SIARAN PERS

Kemenperin Bangkitkan Kembali Kejayaan Sentra IKM Logam Bugangan


Kementerian Perindustrian tengah berupaya membangkitkan kembali kejayaan sentra industri kecil dan menengah (IKM) penghasil produk logam di Semarang, Jawa Tengah khususnya yang berlokasi di Kelurahan Bugangan. Sejak tahun 1970-an, pusat pengrajin logam di kota Semarang itu memberikan kontribusi signfikan pada kemajuan IKM logam dalam negeri dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.


Di sentra logam Bugangan ini terdapat 56 IKM yang memproduksi mesin pengolahan pangan dan peralatan rumah tangga, bahkan sudah ada yang mampu membuat mesin cuci dan ekskavator mini,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih ketika melakukan kunjungan kerja di Sentra IKM logam Bugangan, Semarang, Jawa tengah, Jumat (6/4).


Pada kesempatan tersebut, Dirjen IKM juga menyempatkan berdialog dengan 120 pengrajin logam yang berasal dari Bugangan serta wilayah lainnya di Jawa Tengah. “Sentra IKM logam di seluruh Indonesia, sebanyak 390-an, dengan total penyerapan tenaga kerja lebih dari 13.000 pengrajin,” ungkap Gati.


Sedangkan, saat ini di Jawa Tengah terdapat sekitar 20 sentra IKM logam yang tersebar di beberapa wilayah seperti Klaten, Ceper, Boyolali, Purbalingga, Pati, Tegal dan Kudus. Produk-produk unggulan dari mereka sudah ada yang dipasok untuk memenuhi kebutuhan komponen bagi perusahaan manufaktur besar di Indonesia, seperti sektor industri otomotif.


“Dahulu, Bugangan terkenalnya disebut sebagai daerah industri kalengan,” ucap Gati. Pasalnya di sentra tersebut, menghasikan produk ember seng, kompor minyak, panci, dandang, oven, bahkan gerobak sampah. Seiring perkembangan zaman, pengrajin ada yang berinovasi membuat mesin cuci berukuran besar. “Harga mesin cucinya lebih murah dari produksi industri besar, juga hemat listrik,” imbuhnya.


CV. Mutiara Cemerlang, IKM logam Bugangan milik Muchamad Nashirin yang menghasilkan mesin cuci ini mampu meraih omzet penjualan sampai Rp200 juta per bulan dengan jumlah tenaga kerja sembilan orang. Mereka memenuhi pesanan sebanyak 817 pelanggannya yang berasal dari seluruh Indonesia.


Selain itu, Alberindo atau Alat Berat Indonesia, IKM logam milik Kasmin Riyadi yang telah berdiri sejak  tahun 2016 ini berhasil menciptakan ekskavator mini. Dengan mempekerjakan lima orang karyawan, Kasmin membuat alat berat yang memiliki bobot sebesar 500 kilogram itu bisa diselesaikannya dalam waktu satu sampai dua bulan.


Dalam memenuhi komponen bahan baku utama seperti motor hidrolik dan perangkat kabel, Kasmin mendapatkannya dari Polandia dan Italia, sedangkan besi kerangkanya asli Indonesia. Satu unitekskavator mini atau bertipe PC 70 ini dibanderol dengan harga Rp250 juta. Jika dibandingkan dengan produk impor sejenis, ekskavator yang dinamai Kasmino ini harganya lebih murah lima puluh persen.


Program pengembangan IKM


Gati memberikan apresiasi terhadap inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh para pelaku IKM nasional, termasuk pengrajin logam Bugangan. Bahkan, pihaknya akan berupaya memfasiitasi ekskavator Kasmino bisa ikut dipamerkan pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, Agustus mendatang.


“Dalam waktu dekat, ekskavator buatan Kasmin ini akan kami pamerkan dalam GIIAS 2018, agar para pengunjung dapat mengetahui produk inovasi buatan anak bangsa sehingga bisa dikenal baik nasional maupun mancanegara,” paparnya.


Selain melalui fasilitasi pameran, baik di tingkat domestik dan internasional, Kemenperin juga telah membangun infrastruktur digital e-Smart IKM guna memperluas pasar di tengah berkembangnya era Industri 4.0. “Dalam kesempatan ini, kami mengundang dari Tokopedia sebagai salah satu marketplace dalam negeri untuk memberikan sharing knowledge mengenai pemasaran secara online. Jadi, para pengrajin ini bisa mengetahui cara foto, upload, dan jualan di online,” tuturnya.


Tak hanya itu, Kemenperin juga memfasilitasi pemberian sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan hak paten merek agar produk IKM dapat lebih berdaya saing baik di pasar domestik maupun ekspor. “IKM harus menjaga mutu bahan baku hingga teknologi mesin dan peralatan yang akan digunakan, juga harus memperhatikan keterampilan sumber daya manusia (SDM) yang bekerja,”terang Gati.


Sejalan dengan hal tesebut, Kemenperin memiliki program restrukturisasi mesin dan peralatan IKM, di mana mereka bisa mendapatkan potongan harga sampai dengan 30 persen atas mesin dan peralatan produksi yang dibelinya. “Kami juga memberikan bimbingan teknis serta fasilitasi sertifikasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang ditujukan bagi para SDM di IKM,“ ujarnya.


Untuk menghadapi pertarunganpasar yang semakin kompetitif saat ini, menurut Gati, IKM dalam negeri dituntut mampu bersaing di pasar lokal maupun global. “Salah satu strategi yang bisa dilakukan IKM adalah dengan membangun kemitraan dengan industri besar.Ini merupakan salah satu upaya efektif untuk membangun IKM nasional yang mandiri,” jelasnya.


Gati berharap, para pelaku IKM nasional dapat memanfaatkan program-program pengembangan IKM tersebut. Selanjutnya, diperlukan langkah sinergi antara pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan pihak-pihak terkaitdan masyarakat untuk terus menumbuh kembangkan industri dalam negeri.


Pengembangan sektor IKM dalam negeri telah lama berperan penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Kemenperin mencatat, jumlah unit usaha IKM di dalam negeri terus mengalami peningkatan setiap tahun. Misalnya, pada tahun 2013, sebanyak 3,43 juta IKM, naik menjadi 3,52 juta IKM pada tahun 2014. Kemudian, mampu mencapai 3,68 juta IKM di tahun 2015, dan bertambah lagi hingga 4,41 juta tahun 2016. Pada tahun 2017 jumlah IKM diperkirakan lebih dari 4,5 juta unit usaha.


Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018