BERITA INDUSTRI

Ekspor Industri Tekstil Bakal Melonjak 200%


Sumber: Rakyat Merdeka (20/09/2018)


Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) optimises, rampungnya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) bakal meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT). Bahkan potensi lonjakan ekspornya hingga 200 persen.


KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) yakin industri TPT nasional mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor tahun ini. Sepanjang Januari hingga Juli 2018, nilai pengapalan produk TPT Indonesia mencapai 7,74 miliar dolar AS, dan ditargetkan tembus 14 miliar dolar AS hingga akhir tahun.


Ketua Umum API Ade Sudrajat mengamini target tersebut. Melihat kondisi saat ini, target pemerintah untuk TPT sangat realistis. Bahkan dengan pedenya, dia menyebut angka-angka tersebut masih bisa meningkat.


Ade mengatakan, saat ini pabrik yang relokasi dari Jabodetabek ke Jawa Tengah (Jateng) sudah berproduksi secara maksimal. Penyerapan tenaga kerja di Jateng sangat luar biasa besar. Alhasil, tingkat pengangguran di Sukoharjo, Boyolali, dan Solo menurun drastis.


Kembali ke potensi ekspor. Ade mengakui, realisasi IA-CEPA baru bisa dirasakan tahun depan. Tentunya dengan misi dagang yang jauh lebih besar dari tahun ini, hampir 200 persen. "Potensinya naik dari 250 juta dolar AS menjadi 700 juta dolar AS di 2019," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Diungkapkan Ade, saat ini penjualan terbesar TPT masih ke Amerika Serikat, disusul Uni Eropa, dan Jepang. Tak tanggung-tanggung, API bahkan menargetkan China menjadi sasaran dagang produk TPT dengan nilai penjualan di bawah Negeri Samurai.


Sebab itu dia berharap pemerintah segera merampungkan beberapa free trade agreement dengan Negeri Paman Sam dan Benua Biru. Dengan begitu, potensi pasar yang besar akan semakin bisa diraup dan menghasilkan devisa untuk Indonesia.


Hanya saja Ade menilai iklim investasi di dalam negeri masih harus dijaga. Jangan sampai pemilihan presiden (Pilpres 2019) dan pemilihan legislatif malah mengganggu kestabilan dunia usaha yang akhirnya menjatuhkan perekonomian.


"Saya berharap kepada pemerintah dan seluruh masyarakat. Jadikan tahun politik ini sebagai agenda ceria, dan momentum adu program dari masing-masing calon. Sehingga suasana kondusif akan membuat rakyat mudah bekerja," imbuhnya.


Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto optimis ekspor industri TPT dapat ditingkatkan. Keyakinan itu ditengarai rampungnya pakta perdagangan dengan Australia yang menghapus bea masuk produk tekstil dan pakaian jadi.


Melalui CEPA, Airlangga mengatakan, seluruh produk Indonesia yang dieskpor ke Negeri Kanguru bea masuknya nol persen. Tidak terkecuali tekstil dan produk tekstil yang sebelumnya diganjar tarif 10-20 persen.


"Kebijakan bilateral ini bakal ditandatangani akhir tahun. Artinya, kemitraan strategis ini untuk peluang kita memperluas pasar ekspor," tutur pria yang juga Ketum Golkar.


Bukan hanya Australia. Untuk menggenjot ekspor, pemerintah juga berupaya merampungkan perundingan free trade agreement (FTA) dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Airlangga menyebut upaya itu untuk mendongkrak penjualan tiga produk manufaktur unggulan seperti pakaian, tekstil, dan sepatu.


Airlangga pede industri TPT, telah berdaya saing global. Pasalnya, sektor ini terintegrasi dari hulu sampai hilir. Bahkan memiliki rekam jejak memuaskan di pasar dunia. "Guna mendongkrak produktivitas dan daya saing, kami juga memfasilitasi peremajaan mesin dan peralatan industri TPT," tuturnya.


Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Imam Pambagyo menjelaskan, Indonesia mendapat pembebasan bea masuk impor untuk beberapa jenis barang gandum, gula rafiansi, barley, sorgum sampai sapi.


Hasil lainnya, dikatakan Imam, produk otomotif seperti mobil dan motor mendapat bea masuk nol persen. Tekstil dan produk tekstil juga mendapat tarif bea masuk nol persen dari sebelumnya 5 persen. Alhasil produk-produk tersebut kembali kompetitif dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang sebelumnya sudah mendapatkan pembebasan tarif. MEN



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM