BERITA INDUSTRI

Kemenperin Dorong Peningkatan Investasi Manufaktur


Sumber: Investor Daily (30/05/2018)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus aktif mendorong peningkatan investasi di sektor manufaktur. Upaya ini diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional serta membawa efek positif yang luas guna menciptakan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Selama ini, industri menjadi penggerak utama dalam mengakselerasi per tumbuhan ekonomi nasional, sekaligus berperan sebagai tulang punggung bagi ketahanan ekonomi nasional dengan berbasis sumber daya lokal,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menperin mengaku, pihaknya gencar menarik para investor industri dalam dan luar negeri agar menambah penanaman modalnya di Indonesia, baik itu bentuk investasi baru maupun perluasan usaha atau ekspansi.

“Investasi ini kami harapkan dapat memperkuat struktur industri di Tanah Air dan bisa menjadi substitusi bahan baku impor,” jelas dia.

Melalui penanaman modal tersebut, tambah dia, manufaktur juga membawa multiplier effect pada perekonomian nasional seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor. “Maka dari itu, kami fokus pada program hilirisasi industri,” ujar dia.

Berdasarkan data Kemenperin, investasi sektor industri manufaktur sepanjang kuartal I-2018 mencapai Rp 62,7 triliun. Realisasi ini terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 21,4 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar US$ 3,1 miliar.

Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi Rp 22,7 triliun. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan investasi di sektor industri pada periode tahun 2011-2017, untuk PMA meningkat hingga 19,2%, sementara PMDN naik 17,1%.

“Rata-rata kontribusi investasi (PMA dan PMDN) di sektor industri selama enam tahun belakangan tersebut, mencapai 45,8% dari total nilai investasi di Indonesia,” ungkap dia.

Menurut Menperin, upaya menarik minat investasi asing menjadi salah satu dari 10 langkah prioritas nasional dalammemasuki era revolusi industri keempat sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Hal ini dapat mendorong transfer teknologi kepada perusahaan lokal.

“Untuk meningkatkan investasi, Indonesia akan secara aktif melibatkan perusahaan manufaktur global, memilih 100 perusahaan manufaktur teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif yang menarik, dan berdialog dengan pemerintah asing untuk kolaborasi tingkat nasional,” papar dia.

Guna menggenjot investasi di sektor industri, kata Menperin, beberapa strategi yang telah dilakukan adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku.

Kemenperin juga telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai terobosan fasilitas insentif baru bagi kegiatan investasi dalam bentuk super deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan litbang dan vokasi serta pengurangan PPh bagi industri padat karya yang mampu menyerap lebih dari 1000 orang.

“Dan, yang juga penting dalam upaya meningkatkan investasi adalah pemerintah fokus menciptakan iklim usaha yang kondusif sertamemberi kemudahan terhadap perizinan usaha. Hal ini sejalan amanat Peraturan Presiden No. 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha,” tutur dia.

Lebih lanjut, Menperin mengatakan, pihaknya juga terus mendorong peningkatan kapasitas produksi serta akses kemudahan dalam upaya memperluas pasar produk industri, baik di pasar domestik maupun ekspor.

“Jika pasarnya optimal, produksinya juga bisa lebih maksimal. Oleh karena itu, Kemenperin semakin gencar meningkatkan kinerja industri berorientasi ekspor,” ungkap dia.

Pada kuartal I-2018, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 32 miliar atau naik 4,5% dibanding capaian pada periode yang sama tahun lalu US$ 30,6 miliar.

Adapun tiga sektor manufaktur dengan nilai ekspor terbesar pada kuartal I-2018, yaitu industri makanan yang mencapai US$ 7,42 miliar, industri logam dasar US$ 3,68 miliar, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia US$ 3,25 miliar.

Negara tujuan ekspor utama Indonesia antara lain adalah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, dan Singapura. Beberapa waktu lalu, sejumlah produk industri manufaktur Indonesia diekspor secara langsung (direct call) ke Amerika Serikat denganmenggunakan kapal kontainer berukuran besar, yang nilai ekspornya mencapai US$ 11,98 Juta. (ajg)

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM