BERITA INDUSTRI

Antam Jajaki Produksi Baterai Nikel


Sumber : Bisnis Indonesia (29/03/2018)

JAKARTA - PT Aneka Tambang Tbk. menjajaki bisnis produksi baterai untuk kendaraan listrik berbahan nikel berkadar rendah untuk kendaraan listrik.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan penjajakan ini setelah pihak perusahaan melihat peningkatan pemanfaatan nikel laterite ore oleh Posco New Nickel Extraction Process (Posnep).

"Di Posnep sendiri masih memasuki tahap pilot project," kata Arie, Rabu (29/3).

Pengolahan nikel menjadi baterai ini akan memberikan nilai tambah yang besar bagi perusahaan. Bahan baku di pilot project di Posnep menggunakan nikel laterit dari Antam.

Jenis ini merupakan nikel dengan kadar rendah yang seringkali tidak termanfaatkan ketika harga komoditas relatif rendah.

Arie tidak merinci bentuk pengembangan yang akan dilakukan perusahaan dan nilai investasi yang dapat ditanamkan perusahaan untuk peningkatan nilai tambah ini.

Seiring dengan perkembangan mobil listrik, permintaan akan nikel ikut terdongkrak. Baterai dengan kandungan Nickel Metal Hydride (Ni-MH) banyak digunakan oleh pengembang utama mobil listrik.

Baterai jenis ini memiliki bobot yang lebih berat, daya tahan energi yang tinggi hingga dikategorikan lebih aman dibandingkan dengan baterai jenis Lithium.

Sebagai gambaran, baterai Lithium saat ini banyak digunakan sebagai baterai ponsel dan pemanfaatan lainnya.

Nikel yang digunakan sebagai katoda baterai mobil listrik saat ini berasal dari jenis nikel berkadar tinggi. Adapun yang tengah dikembangkan oleh Posnep berasal dari nikel dengan kadar rendah.

Antam memiliki jatah ekspor nikel kadar rendah sebanyak 3,9 juta ton hingga Oktober 2018. Kuota ini berasal dari dua pengajuan yakni Maret 2017 dan Oktober 2017. Saat ini perusahaan juga tengah mengajukan kuota ekspor sebanyak 2,7 ton untuk ekspor hingga akhir 2018.

Arie mengungkapkan sejauh ini ekspor nikel dilakukan ke China dan sedikit porsi untuk Ukraina. Perusahaan berencana untuk memasuki pasar Jepang. "Kalau bauksit masih ke China saja," ujarnya.

NILAI TAMBAH

Kementerian Perindustrian terus mendorong lahirnya pabrikan baterai dengan komponen nikel. Pabrik baterai menjadi kunci utama terbentuknya ekosistem mobil listrik nasional.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Harjanto mengatakan pihaknya berharap industri nasional berperan besar dalam terbentuknya rantai nilai mobil listrik. Arah perkembangan industri otomotif dunia yang menuju kendaraan rendah emisi karbon juga harus memberi nilai tambah bagi Indonesia.

"Nikel di Indonesia banyak. Kami dorong dikembangkan dalam negeri [menjadi industri baterai mobil listrik]" kata Harjanto di Jakarta, Selasa (27/3).

Dia mengatakan saat ini sudah ada laporan yang masuk ke pemerintah tentang kemungkinan pembentukan perusahaan patungan ini. "Saat ini sedang dalam pembicaraan dengan partner lokal dari Indonesia," katanya.

Posco menjadi investor yang tertarik mengembangkan baterai mobil listrik di Indonesia. Saat ini, perusahaan sudah dalam tahap akhir setelah menyelesaikan penelitian di kantor pusatnya di Korea Selatan.

"Mereka sudah investasi riset dan pengembangan dengan biaya mencapai US$60 juta. Saat ini sedang dalam pembicaraan dengan partner untuk masuk ke Indonesia," katanya.

Saat ini, target utama pemerintah sesuai amanat undang-undang adalah hilirisasi industri. Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan hilirisasi industri juga didorong di sektor logam.

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter berbasis logam karena termasuk dari 10 besar negara di dunia dengan cadangan bauksit, nikel, dan tembaga yang melimpah.

Pengembangan industri berbasis mineral logam khususnya pengolahan bahan baku bijih nikel difokuskan di kawasan timur Indonesia, termasuk Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara.

Hingga akhir 2017 lalu terdapat 34 proyek industri smelter dengan total investasi mencapai Rp752,62 triliun. Industri smelter itu terdiri dari pengolah bijih besi, bijih nikel, bijih bauksit, konsentrat tembaga, stainless steel, dan aluminium.

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018