BERITA INDUSTRI

Lion Air Kaji Bangun Pabrik Ban


Sumber: Bisnis Indonesia (28/05/2018)

JAKARTA - Lion Air Group, yang semula menjajaki pembangunan pabrik ban pesawat di Batam, kini melirik lokasi lain.

Presiden Direktur Batam Aero Technic (BAT), anak usaha Lion Air Group, I Nyoman Rai Pering menuturkan fasilitas pembuatan ban pesawat merupakan upaya optimalisasi bisnis di Indonesia. Apalagi saat ini belum ada manufaktur yang memproduksi ban baru untuk pesawat meski Indonesia kaya akan karet alam untuk bahan baku. BAT merupakan perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) "Lokasi [pabrik] belum diputuskan,” kata Rai, Minggu (27/5).

Meski berharap dapat membangun industri terpadu di Batam, Rai menyebutkan regulasi mengenai bea masuk membuat perusahaan untuk mengkaji lokasi lain.

"Kalau dibangun di Batam terkendala aturan custom. Kami masih menunggu fasilitas Aviaton Park di wilayah lain,” katanya.

Lion serius mengembangkan pabrik ban pesawat seiring dengan peningkatan kebutuhan internal grup. Apalagi, perusahaan terus menambah jumlah pesawat. Selain kebutuhan dari internal, pasar juga terbuka karena berbagai maskapai lain di dalam negeri terus melakukan ekspansi.

Berdasarkan data Center for Asia Pasific Aviation (CAPA) mengenai peringkat jumlah pesawat yang dimiliki oleh seluruh maskapai reguler di Asia Tenggara per Januari 2018, Lion Air Group menempati posisi pertama dengan 294 unit pesawat. Maskapai ini mengalahkan dua maskapai besar negara tetangga seperti Singapore Airlines dan Malaysia Airlines.

BAT beroperasi sejak 2014. Kawasan ini memiliki luas 28 hektare. Tahap pertama sudah berfungsi seluas 4 hektare, sedangkan fasilitas tahap dua mencapai 3 hektare. Pada tahap kedua ini akan dibangun dua hanggar dan gudang.

KEBUTUHAN BAN

Di Indonesia, selain Lion Air, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMF) juga memiliki rencana pendirian pabrik ban pesawat. Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto mengatakan bahwa pihaknya berencana membangun pabrik vulkanisir ban pesawat di Indonesia menyusul besarnya kebutuhan vulkanisir ban pesawat Tanah Air.

Selama ini, seluruh maskapai nasional, baik reguler maupun carter mengirimkan ban pesawat untuk divulkanisir di negara lain seperti Thailand, Malaysia dan Hong Kong.

"Kami berencana membangun tempat vulkanisir ban pesawat bekerja sama dengan perusahaan ban. Di Indonesia, kebutuhan vulkanisir ban pesawat besar sekali,” paparnya.

Di Indonesia terdapat sekitar 900-an pesawat sipil yang dioperasikan oleh 67 perusahaan penerbangan niaga dan 23 sekolah penerbangan.

Sebelumnya, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin Harjanto mengungkapkan potensi bisnis industri perawatan dan perbaikan pesawat di Indonesia pada 2025 akan mencapai US$2,2 miliar. Nilai ini naik signifikan dibandingkan dengan nilai bisnis pada 2016 sebesar US$970 juta.

"Industri MRO semakin kompetitif. Saat ini sudah mampu menyediakan berbagai jasa perawatan pesawat,” paparnya.

Kemenperin memperkirakan pada 2025 pasar perawatan pesawat dunia mencapai US$106,54 miliar. Asia Pasifik akan mencetak pertumbuhan terbesar, yakni 5,8% dibandingkan dengan Amerika Utara 0,9% dan Eropa 2,35%. (Hendra Wibawa)

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018