BERITA INDUSTRI

Nippon Shokubai Bangun Pabrik Kimia US$ 200 Juta


Sumber: Investor Daily (05/11/2018)


JAKARTA – Perusahaan asal Jepang, Nippon Shokubai Co Ltd akan membangun pabrik kimia yang memproduksi asam akrilat (AA). Pembangunan pabrik senilai US$ 200 juta (Rp 3,04 triliun) ini akan dilakukan melalui anak usahanya, PT Nippon Shokubai Indonesia (NSI).


“Rapat jajaran direksi yang diadakan pada 29 Oktober 2018 telah menyetujui rencana investasi di PT Nippon Shokubai Indonesia. Perusahaan akan membangun pabrik AA berkapasitas 100 ribu ton per tahun,” kata Manajemen Nippon Shokubai seperti dikutip dalam situs resmi perusahaan, Minggu (4/11).


Pabrik baru ini akan berlokasi di kawasan pabrik PT NSI di Cilegon, Banten, dan dijadwalkan beroperasi secara komersial pada November 2021. Adanya pabrik baru ini akan menambah kapasitas produksi PT NSI menjadi 240 ribu ton.


PT NSI yang 99,9% sahamnya dimiliki Nippon Shokubai ini, berdiri sejak Agustus 1996 dengan modal disetor mencapai US$ 120 juta. Perusahaan memproduksi dan menjual AA, akrilat (AES), dan polimer superabsorbent (SAP).


Asam akrilat (AA) merupakan senyawa organik berupa cairan tak berwarna yang biasa digunakan banyak industri seperti industri popok, industri pengolahan air, atau industri tekstil. Di pasar global, tingkat konsumsi asam akrilat diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 kilo ton pada tahun 2020. Tingginya kebutuhan AA kemungkinan karena penggunaan produk ini untuk kebutuhan baru seperti bahan baku produk perawatan pribadi dan deterjen.


AA, salah satu bisnis inti Nippon Shokubai, menunjukkan pertumbuhan permintaan yang stabil sebagai bahan utama polimer superabsorben dan akrilat.


Dalam beberapa tahun terakhir, keseimbangan permintaan dan pasokan AA sangat ketat, terutama di Asia. Untuk mengakomodasi permintaan dan memenuhi tugasnya sebagai pemasok produk, Nippon Shokubai berencana menambah produksi AA.


Dari hasil studi yang dilakukan, Nippon Shokubai menyimpulkan untuk memperluas kapasitas NSI, dengan mempertimbangkan lokasi perusahaan berada di Asia dan dapat bersinergis dengan pabrik yang sudah ada. Dengan adanya pabrik baru ini, kapasitas produksi Nippon Shokubai secara global akan menjadi 980 ribu ton per tahun. Sebanyak 540 ribu ton produksi AA dilakukan di pabrik Jepang, dan 440 ribu ton di luar Jepang.


Pacu Industri


Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan, pihaknya terus memacu pengembangan industri kimia di dalam negeri dengan mendorong pemanfaatan teknologi terbaru serta peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan. Upaya ini dilakukan agar industri kimia lebih efisien, inovatif, dan produktif dalam memasuki era revolusi industri generasi keempat.


Airlangga Hartato menegaskan, industri kimia nasional tengah difokuskan pengembangannya agar lebih berdaya saing global. Pasalnya, sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, serta berperan penting sebagai penghasil bahan baku untuk kebutuhan produksi industri lainnya.


“Pada tahun 2017, industri kimia menjadi salah satu sektor penyumbang utama terhadap PDB nasional sebesar Rp 236 triliun,” kata dia.


Dia melanjutkan, di tengah kondisi defisit neraca perdagangan saat ini, industri kimia seperti penghasil amonium nitrat berperan penting untuk mensubstitusi impor karena kapasitas produksinya sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. “Kami dorong pasar domestik lebih optimal, dan terus digenjot untuk ekspor,” ujar dia.


Terlebih lagi, kata dia, Kemenperin aktif memacu pengembangan sektor-sektor industri yang berpotensi untuk meningkatkan nilai ekspor nasional. “Pemerintah telah menyusun solusi jangka menengah dan panjang, yakni melalui substitusi impor dan investasi, sedangkan jangka pendeknya seperti pembatasan impor amonium nitrat, karena industri di dalam negeri sudah mampu mencukupi,” jelas dia.


Airlangga juga mengungkapkan, klaster industri kimia seperti di Bontang, Kalimantan Timur, masih memiliki potensi besar untuk pengembangan produk hilir seperti dimetil eter yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar pengganti LPG, pupuk majemuk berbasis amonium nitrat, soda ash, dan pupuk amonium klorida.


Selain itu, kata dia, wilayah Kalimantan Timur juga memiliki prospek untuk pengembangan perkebunan sawit sebagai sumber bahan baku bagi klaster industri berbasis oleokimia. Ini dapat menjadi solusi dari menurunnya harga sawit yang cukup signifikan akhir-akhir ini, sehingga dapat mengatasi defisit neraca perdagangan.


“Kemampuan pengembangan tersebut dapat diwujudkan dengan jaminan pasokan gas bumi untuk domestik, kebijakan kuota impor untuk produk unggulan tertentu, serta sinergi dengan pengembangan riset teknologi,” papar dia.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM