BERITA INDUSTRI

Laju MPV Premium Tergantung Pasokan


Sumber: Bisnis Indonesia (19/09/2018)


JAKARTA - Peningkatan penjualan mobil serbaguna menengah atas (upper MPV) pada paruh kedua tahun ini akan tergantung pada kelancaran pasokan.


Berdasarkan data Gabungan Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan di segmen mobil serbaguna menengah atas (upper multipurpose vehicle/MPV) sepanjang semester pertama tahun lalu mencapai 6.182 unit, melejit 73% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 3.570 unit.


Pemain di segmen ini cukup banyak, mulai dari Toyota Alphard, Toyota Vellfire, Nissan Serena, Mazda Biante, Hyundai H-1, Honda Odyssey, Chevrolet Orlando, Mitsubishi Delica, Nissan Elgrand, dan terakhir Toyota Voxy. (lihat ilustrasi).


Sebagian besar model upper MPV merupakan mobil yang diimpor secara utuh. Padahal, pemerintah telah menetapkan pembatasan impor mobil secara utuh, termasuk melalui penaikan tarif bea masuk dan perpajakan.


Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa pihaknya terus melihat perkembangan terkait dengan pengendalian impor secara utuh kendaraan kelas 3.000 cc.


"Kami akan tetap studi mendalam, jangan sampai kekurangan supply pada saat ada yang butuh,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/9).


Di segmen MPV premium, Toyota memasarkan Alphard yang dilengkapi mesin 3.456 cc. Namun, menurutnya, sebanyak 90% mobil serbaguna menengah atas Toyota yang terjual saat ini dilengkapi mesin di kelas 2.500 cc.


Salah satu model yang laris adalah Toyota Voxy. Menggunakan mesin 3ZR-FAE berkapasitas silinder 2.000 cc, Voxy ini kerap disebut Alphard mini lantaran terlihat mewah dan kaya fitur. Voxy diluncurkan di arena GIIAS 2017 sebagai pengganti Toyota NAV1. "Pengirimannya [Voxy] pada November-Desember.”


FAKTOR PENDORONG


Soerjo mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan kendaraan MPV menengah atas terdorong oleh kebutuhan konsumen untuk mengganti kendaraan, menambah unit, dan adanya pengguna baru.


"Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, pasar otomotif berkembang setidaknya hingga akhir Agustus menunjukkan peningkatan. Alphard dan Vellfire merupakan salah satu yang bertumbuh cukup positif.”


Soerjo menyampaikan, dengan pertumbuhan pasar yang stabil, Toyota menargetkan pangsa pasar MPV premium Toyota bisa mencapai 90% pada akhir tahun ini.


Hingga semester I/2018, Toyota melalui dua produk andalannya Alphard dan Vellfire telah meraih 36,62% dari total pasar 6.182 unit.


Pada akhir 2017, wholesales Alphard dan Vellfire tercatat 4.126 unit. Jumlah ini belum terhitung Voxy yang juga masuk kategori MPV premium. Adapun, pada 2017 total wholesales MPV menengah atas sebanyak 7.941 unit.


Sementara itu, Mazda terus menggejot penjualan Biante melalui promosi khusus dan diskon harga. Pada semester I/2018, Biante terjual 336 unit, naik 95% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sejumlah 172 unit. Biante tercatat menggunakan mesin 1.997 cc dan diimpor utuh dari Jepang.


"Kami masih mempelajari kebijakan pemerintah yang mengendalikan impor dan berupaya menyiapkan langkah antisipatif. Kami belum bisa share langkah antisipatifnya,” ujar Presiden Direktur PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) Roy Arman Arfandi.


Menurutnya, hingga sejauh ini belum ada dampak pembatasan kuota impor. EMI, katanya, memang terus menggenjot penjualan Mazda Biante melalui program promosi khusus dan diskon harga.


Presiden Direktur PT Hyundai Motor Indonesia (HMI) Mukiat Sutikno mengatakan, pendorong pertumbuhan penjualan MPV premium Hyundai H-1 ialah kesiapan unit dan meningkatnya permintaan pasar.


Hyundai juga menghadirkan produk baru pada segmen ini yakni New-Hyundai H-1 2018 yang dirilis beberapa bulan lalu. "Lebih karena kesiapan unit dan permintaan untuk H-1,” ungkapnya.


Hyundai yang telah melakukan perakitan lokal upper MPV-nya yakni H-1 optimistis untuk menangkap peluang pasar, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan impor mobil secara utuh.


Kementerian Perindustrian menegaskan akan membatasi impor mobil di atas 3.000 cc. Alasannya, produksi dalam negeri menyentuh angka 2 juta unit per tahun dan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik bahkan ekspor.


"Kami akan batasi mobil di atas 3.000 cc karena pada saat sekarang ini produksi nasional sendiri kapasitasnya sudah bisa mencapai 2 juta,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela-sela seremoni ekspor 1 juta unit oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), di Jakarta, Rabu (5/9).


Adapun Menteri Keuangan telah merilis PMK 35/2018, yang berisi penyesuaian tarif PPh 22.


Tarif PPh untuk 210 item dinaikkan dari 7,5% menjadi 10%, termasuk mobil CBU dan motor besar.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM