekan antara Pemerintah Cina dan Amerika Serikat berdampak cukup besar.


Dua raksasa ekonomi dunia tersebut belum menyudahi konflik menyebabkan penurunan arus barang. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi global tidak kunjung membaik sehingga permintaan barang dari luar negeri ikut anjlok. "Seperti mata rantai, ini (perang dagang) juga berefek ke industri manufaktur (Indonesia)," kata Ngakan, Ahad (3/2).


Namun. bercermin dari pesoalan ini, pemeriintah telah berupaya menggali lebih banyak investor di bidang industri manufaktur, dimana perusahaan tersebut berorientasi ekspor.


Hal ini dilakukan dengan mempermudah izin investasi di berbagai daerah.


Menurut Ngakan, Indonesia telah berkomitmen dengan sejumlah pelaku usaha yang diperkirakan bisa menunjang sektor manufaktur. Misalnya, Apple, Coca-Cola, dan General Electric. "Upaya ini diharapkan mampu menopang nilai investasi sekaligus mendorong pertumbuhan IBS (industri manufaktur besar dan sedang) pada 2019," ujarnya.


Sinyal positif juga terlihat saat acara World Economic Forum (WEF) 2019 di Swiss beberapa waktu lalu. Ngakan menyebut perwakilan dari Pemerintah Indonesia melakukan pertemuan dengan produsen kendaraan dan komponen listrik SF Motors, industri farmasi Abbott, serta perusahaan kereta api Stadler Rail Group. Mereka yakin iklim investasi di Indonesia baik dan bisa menunjang perusahaan yang dijalankan.


Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menilai pertumbuhan industri manufaktur yang negatif disebabkan tiga sektor, yaitu makanan, farmasi, dan elektronik. Sektor-sektor ini merupakan tiga dari lima industri prioritas yang memberikan kontribusi terhadap produk dosmetik bruto (PDB). Akibat ketiganya mengalami perlambatan pertumbuhan, maka industri manufaktur secara keseluruhan ikut turun.


Untuk menghadapi perlambatan IBS, terdapat sejumlah cara yang diharapkan bisa mendongkrak industri manufaktur, salah satunya memperbaiki insentif fiskal. Andry mengatakan, tax holiday tidak akan cukup apabila diberikan ke seluruh sektor dan sistemnya yang pukul rata. Pemberian insentif harus dilakukan dengan pendekatan sektoral.


Sebaiknya pemerintah memberikan insentif berdasarkan karakter dan kebutuhan sektor-sektor industri. Ada industri yang butuh keringanan di bea masuk impor bahan baku dan modal. "Tapi di sisi lain, ada industri yang ingin dipermudah untuk mencari pasar eksporbaru di tengah perang dagang saat ini," ujar Andry.


Upaya berikutnya, mengkaji dan memperbaiki regulasi maupun perizinan yang bertabrakan agar tidak membuat calon investor kebingungan. Pelaku industri senang dengan kepastian dan kestabilan. Apabila kebijakan terus berganti, maka pelaku industri perlu mengatur perhitungannya untuk berproduksi, dan ini akan merepotkan.


Industri elektronik


Kementerian Perindustrian berkomitmen mengakselerasi pengembangan industri elektronik Indonesia. Fokusnya antara lain industri elektronik di Indonesia dapat mengurangi kebergantungan terhadap bahan baku atau komponen impor.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap produsen elektronik dapat memperbanyak produk-produk berteknologi tinggi yang diproduksi di Indonesia. Dengan begitu, industri ini bisa menjadi pendorong bagi Indonesia untuk mewujudkan konsep smart city.


"Kami sedang memacu industri elektronik dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam rantai nilai yang bernilai lebih tinggi," kata Airlangga.


Selain itu, Airlangga menganjurkan perusahaan elektronik untuk menerapkan Revolusi Industri 4.0. Dengan adanya peluang dan tantangan di era industri 4.0, diharapkan industri elektronik pun mampu membangun kdja sama dengan manufaktur kelas dunia.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM