BERITA INDUSTRI

Riset: Digitalisasi Solusi Memacu Daya Ekspor UKM


Sumber: Koran Tempo (19/09/2018)


JAKARTA – Digitalisasi usaha kecil dan menengah dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan peran kelompok bisnis ini pada upaya menggenjot ekspor. Hasil riset perusahaan konsultan manajemen Bain & Company Inc menunjukkan 95 persen dari responden UKM yang telah terdigitalisasi berperan aktif dalam kegiatan ekspor. "Jangkauan mereka makin luas di luar pasar lokal," kata mitra Bain & Company, Usman Akhtar, di kantor Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, kemarin.


Persoalannya, jumlah UKM yang telah memanfaatkan perangkat digital dalam bisnis mereka hanya mencapai 16 persen dari total 2.342 responden usaha di 10 negara anggota ASEAN. Angka ini berbanding terbalik dengan temuan sebanyak 75 persen responden yang menyadari integrasi digital sebagai peluang. Jumlah responden UKM di Indonesia, yang menilai pentingnya digitalisasi, bahkan ada sebanyak 85 persen.


Riset hasil kerja sama Bain, Google, dan Sea Group ini juga menunjukkan adanya peluang-sekaligus tantangan-untuk mendongkrak kontribusi UKM terhadap kinerja ekspor tiap negara yang hanya berkisar 20 persen dari total nilai penjualan ke luar negeri. Padahal UKM merupakan penyumbang 50 persen produk domestik bruto di ASEAN. Sektor usaha ini pun menyerap 80 persen tenaga kerja di kawasan.


Usman menyebutkan survei menunjukkan UKM retail yang menggunakan layanan perdagangan online (e-commerce) berhasil meningkatkan penjualannya hingga rata-rata sebesar 15 persen. Produktivitas usaha kecil-menengah di bidang logistik yang sudah terdigitalisasi juga meningkat rata-rata 10-20 persen. Di industri pertanian, misalnya, UKM yang menggunakan aplikasi pertanian berhasil meningkatkan 5-15 persen hasil panennya.


Masalahnya, menurut Usman, adopsi perangkat digital utama masih kurang dalam dunia bisnis di Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga. Penelitian ini menyebutkan penjualan e-commerce Tanah Air hanya menyumbang 2 persen dari total volume penjualan retail tahun lalu. Angka ini lebih rendah dibanding Singapura, misalnya, yang mencapai 5 persen. Pada tataran global, sumbangan e-commerce di Amerika Serikat terhadap penjualan retail sebesar 12 persen. Cina menjadi yang tertinggi dengan 20 persen.


Usman berharap integrasi digital di kawasan ini bakal mempercepat perdagangan dan pertumbuhan intra-regional. "Potensi digital Indonesia masih relatif belum tergali," ujarnya. Hasil riset ini menunjukkan adanya integrasi digital bakal mendorong peningkatan produk domestik bruto ASEAN senilai US$ 1 triliun pada 2025.


Ekonom dari Sea Group, Santitarn Sathirahai, menuturkan, digitalisasi UKM masih mengalami hambatan. Lebih dari 50 persen UKM yang disurvei mengidentifikasi adanya hambatan nontarif dan logistik sebagai tantangan untuk terlibat dalam perdagangan fisik lintas batas. Selain itu, pelaku UKM menghadapi kekurangan pengetahuan dan pemahaman tentang teknologi digital. Lebih dari 40 persen dari responden melihat adanya kesenjangan dalam keterampilan digital tenaga kerja mereka.


Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Eddy Siswanto, mengatakan rendahnya kontribusi e-commerce terjadi karena rendahnya daya saing, terutama pada segi kualitas produk. Tak jarang, menurut dia, produksi UKM juga tak berkesinambungan. Belum lagi adanya kendala pasar dan pendanaan. "Kami telah melakukan bimbingan teknis dari memilih bahan baku hingga pemasaran," ujarnya.


Tenaga Ahli Bidang Digital dan Tata Kelola Internet Kementerian Komunikasi dan Informatika, Donny Budi Utoyo, menuturkan perlu ada modul khusus bagi pelaku UKM agar dapat bersaing di pasar internasional. Dia menilai ada yang patut dikritik dari program pemerintah, yaitu banyaknya kegiatan yang terkesan mandek atau hit and run. LARISSA HUDA



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM