BERITA INDUSTRI

Strategi Perlambat Pertumbuhan Impor


Sumber: Kompas (19/09/2018)


JAKARTA, KOMPAS — Kebijakan pengendalian-impor akan berdampak signifikan di tengah pelemahan rupiah terhadap dollar AS. Pertumbuhan impor sampai dengan akhir 2018 diperkirakan melambat hingga 11,5 persen.


Pemerintah telah merierapkan kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) Impor terhadap 1.147 barang konsumsi. Kebijakan itu diyakini menurunkan 2 persen dari impor konsumsi tahunan atau sekitar 196 juta dollar AS. Pada 2017, impor 1.147 barang konsumsi itu senilai 9,8 miliar dollar AS. Pada Januari-Agustus 2018, porsi barang konsumsi 9,22 persen dari total impor.


"Strategi pengendalian impor oleh pemerintah mesti dilihat sebagai satu kesatuan," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara, seusai rapat dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Selasa (18/92018).


Pengendalian impor juga dilakukan melalui kebijakan pen-campuran 20 persen biodiesel dalam setiap liter solar atau B-20. Kebijakan ini diperkirakan menekan defisit impor minyak sekitar 2 miliar dollar AS pada September-Desember 2018. Pemerintah juga sedang merumuskan penundaan proyek strategis nasional.


Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Migas Kementerian. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto menilai, PT Pertamina (Persero) kurang agresif dalam kegiatan eksplorasi. Pertamina memilih mengelola lapangan tua sehingga impor minyak tetap dibutuhkan serta berinvestasi di mar negeri. Padahal, Pertamina berpotensi besar mengeksplorasi sumber minyak baru di dalam negeri.


"Setiap kali pemerintah menawarkan wilayah kerja baru, Pertamina tidak pernah mau ambil. Padahal, mereka sangat mampu," kata Djoko.


Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, tanpa penemuan cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah besar, Indonesia akan terus bergantung pada impor untuk bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah. Apalagi, konsumsi BBM pada masa mendatang akan terus membengkak, sedangkan produksi minyak di dalam negeri Man berkurang.


"Produksi minyak kurang dari 800.000 barel per hari, sedangkan konsumsi BBM nasional 1,3 juta barel per hari hingga 1,4 juta barel per hari. Konsumsi BBM nasional diperkirakan 1,8 juta barel per hari sampai 2 juta barel per hari pada 2025. Kalau tidak ada penemuan besar, impor semakin besar dan berdampak pada kurs (rupiah terhadap dollar AS)," kata Jonan.


Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito menambahkan, defisit transaksi berjalan sektor migas butuh solusi jangka panjang.


Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono menyebutkan, kebijakan penyesuaian tarif pajak penghasilan impor yang baru dikeluarkan pemerintah merupakan salah satu upaya mendorong ekspor. "Sebab, untuk bahan baku berbagai industri, seperti industri tekstil dan farmasi tidak dilakukan peningkatan PPh. Kenaikan PPh hanya dikenakan pada ba-rang-barang konsumsi," kata Sigit.


(KRN/APO/CAS/COK)



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM