BERITA INDUSTRI

Kebijakan Pengembangan Manufaktur Pemerintah Dinilai Tepat


Sumber: Investor Daily (17/09/2018)

JAKARTA – Kenaikan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) Indonesia dari 50,5 pada Juli menjadi 51,9 pada Agustus 2018 menunjukkan kebijakan pemerintah untuk industri manufaktur sudah tepat.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Perdagangan Benny Soetrisno meyakini, jika langkah pemerintah pusat diikuti pemerintah daerah tingkat I dan II, hasilnya akan lebih maksimal. “Sangat penting untuk menciptakan iklim usaha yangkondusif bagi terciptanya aktivitas industrialisasi,” ujar dia dalam siaran pers, Minggu (16/9).

Dia menilai, semua upaya strategis yang dilakukan pemerintah bertujuan menciptakan ekonomi yang kompetitif dan memberikan kemampuan pengusaha untuk lebih banyak membuka lapangan pekerjaan. Apalagi, dengan adanya Making Indonesia 4.0 sebagai strategi dan peta jalan yang jelas untuk siap memasuki revolusi industri generasi keempat.

“PMI naik adalah bagian dari investasi di capital goods (barang modal) yang meningkat, dan akan memberikan hasil produktivitas yang optimal, sehingga dapat memacu daya saing industri manufaktur,” kata Benny.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menegaskan, PMI Agustus 2018 sejalan dengan kinerja sektor industri makanan dan minuman (mamin) yang naik. “Setelah sempat melambat karena libur panjang Lebaran, mamin mulai menggeliat lagi pada Agustus lalu,” terang dia.

Adhi mengatakan, hasil tersebut bisa menjadi indikasi permintaan meningkat pada bulan-bulan berikutnya.

Sepanjang tahun ini, Gapmmi memproyeksi industri mamin bisa tumbuh di atas 10% atau lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 9,23%.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kuartal II-2018, pertumbuhan industri mamin mencapai 8,67%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,27%. Bahkan, sektor ini memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, yakni sebesar 35,87%.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, PMI Indonesia yang naik menjadi momentum baik bagi pelaku industri untuk terus berekspansi. “Artinya, kami melihat industri manufaktur sedang bergeliat,” tegas dia.

Terlebih lagi, langkah pemerintah menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 terhadap 1.147 barang konsumsi impor dapat menjaga pertumbuhan industri dalam negeri, peningkatan penggunaan produk lokal, dan perbaikan neraca perdagangan.

Regulasi ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 110 tahun 2018 tentang Pembayaran atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang lain.

Data PMI yang dirilis oleh Nikkei merupakan ukuran kinerja sektor manufaktur yang berasal dari hasil survei sebanyak 400 perusahaan. Adapun lima indikator indeks yang menjadi bobot penilaian, yaitu pesanan baru, hasil produksi, jumlah tenagakerja, waktu pengiriman dari pemasok bahan baku, dan stok barang yang dibeli. (leo)

 

 
Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM