BERITA INDUSTRI

Pemerintah Jajaki Perjanjian Bilateral dengan AS


Sumber: Investor Daily (17/5/2018)

JAKARTA – Pemerintah berupaya membuat perjanjian dagang khusus dengan Amerika Serikat (AS) untuk menghapus tarif bea masuk (BM) industri. Saat ini, beberapa produk manufaktur Indonesia dikenai tarif BM berkisar 10-20%.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto berharap, dengan adanya kerja sama bilateral, tarif BM komoditas ekspor Indonesia ke AS bisa dihapuskan atau nol persen. Pasalnya, BM ekspor Thailand dan Vietnam ke Negeri Paman Sam tersebut sudah 0%.

“Tren perdagangan Indonesia dan AS, positif dan naik terus. Direct call (ekspor langsung) akan didorong kalau ekonomi kedua negara bisa melakukan early harvest. Mereka produksi kapas dan gandum, dan bisa dibarter dengan produk sepatu ataupun tekstil kita,” ujar dia di Jakarta, Selasa (16/5).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, neraca perdagangan Indonesia dengan AS mengalami surplus selama dua tahun terakhir. Pada 2016, surplus sekitar US$ 8,47 miliar, sedangkan 2017 US$ 9,44 miliar.

Ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$ 15,68 miliar pada 2016 dan naik menjadi US$ 17,14 miliar pada 2017. Dengan adanya perjanjian perdagangan internasional, Menperin meyakini, eksportir Indonesia mendapatkan peluang lebih besar untuk semakin memperkenalkan dan menjual produknya ke berbagai belahan dunia.

“Upaya ini juga akan menjadi pemicu naiknya produktivitas dan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri,” jelas dia.

Setelah AS, Menperin menambahkan, pihaknya bakal membidik pasar ekspor langsung dari Jakarta menuju Rotterdam, Belanda, yang menjadi pintu masuk ekspor ke Eropa. Dengan direct call, biayanya bisa bersaing.

Menurut Airlangga, salah satu komoditas nonmigas yang diutamakan untuk terus tembus ke pasar ekspor Eropa adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, tekstil dan produk tekstil, serta alas kaki.

“Ini tergantung perkembangan produknya itu sendiri. Kami harap CPO tidak lagi dihambat di Eropa,” tegas dia.

Di sisi lain, sejumlah produk industri manufaktur Indonesia diekspor secara langsung (direct call) ke AS. Direct call adalah sistem pelayaran langsung peti kemas dari pelabuhan domestik ke pelabuhan tujuan di luar negeri tanpa singgah di pelabuhan manapun.

Airlangga Hartarto mengatakan, pengiriman ini bisa lebih cepat sampai, sehingga akan mendorong peningkatan daya saing produk Indonesia di AS. Ekspor langsung ke AS tersebut mencapai US$ 11,98 juta.

Pengiriman langsung ini bisa menghemat biaya logistik hingga 20%. Selain itu, pengiriman lewat Singapura memakan waktu 31 hari, sedangkan direct call hanya 23 hari. “Jadi, lebih murah berkisar US$ 300 setiap kontainer, dibandingkan perjalanan melalui Singapura,” ujar Airlangga.

Adapun produk nonmigas yang diekspor, kata dia, meliputi alas kaki sebesar 50%, garmen 15%, produk karet, ban, dan turunannya 10%, elektronik 10%, serta produk lainnya, seperti kertas, ikan beku, dan suku cadang kendaraan 15%.

Para eksportir yang terlibat dalam direct call itu antara lain Buma Apparel Industry, Nikomas Gemilang, Parkland World Indonesia, Mattel Indonesia, Dilmoni Citra Mebel Indonesia, Gajah Tunggal, Multistrada Arah Sarana, Indonesia Epson Industry, dan Samsung Electronics Indonesia.

Selanjutnya, Komatsu Undercarriage Indonesia, Koyorad Jaya Indonesia, Maxindo Karya Anugerah, dan Indo Porcelain. “Seluruhnya produk manufaktur, bukan komoditas mentah,” tegas Menperin.

Hal ini, kata dia, juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengoptimalkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memacu devisa negara melalui peningkatan ekspor. Kegiatan ini menunjukkan iklim usaha di Indonesia berjalan baik, yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Komoditas nonmigas yang diekspor tersebut diangkut menggunakan kapal CMA CGMTage berkapasitas 10 ribu twenty-foot equivalent units (TEUs). Kapal berbobot sebesar 95.263 gross tonnage (GT) dan panjang hingga 300 meter ini merupakan satu dari beberapa kapal raksasa yang kini secara rutin berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

“Pengiriman sekarang ini sebanyak 4.300 TEUs. Ke depan, kami akan terus dorong untuk semakin bertambah,” kata Airlangga. (ajg)

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018