BERITA INDUSTRI

Insentif Tarik Modal


Sumber: Kompas (28/05/2018)

JAKARTA, KOMPAS – Investasi sektor industri manufaktur triwulan I-2018 mencapai Rp 62,7 triliun, terdiri dari Rp 21,4 triliun modal dalam negeri dan 3,1 miliar dollar AS modal asing. Adanya insentif fiskal dinilai menjadi salah satu daya tarik investor ke Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Sabtu (26/5/2018), berharap investasi dapat memperkuat struktur industri di dalam negeri. Catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sektor industri logam, mesin, dan elektronik tercatat menjadi kontributor terbesar investasi, yakni Rp 22,7 triliun dari total Rp 62,7 triliun.

Selama periode 2011-2017, investasi sektor industri untuk modal asing (PMA) rata-rata tumbuh 19,2 persen, sedangkan modal dalam negeri (PMDN) 17,1 persen. “Rata-rata kontribusi investasi PMA dan PMDN di sektor industri selama enam tahun belakangan mencapai 45,8 persen dari total nilai investasi di Indonesia,” kata Airlangga.

Investasi memiliki dampak ganda, mulai penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor. Investasi juga dapat mendorong transfer teknologi dan mendukung substitusi bahan baku impor.

Strategi mendorong investasi di sektor industri antara lain melalui optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal seperti pembebasan pajak dan keringanan pajak. Kemenperin juga mengusulkan terobosan fasilitas insentif baru ke Kementerian Keuangan. Usulan insentif itu antara lain ditujukan bagi kegiatan investasi yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, sekitar 90 persen bahan baku di industri farmasi hingga saat ini masih diimpor.

Menurut dia, pertumbuhan industri farmasi saat ini bagus, yakni 7,36 persen di triwulan I-2018. Tercatat 43 proyek penanaman modal di sektor ini. Rinciannya, 20 proyek PMDN senilai Rp 269,431 miliar dan 23 proyek PMA dengan nilai investasi Rp 1,4 triliun.

Penguatan riset

Achmad Sigit mengatakan, pemerintah juga mendorong penguatan riset yang mengarah ke penggunaan bahan alami sebagai substitusi impor bahan baku industri farmasi. “Ini penting karena riset adalah kunci di industri farmasi. Menarik riset ke Indonesia sulit, makanya Kemenperin mengusulkan ada insentif fiskal untuk kegiatan riset dan pengembangan,” katanya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mendata sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran ada di urutan pertama dari lima besar realisasi investasi triwulan I-2018 berdasarkan sektor usaha. Realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp 27,6 triliun atau 14,9 persen dari total investasi triwulan I-2018.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia Sanny Iskandar ketika dihubungi Minggu kemarin mengatakan, sektor industri manufaktur yang menghasilkan produk sehari-hari dan dikenal baik konsumen mempunyai potensi pengembangan.

“Hal ini karena potensi pasar dalam negeri yang besar dan belum terpenuhi dari produksi nasional. Selain itu juga tingkat pendapatan masyarakat dari kelompok menengah yang mengalami kecenderungan kenaikan dari tahun ke tahun,” kata Sanny.

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018