BERITA INDUSTRI

Industri Bahan Baku Dipacu


Sumber: Republika (17/5/2018)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong tumbuhnya investasi di sektor industri yang memproduksi bahan baku dan penolong. Sektor industri ini perlu didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Harris Munandar mengatakan, investasi didorong masuk ke sektor-sektor industri strategis yang produknya bisa mengurangi ketergantungan impor bahan baku, salah satunya industri kimia. Produk-produk dari industri kimia dapat digunakan secara luas untuk sektor lainnya, antara lain, industri elektronika, farmasi, dan otomotif. "Intinya, kita dorong investasinya, baik di industri hulu maupun industri antara," ujar Harris kepada Republika, Rabu (16/5).

Selain itu, lanjut Harris, pemerintah juga mendorong agar investasi masuk ke sektor industri yang produknya bisa menyubsti-tusi bahan baku impor. "Kita sedang kembangkan rayon yang bisa menyubstitusi bahan baku impor untuk industri tekstil," kata Harris.

Namun begitu, kata dia, ada sejumlah bahan baku yang memang harus tetap diimpor, salah satunya, terigu yang merupakan bahan utama pembuat mi instan.

Industri di dalam negeri tidak memproduksi terigu karena Indonesia bukan negara penghasil gandum. "Kalau bahan baku yang tidak bisa disubstitusi, ya kita tetap harus mengimpor," kata dia.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno memandang, kenaikan impor pada April lalu merupakan salah satu sinyal yang menunjukkan bahwa beberapa industri intermediate goods (antara) di Tanah Air sulit berkembang. Sehingga, industri hilir masih harus melakukan impor.

Menurut Benny, salah satu faktor yang menghambat industri antara untuk berkembang adalah regulasi perpajakan di Tanah Air yang belum sepenuhnya mendukung dan memudahkan pelaku industri. "Mungkin, sistem perpajakan yang mendorong industri lebih suka impor dalam memenuhi kebutuhan bahan baku atau bahan penolong," ujarnya.

Beberapa industri, menurut Benny, memang lebih memilih untuk mengimpor karena bahan baku dari luar harganya lebih kompetitif. Secara umum, ia melihat kenaikan impor pada April 2018 lalu masih dalam tahap yang wajar.

Jika melihat data impor bahan baku dan bahan penolong selama periode Januari-Maret 2018, ada peningkatan 18,35 persen. Benny

menyebut, kenaikan ini masih relatif seimbang dengan pertumbuhan indeks produksi industri pengolahan nonmigas yang juga naik 5,03 persen secara tahunan.

Dia berharap, kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong pada April menjadi pertanda baik bagi meningkatnya aktivitas produksi industri nasional. "Khususnya, untuk memenuhi permintaan produk jadi masyarakat menjelang Lebaran," kata dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terjadi kenaikan nilai impor yang signifikan pada April 2018, yaitu sebesar 11,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara, jika dibanding April 2017, impor meningkat 34,68 persen.

Impor bahan baku dan penolong memiliki porsi lebih dari 70 persen terhadap total impor. Per April 2018, impor bahan baku atau penolong mencapai 11,96 mi-liar dolar AS. Porsi terhadap total impor mencapai 74,32 persen. Nilai impor bahan baku dan penolong naik 10,73 persen secara bulanan dan 33 persen secara tahunan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, peningkatan impor terjadi pada bahan baku industri. la menilai, hal itu wajar karena industri harus meningkatkan produksinya demi memenuhi konsumsi masyarakat yang tinggi. • ed: satria kartika yudha

HALIMATUSSA'DIYAH

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM