BERITA INDUSTRI

Pemerintah Bentuk Komite Industri Nasional


Sumber : Investor Daily (02/04/2018)

JAKARTA – Pemerintah segera membentuk Komite Industri Nasional untuk mengimplementasikan pengembangan revolusi industri keempat atau Industri 4.0. Keberadaan komite ini dibutuhkan untuk memperkuat kerja sama dan memfasilitasi penyelarasan di antara kementerian dan lembaga terkait dengan para pelaku industri dalam negeri, agar Indonesia mampu kompetitif memasuki era digital tersebut.

“Komite industri nasional ini dipersiapkan untuk menyongsong era digital. Jadi, memang dibutuhkan koordinasi, baik itu terkait dengan harmonisasi regulasi, insentif-insentif fiskal, dan juga infrastruktur telekomunikasi,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Minggu (1/4).

Menperin menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, dimungkinkan untuk membentuk komite tersebut yang akan dipimpin langsung oleh Presiden dan dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. “Rencananya dibuatkan Peraturan Presiden (perpres), sama seperti inisiasi kami mengenai tingkat komponen dalam negeri (TKDN), yang juga dibentuk tim untuk evaluasi,” jelas dia.

Dalam pelaksanannya, kata Menperin, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi guna menerapkan sejumlah strategi Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0. “Dalam pengembangan roadmap ini, kita tidak tergantung hanya satu kementerian, tetapi berbagai kementerian harus bersinergi,” ungkap dia.

Kemenperin menjadwalkan peluncuran peta jalan itu pada 4 April 2018. “Roadmap ini menjadi kesiapan kita di era industri digital hingga tahun 2030,” ujar Menperin.

Menurut dia, salah satu strategi Indonesia memasuki Industri4.0 adalah menyiapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan untuk memperkuat fundamental struktur industri Tanah Air. Kelima sektor tersebut yaitu, industri makanan dan minuman (mamin), industri otomotif, industri elektronik, industri kimia, serta industri tekstil.

“Implementasi Industri 4.0 akan membawa peluang besar untuk merevitalisasi sektor manufaktur nasional danmenjadi akselerator dalammencapai visi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030,” papar dia.

Dengan menerapkan Industry 4.0, Menperin optimistis, target besar nasional dapat tercapai. Target itu secara garis besar antara lain, membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030, mengembalikan angka ekspor netto industri sebesar 10%, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibanding peningkatan biaya tenaga kerja.

Target lainnya adalah, peningkatan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25% dan adanya tambahan lapangan pekerjaan serta pengalokasiaan 2% dari PDB untuk aktivitas penelitian dan pengembangan (research & development/R&D) teknologi dan inovasi, atau naik tujuh kali lipat dari saat ini. “Dengan adanya implementasi roadmap ini, akan membuat industri meningkatkan investasi dan melakukan ekspansi, sehingga lapangan kerja baru akan terbuka,” ujar dia.

Menperin menambahkan, langkah dasar yang sudah diawali oleh Indonesia dalam kesiapan memasuki era Industry 4.0 yakni, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program link and matchantara pendidikaan dengan industri. “Upaya ini bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan di dunia industri saat ini,” kata dia.

Peluang Kerja Baru

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara sebelumnya mengatakan, penerapan sistem Industri 4.0 dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi tinggi. Untuk itu, dibutuhkan transformasi keterampilan bagi sumber daya manusia (SDM) industri di Indonesia yang mengarah kepada bidang teknologi informasi. “Studi yang dilakukan terhadap industri yang ada di Jerman menunjukkan, permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan hingga 96%, khususnya di bagian R&D dan pengembangan perangkat lunak (software),” kata Ngakan.

Menurut dia, akan terjadi shiftingpekerjaan karena penerapan Industri 4.0. Pekerjaan nantinya tidak hanya di manufaktur, tetapi berkembang ke rantai pasok, logistik, serta R&D. Selain itu, sektor manufaktur perlu me-rescaling atau up-scaling untuk memenuhi kebutuhan.

Dengan penggunaan teknologi terkini dan berbasis internet, menurut Ngakan, muncul pula permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri. “Bahkan, ada beberapa potensi keuntungan yang dihasilkan sebagai dampak penerapan konsep Industri 4.0,” ujar dia.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM