BERITA INDUSTRI

Kenaikan Penjualan Cenderung Melambat


Sumber: Bisnis Indonesia (19/09/2018)

JAKARTA - Konsumsi semen domestik sepanjang Januari-Agustus 2018 tumbuh 4,3% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan dengan kenaikan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,7% secara tahunan.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), serapan semen dalam negeri sepanjang 8 bulan pertama tahun ini mencapai 42,91 juta ton.

Adapun, konsumsi semen nasional pada Agustus sebesar 6,53 juta ton, naik tipis 0,6% secara tahunan.

Kendati konsumsi secara kumulatif menunjukkan perlambatan pertumbuhan, produsen semen masih optimistis permintaan pada tahun ini lebih baik dibandingkan dengan 2017.

Agung Wiharto, Corporate Secretary PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., mengatakan sinyal kenaikan permintaan terlihat pada pertumbuhan penjualan pada Agustus yang mencapai 2,88% secara bulanan.

"Menurut saya tahun ini masih cukup bagus dengan pertumbuhan 8 bulan pertama sebesar 4,3% secara tahunan, masih sesuai ekspektasi. Kami harus melihat dulu sampai akhir tahun kondisinya seperti apa,” ujarnya, Selasa (18/9).

Agung menuturkan, pelaku industri semen memperkirakan konsumsi semen dapat tumbuh di kisaran 5% hingga 6%.

Menurutnya, pendorong pertumbuhan konsumsi dalam negeri masih berasal dari proyek infrastruktur.

Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan penjualan semen bulk atau semen curah yang mencapai 12% per Agustus 2018, sedangkan konsumsi semen ritel hanya tumbuh 2%. Kendati demikian, penjualan semen sak masih mendominasi total penjualan dengan porsi sekitar 70%.

Penyerap semen ritel antara lain sektor properti, proyek pembangunan berskala kecil, dan end user atau masyarakat yang membutuhkan semen untuk merenovasi atau membangun rumah secara tradisional.

Adapun, semen bulk banyak diserap oleh pembangunan berskala besar, seperti proyek bandara, jalan tol, bendungan, dan lainnya.

Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Antonius Marcos mengatakan selama Januari 2018-Agustus 2018, total penjualan yang dibukukan oleh perseroan mencapai 11,5 juta ton. Pencapaian tersebut tumbuh 7% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017.

"Kami berharap bulan bulan berikutnya pertumbuhan konsumsi nasional dapat terus meningkat,” ujarnya.

Pada Agustus 2018, penjualan emiten berkode saham INTP tersebut tumbuh 1% secara tahunan atau sejalan dengan pertumbuhan konsumsi semen nasional.

EKSPOR MEROKET

Di sisi lain, ekspor semen dan clinker masih melanjutkan pertumbuhan tinggi sepanjang 8 bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), ekspor semen dan clinker pada Januari-Agustus 2018 tercatat sebesar 3,62 juta ton atau naik 95,8% secara tahunan. Ekspor tersebut terdiri dari semen sebesar 950.063 ton dan clinker sebesar 2,67 juta ton.

Agung mengatakan, permintaan ekspor masih bagus hingga Agustus 2018. Saat ini, lanjutnya, ekspor menjadi pilihan para pabrikan dalam negeri untuk meningkatkan utilitas pabrik.

"Hingga sekarang ini, industri masih kelebihan kapasitas produksi. Ekspor ini jadi jalan untuk menaikkan utilitas dan saat ini juga bisa mendatangkan devisa,” ujarnya.

Semen Indonesia Group mencatatkan ekspor sebesar 359.827 ton atau meningkat 67,03% secara tahunan.

Sebagian besar, produk semen dan clinker dikirim ke negaranegara Asia Tenggara, seperti Maladewa dan Srilangka. Selain itu, Semen Indonesia Group juga mengirim produk ke Australia dan Timor Leste.

Agung mengatakan, saat ini tidak hanya Indonesia saja yang mengalami kelebihan pasokan semen, tetapi juga negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dan Vietnam.

Kendati demikian, ekspor Semen Indonesia Group masih bisa tumbuh tinggi. Menurut Agung, pihaknya diuntungkan oleh faktor geografis.

"Secara lokasi, pabrik Semen Padang lebih dekat ke negara-negara Asia Selatan dibandingkan pabrik semen di negara Asean lain. Untuk wilayah Timor Leste dan Australia berasal dari pabrik Gresik dan Tonasa,” katanya.

Dia menjelaskan karena sifat semen yang berat atau bulky, maka biaya logistik sangat mempengaruhi harga. Semakin jauh jarak pengiriman, semakin mahal biaya logistiknya dan pada akhirnya memengaruhi harga jual.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan pihaknya memacu peningkatan konsumsi semen di pasar domestik melalui beberapa upaya, salah satunya dengan memaksimalkan peluang proyek yang sedang berjalan, terutama yang dicanangkan oleh pemerintah, seperti program pembangunan sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur.

"Kami berkoordinasi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta instansi lainnya, sehingga utilisasi industri semen nasional dapat ditingkatkan,” katanya.

Selain itu, Kemenperin juga akan mengarahkan industri-industri di dalam negeri yang menggunakan bahan baku clinker agar dapat menyerap hasil produksi lokal.

 

 
Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM