BERITA INDUSTRI

Palu Dijadikan Basis Furnitur


Sumber: Koran Jakarta (05/11/2018)


CIREBON - Pemerintah mengajak pelaku usaha industri furnitur untuk ekspansi ke luar Jawa. Hal itu untuk mendekatkan industri dengan sumber bahan baku seperti di Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan. Salah satu wilayah yang menjadi basis bahan bakunya ialah Palu, Sulawesi Tengah.


Selama ini bahan baku di Palu kurang dioptimalkan dan cenderung diselundupkan ke luar negeri. Pada saat bersamaan ekspor furnitur dalam tiga tahun terakhir cenderung menurun. Salah satu pemicunya karena kekurangan pasokan bahan baku.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, selain untuk mendorong ekspor, pembangunan industri furnitur di Palu juga untuk memulihkan ekonomi di wilayah yang beberapa waktu lalu terkena gempa dan tsunami tersebut.


“Kita mengajak industri yang ada di Cirebon ke Palu untuk melihat sumber bahan baku dan minta sebagian proses awal produksi dipindahkan ke Palu,” ungkap Airlangga kepada anggota Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) di Cirebon, Jawa Barat akhir pekan lalu.


Dijelaskan Airlangga bahwa Kemenperin telah membangun fasilitas Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas) yang berlokasi di Kawasan Industri Palu. PIRNas yang telah diresmikan dan beroperasi sejak 2014 ditujukan sebagai basis pengembangan rotan nasional, khususnya untuk desain dan teknologi produksi produk rotan.


PIRNas juga dilengkapi dengan mesin-mesin dengan teknologi baru serta gudang penyimpanan produk. Dengan fasilitas yang ada, industri dari Cirebon dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk memproduksi komponen di lokasi yang dekat dengan bahan baku. “Industri dari Cirebon tinggal bawa pekerja dan mesin lain yang dibutuhkan, nanti di sini tinggal perakitan dan finishing. Dengan begitu, Cirebon bisa menjadi bagian dari rekonstruksi Palu,” tambah Airlangga.


Strategi ini, tambah Airlangga diharapkan dapat memperkuat kembali poros Palu-Cirebon sebagai pusat bahan baku dan pusat industri furnitur rotan. Dengan demikian, masyarakat di Palu yang dekat dengan bahan baku juga bisa merasakan hasil industri rotan.


Ekspor industri furnitur di tahun 2015 mencapai sebesar 1,71 miliar dollar AS, namun menurun pada 2016 menjadi 1,61 miliar dollar AS, dan sebesar 1,63 miliar dollar AS pada 2017. Tahun ini juga ekspor furnitur kemungkinan tidak mencapai target.


Sementara itu, nilai perdagangan furnitur dunia berdasarkan data CSIL sebesar 130 miliar dollar AS pada 2015, 131 miliar dollar AS pada 2016, dan 138 miliar dollar AS pada 2017.


Kinerja ekspor furnitur jelas Menperin juga masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi bahan baku yang ada. Indonesia merupakan penghasil 85 persen bahan baku rotan dunia. Daerah penghasil rotan di Indonesia sebagian besar berada di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Dari 306 jenis rotan, saat ini baru 51 jenis yang termanfaatkan.


Untuk itu, Pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi industri furnitur dan kerajinan melalui beberapa kebijakan, diantaranya dengan mendirikan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di lokasi Kawasan Industri Kendal.


Peningkatan kapasitas SDM terampil juga dilakukan dengan Program Pendidikan Vokasi yang link and match antara SMK dengan industri. “Mari sama-sama kita dongkrak industri ini karena pasarnya terbuka luas,” ajak Airlangga.


Atasi Penyelundupan


Ketua Himki Soenoto menegaskan, permintaan Menperin merupakan bentuk hilirisasi sehingga pihaknya melihat terbukanya kemungkinan untuk merapat ke Palu. Menurutnya, langkah tersebut efektif untuk mengatasi penyelundupan rotan ke Tiongkok atau negara-negara lainnya.


Kendati demikian Soenoto tetap mengakui langkah tersebut terkendala pada kesiapan SDM andal di Palu.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM