BERITA INDUSTRI

Melihat Kepak Sayap Tsingshan Group


Sumber: Bisnis Indonesia (05/11/2018)


Perusahaan asal China Tsingshan Holding Group tengah memperlebar sayap bisnisnya di Indonesia. Sejauh ini, produsen stainless steel tersebut telah menanamkan investasi ke Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.


Pada Jumat (2/11) lalu, bertempat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, diadakan rapat koordinasi terkait pembangunan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah.


Beberapa pihak yang hadir antara lain perwakilan dari pengelola kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Perusahaan Listrik Negara. Hadir pula Bupati Halmahera Tengah Edi Langkara.


Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) merupakan perusahaan patungan dari tiga investor asal China, yaitu Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi.


Adapun, Kawasan Industri Weda Bay merupakan realisasi dari perjanjian antara Eramet Group (Prancis) dan Tsingshan, bersama mitra lokal, yaitu PT Aneka Tambang Tbk. pada 2018, untuk mengembangkan deposit bijih nikel dan 30kt/Ni Nickel Pig Iron smelter sebagai smelter pertama di dalam Kawasan Industri (KI) Weda Bay.


IWIP diklaim bakal menjadi kawasan industri terpadu pertama di dunia yang mengolah sumber daya mineral dari mulut tambang menjadi produk akhir berupa besi baja dan baterai dan kendaraan listrik.


Selain memfasilitasi kegiatan pemurnian logam, kawasan industri ini juga bertujuan menarik berbagai kalangan investor untuk membangun fasilitas pengolahan industri hilir, meliputi nickel sulfate (NiS)4), NCM/NCA, precursor, sampai menghasilkan produk akhir berupa Li-ion baterai untuk kendaraan listrik.


Saat memberikan keterangan kepada wartawan seusai rakor, Direktur Pengembangan Wilayah Industri I Kemenperin Arus Gunawan menuturkan di kawasan industri ini, Tsingshan berencana membangun smelter yang sama dengan di KI Morowali dengan produk akhir stainless steel dan ditambah baterai untuk mendukung mobil listrik.


Luas KI Weda Bay direncanakan seluas 2.000 hektare dan saat ini, realisasi pembebasan lahan mencapai 75%. "Kapasitas stainless steel nanti lebih kecil dari yang ada di Morowali, tetapi produksinya tambah baterai,” katanya.


Nilai investasi yang dikucurkan sementara ini mencapai US$7,5 miliar dengan proyeksi tenaga kerja sebanyak 18.000 orang. Saat ini, konstruksi fasiltas pengolahan dan persiapan produksi tengah berlangsung dan diperkirakan mulai beroperasi pada 2020.


Berdasarkan data dari Kemenperin, investasi tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas smelter ferronickel berkapasitas 600.000 ton per tahun, smelter ferro-chrome dengan kapasitas 300.000 ton per tahun, stainless mill berkapasitas 1 juta ton per tahun, karbon steel berkapasitas 3 juta ton per tahun, coke cooking plant berkapasitas 1,5 juta ton per tahun, hydrometallurgical plant berkapasitas 100.000 ton nickel hydroxide dan cobalt hydroxide per tahun, serta fasilitas pendukung lainnya, termasuk pelabuhan dan perumahan.


KAWASAN MOROWALI


Sementara itu, di KI Morowali menghasilkan stainless steel hingga 3 juta ton, 2 juta ton nickel pig iron (NPI), dan 3,5 juta ton carbon steel per tahun.


Produk stainless steel sebesar 3 juta ton tersebut berasal PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) 1 juta ton, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) 1 juta ton dan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) produksi 1 juta ton. Ketiganya merupakan bagian dari Tsingshan Group.


Di KI Morowali, Tsingshan dan Bintang Delapan Group menanamkan modal sekitar US$6 miliar. Dari investasi di Morowali ini, Indonesia menjadi salah satu produsen stainless steel yang diperhitungkan di pasar global.


Bahkan, produk baja nirkarat Indonesia yang diekspor ke China dinilai menjadi salah satu saingan utama produk dalam negeri Negeri Tirai Bambu tersebut.


Pada Juli lalu, Pemerintah China memulai penyelidikan antidumping untuk stainless steel impor senilai US$1,3 miliar, termasuk yang diproduksi oleh pabrik milik perusahaan China di luar negeri setelah adanya laporan dari industri lokal yang terganggu.


Kementerian Perdagangan China menyatakan investigasi akan dilakukan terhadap impor billet stainless steel, hot-rolled stainless steel, dan juga pelat stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia.


Permintaan penyelidikan berasal dari Shanxi Taigang Stainless Steel yang mewakili empat BUMN baja tahan karat China lainnya, termasuk Baosteel yang menyatakan impor murah menyebabkan penurunan harga.


Adapun, Arus menambahkan di KI Weda Bay terdapat sumber daya alam nikel yang melimpah sehingga investor tertarik mengembangkan fasilitas terintegrasi. "Bahkan nikel di KI Morowali juga sebagian berasal dari Weda Bay,” jelasnya.


Selain KI Morowali dan Weda Bay, Tsingshan juga berminat berinvestasi di kawasan industri lain. Kemenperin sebelumnya menyatakan perusahaan asal China Tsingshan Holding Group melirik peluang investasi di kawasan industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara.


Tsingshan berencana membangun kompleks feronikel terintegrasi di kawasan tersebut dengan nilai investasi mencapai US$28 miliar.


Perusahaan ini ingin menggarap kompleks pemurnian logam terintegrasi dengan membangun pabrik ferronickel berkapasitas 1,5 juta ton, ferrochrome 1,2 juta ton, stainless steel 1,2 juta ton, mangan 0,5 juta ton, ferrosilicate 0,2 juta ton, baja karbon 10 juta ton, dan alumina 1 juta ton, serta membangun pembangkit hydropower sebesar 7.200 megawatt.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM